The beaver

Saya tidak pernah menyangka bahwa film tentang kegilaan bisa terasa semanis ini.

Saya pun tidak pun menyangka bahwa Jodie Foster adalah sutradara yang sebaik ini.

Ini adalah kisah tentang Walter black. Seorang individu tanpa harapan. Seorang individu yang mengalami depresi besar.

Ia kehilangan dirinya sendiri. Ia hilang, lalu di puncaknya, keluarga nya pun membuangnya dalam ketakutan akan ikut hilang tersedot dalam hari hari tanpa arahnya.

Lalu di ujung keterpurukannya, di ujung beranda hotel tempat walter siap mengakhiri tubuhnya, sang berang berang datang.

Hanya butuh waktu beberapa belas menit waktu film untuk sang berang berang berhasil mengubah hidup Walter dari kehancuran menuju kemasyhuran. Kehidupan Walter menjadi begitu indah, dengan berbagai kesuksesan yang kembali ia dapatkan.

‘Kehidupan Walter’? Bukan. Walter telah hilang. Mungkin terlalu lama. Dan ia sama sekali tidak kembali. Berang berang nya lah yang meledakkan gempita kesuksesannya dengan kemampuan berbicara bak motivator handal. Boneka di tangan kirinya seolah berhasil menghipnotis seluruh bagian kehidupan Walter –termasuk dirinya sendiri- lalu menarik mereka ke dalam sebuah mimpi indah yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Plot, selain akting kedua tokoh utama nya yang tentunya tidak perlu diragukan, saya rasa adalah kekuatan penting dari film ini. Ketika sebuah perkembangan cerita standar akan menghadirkan sebuah tokoh jenuh dan terpuruk di awal dengan solusi di penghujung cerita, The Beaver mendatangkan solusi itu di fase introduksi. Tentunya, tidak begitu saja kisah ini diakhiri. Apa yang tadinya seolah menjadi  solusi didalami lebih lanjut, membuat sebuah penutup yang mengejutkan.

Dari segi teknis, detil menarik dari film ini adalah digambarkannya secara jelas bahwa Walter lah yang sedang berbicara ketika boneka berang berangnya berbicara. Ia tidak mendadak menjadi ventriloquist, juga tidak ada pemotongan dan akal akalan berlebih dari pengambilan sudut kamera. Walter berbicara sebagaimana ia berbicara, hanya dalam aksen yang berbeda, dan sesekali pergantian fokus kamera demi memberikan arahan bagi penonton. Saya rasa segi ini membuat The Beaver tidak kehilangan realismenya, strategi yang tepat dan sesuai dengan perkembangan plot yang telah dibangun.

Ada perang kepribadian dalam film ini. Walter Black vs. The Beaver yang paling terasa. Namun Walter pun berperang dengan sang istri. Ia pun berusaha menyesuaikan dengan anak bungsunya. Sang putra sulung, di sisi lain, berusaha menyadarkan dunianya yang diperwujudkan oleh seorang wanita, akan ideal idealnya, akan apa yang pribadinya miliki dan percayai. Dari semua perang ini, satu hal yang berusaha diceritakan. Bahwa pribadi adalah candu. Bahwa kadang, kita harus berbicara pada diri kita sendiri untuk bisa merekereasi diri. Tapi sampai kapan? Sampai kapan kita akan terus berbicara pada diri kita, tanpa memperdulikan apa yang sekeliling lihat akan sebenar-benarnya pribadi diri.

Sang berang berang adalah solusi yang baik. Sang berang berang, adalah seorang CEO mumpuni, suami idaman, ayah terbaik, juga teman yang tak tergantikan. Tapi sang berang berang bukanlah Walter, ia makhluk lain yang merupakan hasil dari dekonstruksi hidup yang berusaha Walter lakukan setelah sekian lama menyesali setiap aspeknya. Dan yang pasti, berang berang berkepribadian sempurna tersebut bukanlah apa yang keluarganya mau. Yang mereka inginkan adalah Walter yang berubah menjadi Walter yang baru. Bukan Walter yang menjadi sesuatu yang lain.

Pribadi lahir dari ekspektasi. Tapi manusia, tidak hanya hidup untuk ekspektasi.

Love who you are, not the dream of who you will be.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s