One day

 

Sebuah kisah romantis akan kehidupan dua orang yang hanya dipotret di setiap satu hari per tahunnnya, selama dua puluh tahun.

Premisnya cukup unik, juga sederhana untuk bisa dimengerti tanpa mengernyitkan dahi. Namun bukan premisnya lah yang penting dari ini, melainkan bagaimana pengisian perjalanan kisahnya mampu menjadi indah dan tidak memberatkan kesederhaan dasar cerita yang telah dibangun.

Tidak arkais, tidak juga terlalu memaksakan kehendak, perjalanan hidup mereka berjalan sebagaimana jalannya hidup. Ada dinamika, namun tidak seolah disadur dari titik ekstrim (ambil contoh forrest gump yang memang ekstrimisme kejadiannya sengaja ditonjolkan), perjalanan plot yang tetap dijaga keseimbangannya ini, pun sesekali dipatah patahkan dengan cukup menarik. Seperti kejadian awal yang belum selesai, pelompatan tahun yang tidak sepenuhnya dijelaskan, juga perubahan perubahan pada dua karakter utama yang melonjak cepat seiring pergantian tahun. Secara luas, Lone Scherfig bisa tetap mengemas kesederhanaan ini dengan tetap mengindahkan sensasi ke fana an.

Seperti layaknya gaya perfilman masa kini, One day tidak membeberkan progresi lengkap tokoh tokohnya, sebagai konsekuensi dari lompatan tahun. Film ini juga menjadi lebih manis dengan adanya unsur penantian dari sang wanita ketika tokoh pria tidak selalu menjanjikan hubungan cinta yang penuh. Berkat lompatan tahun ini pula, pengetahuan penonton akan perasaan setiap tokoh utamanya seolah ditamengi dan tidak diperkenankan untuk menjadi dalam.

We simply could not fully understand how do they feel towards each other, as it might be very different throughout the leaping years.

Film yang didasari dari novel yang diterbitkan tahun 2009 oleh David Nicholls ini, pada suatu titik sekedar menggambarkan perjalanan panjang untuk mendapatkan kebahagiaan (dalam hubungan) beserta berbagai ketidaksempurnaannya. Keberadaan Em dan Dexter, sebagai dua tokoh utama, menjadi jalan bagi penonton untuk bisa melihat dua aspek yang cukup menarik.

Pertama adalah ketika kedua tokoh mampu menjadi jembatan dari persepsi penonton akan hidup masa tersebut. Karena adanya pemakaian rentang waktu yang panjang, maka kita bisa dengan baik menikmati perubahan dunia di sekitar mereka, tidak secara besar namun justru dekat dengan keseharian. Dexter contohnya, pernah menjadi seorang pembawa acara TV, dan kurang lebih bisa memperlihatkan gaya pertelevisian masa itu.

Yang kedua, adalah percintaan mereka. Poin ini amatlah potensial karena baiknya adegan adegan film ini mampu menjadi jendela untuk sebuah pemahaman akan bagaimana romantisme dalam tiap periode tahun. Perubahannya, kesamaannya. Sayang, tidak banyak hal yang ditonjolkan di film ini mengingat banyak hal dasar yang sang sutradara maupun pemain pemainnya tidak bisa penuhi. Sebagai contoh, minimnya pengambilan adegan percintaan yang kontras dari tahun ke tahun, cenderung monoton, sebagaimana romantisme hari hari yang sama saja. Lalu ada pula gangguan dari logat dari Anne Hathaway yang seringkali terdengar aneh, inkonsisten akan logat Yorkshire sebenarnya.

Bagian ujung film ini cukup tragis, karena ketika mereka akhirnya bisa bersama, mereka tidak mampu menikmati masa itu terlalu lama. Mungkin hukum takdir pada Dex akan permainannya pada Emma di awal, datang justru di puncak sebuah kebahagiaan. membawa lebih banyak sakit. seperti lonceng keadilan yang mendadak berdentang terlalu keras. Dan penutup dari film ini dibuat kembali sederhana dan amat menyentuh. Adegan yang indah, akhir dari tragedi yang tidak terjerumus ke lembah melankolia. Sebuah kata terakhir dari Emma, ‘Goodbye Dex…’

 

 

 

 

 

 

Steven: I think the best thing that you could do would be to try to live your life as if Emma was still here. Don’t you?

Dexter: I don’t know if I can.

Steven: Of course you can. What do you think I’ve been doing for the past ten years?

 

Ctt: Steven, sang ayah, juga telah kehilangan istrinya (Ibu Dexter) di pertengahan film

2 thoughts on “One day

  1. Pertama kali tau One Day ini, dikenalin sama Sara. She’s a sucker for romantic movie.

    The story is beautiful.
    Dari perspektif saya, We all knew there was something sweet between Em dan Dexter, since the beginning of the movie.

    Di film ini, penonton dibawa senang, kesel, dan sedih dengan nyaman.
    Sebagai penonton, saya pikir film ini cukup bagus, dan seperti kata Rupert & Ebert di setiap bungkus DVD “two thumbs up”.

    Ending nya sarat dengan kesimpulan, karma, dan moral.
    Sweet.Sour.Love.Life

  2. cukup lama nggak ngecek ada komen haha…

    Saya setuju kak bay, I guess a lot of parts in the movie is quite monumental, even inspirational….

    The end is also very beautiful.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s