The Woman in black (Fortune Theater, London)

Dua orang.

Dua orang saja beradu dialog juga monolog, melakoni sebuah pementasan yang begitu padat kata kata.

The Woman in black dipentaskan dua jam lamanya.

Malam yang ramai untuk Fortune Theater. Sebuah tempat (bernama sama) yang dulu juga pernah di dirikan di daerah Barbican, sebuah tempat (di Barbican) yang mahsyur karena jejak serta sajak Shakespeare terasa kental tertinggal di dinding dindingnya.

Tapi mungkin malam malam setiap gedung teater London memang selalu ramai.

Baik untuk pementasan yang juga ramai – meriah. Atau untuk pementasan yang bertemakan sepi seperti kali ini.

Tawa renyah penonton menyambut potongan adegan pembuka yang cukup unik. Keberadaan seorang tua membawa buku penuh trauma, mendatangi konsultan akting agar bisa dengan lancar menceritakan isi buku itu pada dunia. Demi megakhiri ketakutan ujarnya.

Sebuah komedi mengawali perjalanan horifik ini

Berangkat dari sana, bentuk yang unik berubah menjadi luarbiasa menarik. Sebuah akting di dalam akting. Mereka mencoba menghidupkan kembali isi buku yang merupakan sepenggal masa lalu sang tua, dengan bermain peran. Sang konsultan menjadi si kakek muda. Sang kakek, dengan kemampuan akting yang pas pas an di awal, mendadak menjadi maestro, memerankan seluruh karakter lain yang bersentuhan dengan diri muda nya.

Paling sedikit lima karakter ia mainkan dalam durasi waktu dua jam. Juga tidak kalah mencengangkan, adalah intensitas rentetan kata juga ekspresi yang terus menerus dilepaskan oleh konsultan muda dalam durasi serupa.

Hanya dua orang saja. Dua orang untuk dua jam.

Di sisi lain teater ini terbilang menghibur. Dengan kecepatan yang diatur amat hati hati. Dibocorkannya sedikit demi sedikit berbagai aspek yang memicu ketegangan juga keterpukauan penonton. Ditambah dengan pemilihan bahasa yang indah namun tetap bisa dimengerti. Saya tidak melihat perenungan. Saya merasakan sebuah sensasi rasa senang. Inilah pementasan yang menggelora. Tidak bodoh atau penuh cahaya, tapi juga tidak membuat sakit kepala.

Mungkin karena itulah distrik teater London senantiasa dipenuhi “penikmat penikmatnya”. Karena mereka datang – seperti namanya – untuk menikmati. mereka datang untuk tenang. Sejenak pergi dari gelisah dunia, bukan untuk terjerumus kembali dalam perenungan. Sebuah teater sebagai penggugah mata lalu pikiran. Bukan hanya salah satunya.

Namun saya terasa terlalu banyak memuji kali ini. Mungkin karena ini London. Mungkin karena buaian pemandangan gedung teater berjumlah belasan yang melonjakkan setiap perasaan. Mungkin karena mimpi. Mungkin karena hembusan angin dingin di Oxford street yang menyanyikan melodi kesendirian perjalanan pulang yang begitu indah.

Terlalu indah hingga membuat saya enggan menodai malam ini dengan kutuk.

se sedikit apapun itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s