You are the only Inception

its kinda cliché to review this movie..

I mean, d’ohhh its definitely good… hell, its great!  But yeaa for some poor souls out there who don’t know why is it amazing; I’ll write several reasons why Nolan is such a genius.

And of course, since my English is a bit puckish, I’ll stick to my mother tongue.

Inception, seperti layaknya karya orisinil Nolan lainnya (Batman series tidak bisa dikatakan seratus persen murni buah pikirnya), Membangun dunia yang sureal, dunia nyata yang diselip selipkan dengan imajinasi yang ‘seolah olah’ sains, sehingga kita tidak bisa mengkategorikannya sebagai khayal secara penuh. Jika dibandingkan dengan The prestige (2006), kali ini Nolan membawa unsur ‘seolah sains’ nya dengan lebih kental, lebih penuh, terutama berkat dialog dialog yang memberondong penonton dengan Rush of semi fictional facts. Poin ini amat terasa ketika Cobb mengajarkan Ariadne mengenai bagaimana membangun arsitektur mimpi serta fakta tentang mimpi itu sendiri dengan intensitas pengajaran yang cepat, yang entah mengapa tetap mudah ditangkap oleh sang murid.

Kemudian karakter karakter dengan pekerjaan spesifik yang tentunya tidak mungkin ada pun bermunculan, dan dikenalkan secara cukup mulus, mengemban informasi informasi khayal sesuai deskripsi kerja mereka masing masing. Ditambah lagi ketika ternyata tokoh antagonisnya pun sadar akan keberadaan praktek intervensi mimpi dan sudah ‘Menyiapkan diri’ dengan membangun subconscious armies dalam mimpinya. Absurd memang, tapi secara mengejutkan cukup mudah dinikmati.

Film ini, untuk para analis realita, adalah film yang bisa dibilang lebih mengerikan dari film thriller, horror, bahkan slasher. Karena film ini menyajikan sebuah fiksi akan mana yang nyata dan mana yang mimpi dengan rapi, its almost believable. Mungkin salah satu film yang dengan keras mengaduk-aduk konsep realita selain Inception adalah trilogi Matrix yang mencoba memberi pemikiran alternatif akan ‘Real reality’ (saya mereferensikan pada trilogi ini karena inilah yang cenderung paling pop dan dikenal)

Bagi yang sudah menonton, tentunya banyak konsep menarik dari Inception. Dari romansa hingga pendalaman abstrak akan dunia mimpi, juga kemungkinan twist seperti setelah adegan Cobb dan timnya bertemu Yusuf, gasing Cobb tidak pernah ia putar hingga berhenti dan menimbulkan pertanyaan di akhir, ‘apakah Cobb pernah terbangun sama sekali dari kursi basement Yusuf?’. Tapi di sisi lain, Nolan membawa detil konsep yang jika ditelaah, sama menariknya dengan kulit luar perjalanan plot film ini.

Setting dari mimpi setiap orang amatlah berbeda, dan mereka semua beralasan. Layer pertama dari mimpi mereka adalah mimpi Yusuf, dan disana hujan turun dengan deras. Alasan dari ini adalah karena Yusuf, percaya atau tidak, ingin buang air kecil (ha ha). Kemudian lapis kedua adalah mimpi Arthur. Kali ini karakter lah menggambarkan mengapa mimpi ini ber setting kan di hotel, yaitu kesan classy yang selalu dibawa olehnya. Begitu pula di lapis selanjutnya, gunung ber salju tebal sebagai representasi dari jiwa Fischer yang dingin imbas dari perlakuan kaku sang ayah.

Fakta, bagi Nolan, entah mengapa harus diteteskan perlahan, bahkan seringkali tidak datang sebagai pelengkap melainkan menimpa fakta fakta sebelumnya. Pengubahan paradigma sebagai konsekuensi ini yang mungkin menjanjikan sensasi yang sulit untuk ditiru tanpa adanya perunutan yang hati hati oleh peracik adegan. Cukup mengejutkan ketika prosesi Inception (penanaman ide) – cenderung radikal jika dibandingkan dengan proyek ekstraksi ide yang biasa mereka lakukan – ternyata berani Cobb lakukan karena ia telah melakukannya pada Mal. Namun menjadi begitu tragis ketika proses ini ternyata gagal. An Idea is like a virus, resilient, highly contagious. Paling tidak dua kali kalimat itu ia katakan. Karena berkat premis ini. Berkat kegagalannya, ia membunuh istrinya sendiri.

Dalam proses kisah cintanya bersama Mal, beberapa ide yang menarik dari Nolan terasa begitu menakjubkan. Penimpaan fakta dalam flashback Cobb, ketika ia bergandengan tangan dengan Mal sebagai dua muda mudi, dibersitkan di akhir sebagai tangan yang telah tua. Mereka telah hidup selama satu periode dalam mimpinya. They did grow old with each other. Mengisyaratkan dua hal. Bahwa manusia, berbeda dengan paham psikologi pada umumnya, secara mental sanggup untuk hidup lebih lama dengan memori dan pribadi yang sama. ‘Jiwa yang tua’ tidak selamanya harus mati. Terbukti Cobb, mengalami ini dan mampu hidup kembali sebagai seorang pemuda. Yang kedua, dan yang mungkin lebih menarik adalah bahkan dalam bawah sadar, jiwa kita ingin untuk menua. Mereka (Cobb dan Mal) bertambah umur selayaknya manusia normal bahkan dalam mimpinya.

Its like saying that the concept of ‘wanna be Young forever’ is not for everybody

Inception pada akhirnya adalah sebuah film yang memberikan dampak lebih luas dari sekedar kata kata. Film ini membawa satu atau lebih ide, dan ya… ide ide tersebut mencemari pikiran. Minimal pikiran saya.

“You never really remember the beginning of a dream do you?” — Cobb

So do you remember the beginning of your life?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s