Sepotong coklat untuk sahabat

aku tahu seperti masa itulah, ketika aku merasa segalanya tak begitu sepi.

Ditengah tawa yang menjelma mengoleskan bunyi bel yang berdentum terus menerus. Seperti ini malam agung yang telah lama kita nanti nantikan.

‘Aku nanti-nantikan’

Sebersit aku tahu keceriaan itu datang juga. Di antara seruput manis, dibalik jeda antar bicara. Bahagiamu dapat kuhirup harumnya. Jauh lebih mempesona dari isi cangkir di depanku, juga di depanmu tentunya.

Sekiranya kamu tahu, kita hanya berbagi bahagia.

Dan lalu kata kata itu kembali kau coba beri. Namun kata kata tak boleh dibagi. Rasa berbeda yang tak pantas di cari cari. Hanya sekedar ada saja.

Lebih baik dari sunyi.

sekiranya aku ingin, resah takutmu sedikit kuminta bebannya.

Maka kita tinggalkan kursi kosong itu.
Kalimat kalimat panjang yang dengan riang menghapus jemu.
Meski aneh, tapi malam ini aku berbaring tenang.
‘Let’s give u more stars’, tetap nyaring terdengar.

Namun tidak bagimu. Sepasang sayap putih yang terbentang itu jauh lebih siap untuk membantu. Menerima beban bebanmu yang selama ini selalu berharap kau beri untukku. Meski aku tidak mampu.

Siang ini. Terang dan penuh sendiri.
Seperti layaknya siang siangku.
Tapi aku senang.
karena di ujung meja itu, masih ada bagian dari kata katamu yang menemani.

Sebuah kata sahabat yang terlalu singkat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s