2001: A space oddysey

 

Ada rasa takut ketika saya akan menulis ulasan ini.

Karena saya cukup bingung bagaimana harus menyikapi karya dari Stanley Kubrick tahun 1968 ini. Entah sebagaimana disebutnya yaitu film, sebagai lukisan (runutan visual), video klip kontemporer, atau bahkan metafora telanjang.

Yang pasti, ini adalah sebuah film yang lambat (jika tidak ingin disebut membosankan) dengan arti-dibalik yang ditutupi begitu tebal oleh struktur, perkembangan plot, jumlah stockshot, kecepatan adegan yang begitu rendah, serta musik luarbiasa.

Beberapa kali The Blue Danube oleh Johan Strauss II dan Also sprach Zarathustra oleh Richard Strauss diputar sebagai background musik dari pemaparan pesawat antariksa yang berputar lambat. Entah apa metafora dibaliknya (saya rasa jika anda mau mencari, telah banyak mereka yang telah menuliskan apa sebenarnya maksud Kubrick), namun saya kira ada estetika yang berusaha disampaikan, mungkin juga filosofi seperti kesamaan salah satu lagunya dengan buku berjudul sama oleh Nietzche, Thus speak Zarathustra. Entah berhubungan atau tidak.

Kemudian hal yang terasa, adalah bahwa film ini amatlah minim dialog. Ketika Kubrick berusaha berkomunikasi dengan gambar gambarnya yang panjang dan merangkap, butuh waktu lebih dari 30 menit untuk bahkan sampai ke dialog berbahasa manusia pertama dalam film ini. Praktis segmen pertama dari film ini sama sekali tidak menjanjikan dialog apapun berkat tokoh tokoh yang sepenuhnya manusia purba (atau mungkin monyet).

film ini terbagi menjadi empat bagian yang akhir dari setiapnya tidak konklusif. Hanya sebuah batu tipis besar belaka yang memberikan titik temu antar segmen, entah berarti sama atau bukan. Monolit-monolit ini pun, berdiri tegak sebagai monumen magis yang enggan diartikan, menjadi lambang visual yang hebat di samping penggunaan special effect cerdik – menjadi istimewa di zamannya – terutama dalam penggambaran keadaan gravitasi nol di beberapa adegan.

Saya rasa, jika makna film ini dikritisi satu per satu, maka akan memakan waktu lama dan sebuah Tanya akan apakah memang analisa ini valid akan muncul – seperti layaknya pemaknaan subjektif kebanyakan. Seperti praktis dari banyak kritikus film yang terjerembab, kecuali datang sendiri dari mulut sang pembuat, bentuk pernyataan apapun akan sebuah perjalanan (plot) cenderung sekedar ‘bagus saja’ atau jika tidak begitu justru menimbulkan kesan ‘over analisa’. Mengingat poin ini, monolit yang berkali kali muncul dan berdiri mungkin lebih pantas dibiarkan begitu saja, meski tidak boleh dipungkiri keberadaan analisa berbagai pihak yang seolah menjadi benar. Bahwa batu-batu ini memberi kekuatan evolusi, atau regenerasi serta awal, juga tentang nyanyian yang dianggap keluar dari mulut metaforis sang batu tanpa sekedar berperan sebagai scoring yang membangun suasana, semua bisa dengan mudah anda dapat dengan sedikit penelusuran internet atau buku. Analisa, adalah analisa. Saya percaya tidak ada yang penuh salah tapi berarti pula kebalikannya.

Yang cukup kontroversial adalah, Kubrick dengan sadar mengatakan bahwa ‘kebebasan akan interpretasi filosofi dan alegori dari filmnya ini adalah sebebas subjek penikmatnya’. Atau dengan kata lain, kalian bebas menafsirkan berbagai arti dari sejumlah simbol tersirat dalam film ini.

Sebagai penutup, versi (sedikit) lebih jelas dari film ini bisa didapatkan dari novel buatan Sir Arthur C. Clarke berjudul sama. Namun karena ini adalah sebuah ulasan filmn, ada baiknya tidak banyak disinggung konten dari novel ini. Toh kejelasan dan kelengkapan tidak akan menambah terlalu banyak arti sebuah ikon film yang menjadi bayang -sulit untuk disebut sebagai tolak ukur- dan tidak banyak mampu ditiru bahkan oleh dunia perfilman modern.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s