Religious study video review

What would the man in the sky do if I do bad things?

Saya rasa pertanyaan ini bisa menjadi dasar dari banyak pertanyaan pertanyaan lain. namun ada shock ketika kemudian seorang komedian menyimpulkan atribut lain dari ‘man in the sky’ – atau tuhan – dengan banal.

He has a special place full of fire and smoke and burning and torture and anguish where he will send you to live and suffer and burn and choke and scream and cry for ever and ever till the end of time

But he loves you.

Bentuk pernyataan ini salah secara moral. Dan ‘secara moral’ harus digaris bawahi karena hanya dengan keterangan ini lah pernyataan saya bisa dibenarkan.

Penyikapan yang lahir tentunya tidak bisa datang dari satu arah saja. Secara moral, tidak sepantasnya ia begitu keras mendera kepercayaan sekumpulan orang yang telah lama hidup berdampingan dengan rasa yakin tersebut. Carlin, sang komedian, seperti sedang mengolok olok seorang wanita cantik yang begitu yakin dengan penampilannya. Wanita itu berjalan dengan tenang, hidup dalam damai, dan tiba tiba, tanpa ada peringatan atau ancang ancang, seorang berpakaian lusuh dan botak-di-sana-sini berkata lantang ‘ada potongan cabai menyelip di gigi anda!!!’.

Apakah ini salah? Tidak, tidak bisa dikatakan salah juga. Karena gembel tersebut sekedar menyatakan bahwa anda tidak secantik yang anda kira. Tapi bagi saya, tidak seharusnya aksi nya dibenarkan secara sepenuhnya, karena kenyataan kadang lebih baik disembunyikan.

Who wants to hear the truth if they can hear that they are right?

Untuk membahas penyikapan dari sisi lainnya, maka kita akan kembali ke poin ‘secara moral’ yang disinggung sebelumnya. Adanya praktek stand up comedy seperti ini menjadi begitu memuakkan di mata kaum relijius, karena tindak salahnya hanya bisa berbatas hingga ke titik ‘secara moral’ tersebut. Sedangkan isi pembahasannya, dihiasi momen momen ‘sadly true’ di sana sini. Kenapa kita bisa tertawa ketika ia berkata ‘but he loves you’, atau di salah satu rangkaian leluconnya ia berkata bahwa ‘he always needs money’? karena hal hal yang ia sebutkan secara logis mampu diterima dengan otak kita. Dua detik setelah otak kita menerima, tentunya sanggahan akan muncul, iman memberi jawab, dan bagi mereka yang telah berpegang kuat pada kepercayaan masing masing akan sekedar tertawa (menganggap ini semua hanya lelucon) atau marah.

Marah itu datang.

Tapi sebuah kalimat bijak menyatakan, “Fear leads to anger. Anger leads to hate”. Maka marah itu adalah buah dari sebuah ketakutan. Ketakutan yang memang datang dari momen momen ‘sadly true’ yang bermunculan, yang kita tertawakan, yang diterima oleh akal pikiran. Bagi mereka yang marah, keagamanya belum siap untuk menahan arus pertanyaan yang bertubi tubi ini. Tidak mudah bagi mereka untuk menemukan tuhannya dibalik kepercayaan fungsional hari hari yang ia jalankan. Maka mereka pun naik pitam. Melabeli ‘neraka’ pada George Carlin, bahwa orang ini berbahaya, dan melakukan penghinaan terang terangan, dan manusia ini tentunya tidak ‘Berprinsip’ seperti seharusnya seseorang.

Dan ia akan dikutuk oleh tuhan.

 

But don’t worry guys, He still loves us.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s