Super 8


To be able to let go of things. Itulah yang menjadi pesan utama dari super 8. Balutan tema science fiction dari film ini toh hanya sekedar menjadi bingkai indah pemberian dari J.J. Abrams.

Tentang beberapa anak umur belasan tahun dengan dipimpin seorang sutradara ambisius (dengan caranya) yang mencoba membuat sebuah film horror.

“production value”, itulah yang sang sutradara cilik coba cari untuk filmnya ketika ia mencoba mengambil adegan perpisahan romantis dengan sebuah kereta api beroperasi nyata sebagai latar belakang. Namun kali ini kesempatan itu punya wujud. Kesempatan itu amat marah. Lalu kesempatan itu secara harafiah dibebaskan.

Ciri khas J.J. Abrams masih terlihat disini. Ketertutupan di masa produksi, minimalisme pengetahuan terutama visual akan makhluk buatannya bahkan di sepanjang film, juga spesial efek yang tidak berlebih tetap ia pertahankan. Satu aspek berbeda dari super 8 adalah justru di besarnya proporsi lain yang disajikan dalam jalinan cerita. Ketika sebuah perkara besar sedang terbangun, karakter karakternya tetap berusaha menjalani hidup mereka. Konflik kecil antar teman sepermainan tetap terjadi, cinta dan emosi, juga egoisme serta berbagai gaya sok pamer seperti layaknya bocah seumur mereka terus diceritakan. Dengan tragedi sebagai latar belakang sekaligus pembuka film, serta hubungan anak dan orangtua yang beberapa kali diperlihatkan, terlihat jelas bahwa ia tidak mengisahkan sekedar aksi, atau juga konspirasi. Tapi ini tentang hati. Itulah aspek yang dititikberatkan di film ini.

Meski begitu, ketidak logisan tetap sesekali terlihat. Hal-hal filmis standar seperti highlight ekspresi berlebih, juga keberanian yang datang begitu saja, ditambah pesan kemanusiaan populer seperti ‘drugs is so bad’, terselip dengan sedikit tidak wajar dalam salah satu dialognya. Tokoh utama mendapatkan hati si cantik, orangtua mereka yang awalnya tak setuju tapi kemudian berbaikan, perlawanan dari ketertekanan sang tokoh utama yang  dibarengi pendalaman lebih dari kehidupannya, cukup menggambarkan bahwa di satu sisi film ini adalah film anak-anak.

Tapi toh keindahan tidak harus logis. Film anak anak bukan berarti tak layak ditonton. Dengan dilengkapi kejelian sudut-pengambilan gambar yang mendukung misteri perjalanan plot, Pembagian proporsi arketipe standar dan non konvensional yang pas menjadi kunci dari baiknya eksekusi film ini.

Super 8 bukan Signs. Ketika dulu Shyamalan mencoba menggambarkan kepercayaan, Abrams mencoba mengisahkan kasih. Film ini pun cenderung lebih ‘terang’ dan positif, meski happy ending tetap tercapai di kedua film. Secara personal saya lebih menyukai karya Shyamalan, tapi Abrams mampu menceritakan apa itu kasih, konflik yang harus dilewati demi mendapatkannya, perjuangan yang harus ditempuh untuk menjaganya, ketakutan akan kehilangannya, namun juga Kesederhanaannya.

Bad things happen… but you can still live

Kasih juga pergi. Kasih meninggalkan memori. Mengasihi berarti siap untuk tersakiti. namun sakit itu harus kita lepaskan sesekali. Karena manusia harus terus hidup. And we have to let go.

Seperti sang sutradara cilik yang melepaskan production value demi hidupnya, atau sang tokoh utama yang melepaskan kalung mendiang ibunya di akhir cerita.

Tambahan: di akhir, film super 8 menggambarkan hasil akhir dari film indie yang digarap sang sutradara muda. Menjadi sentuhan tersendiri bagi credit title nya.

Advertisements

2 thoughts on “Super 8

  1. Caution: Spoiler Alert

    Great review!
    Super 8 is E.T. meets Cloverfield.

    Typical J.J. Abrams dalam karya-karyanya. Dia mencoba menyembunyikan sesuatu yang besar. Abrams menyebutnya “Mystery Box”. Penonton hanya boleh mengintip sedikit demi sedikit apa itu. Jika dalam Super 8 hal itu adalah alien. Di serial LOST, Abrams pun menciptakan misteri yang sama. Pulaunya itu sendiri. Mission impossible 3: semua orang memperebutkan the Rabbit’s Foot (What is it, Where is it?)

    Seperti yg lu bilang Tan, pesan utama dari Super 8 adalah ‘To be able to let go of things’.
    Abrams memasukkan pesan tersebut dalam kejar2an tokoh-tokoh utama film dengan sang ‘mystery box’.

    Abrams pada sharing nya di TED pun pernah mention tentang JAWS. The first one. Spielberg memunculkan character building Chief Brody pada scene awal film. (kalau ga salah) Brody baru saja pindah ke daerah tersebut, dan sepertinya dia diliputi banyak beban. Sambil melamun di meja makan, dia ga sadar kalau putranya yg 4 tahun sedang meniru semua gerakan ayahnya. Setelah dia sadar, dia menghampiri anaknya dan bilang
    “give me a kiss” | “”why” | “cause i need it” thats character building. point is, the movie is not (all) about a monster shark, but is about starting over.

    Oh, the shark in JAWS is another mystery box, ga pernah kan diliatin badan ikannya penuh. malah di awal2 film ga diliatin sama sekali. Scene yang terkenal di JAWS kan justru scene dengan angle si hiu sedang mendekati calon mangsa nya. sampai akhirnya hiu itu memperlihatkan wujudnya di depan Brody, dan terucaplah kalimat terkenal itu: “We need a bigger boat…”

    1. wowww…. that was awesome details!!

      terus terang saya sendiri belum menonton JAWS, tapi cukup menyenangkan bahwa film yang baik harus bisa menyelipkan hati di dalamnya.

      tidak hanya abrams, juga spielberg sepertinya mengerti itu.

      anyway, thanks a lot. saya selalu merasa senang ketika sebuah komen bisa menjadi bentuk tambahan, mempercantik tulisannya sendiri.

      semoga makin sering nulis nulis, ka bayu!! hhehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s