Putri raja dan Malaikat senja

Ada rasa muak di satu titik.
Kau yang tidak disini. kuanggap mati atau seonggok daging terkoyak yang katanya ‘berlari’.
Atau menghancurkan diri.

Putri raja yang jatuh terlalu jauh. Menjadi gumpalan hitam berbau busuk di tepian malam. ‘Dan aku bersenang senang’

Dalih setiap pendosa yang berkeliaran tanpa sadar. Menari-nari meski tahu kecantikan hanya berbatas benang tipis dari gaun lusuh berantakan.

Panggung kosong.
Atau balkon.
Pijar lampu.
Atau jutaan kilat alkohol dalam pandang tiga perempat kabur.
Lalu mual. Lalu termuntah. Baik dirimu atau diriku yang melihatnya.

Sang putri,
Mungkinkah kau memilih berdiri dengan kaki kotor hingga ke selangka?
Bukan tiara, dalam peluk mereka yang penuh cinta.

Sang putri,
Mungkinkah selembar potongan sayap malaikat tidak lagi menarik untukmu?
Kanvas kosong itu. Kau relakan bersimbah cairan dibanding peluh warna warni yang hidup di satu hari.

oh sang putri, tapi aku pun menunggu kedatanganmu. untuk pulang dari perjalanan kotor yang seolah dieja ‘kudus’, dari reputasi seberang mentari, dari jarak yang tersadar bahwa kau tidak pernah terlalu jauh.

 

namun tak pernah ku sangka,

begitu buruk paras itu sekarang. putih yang hanya menjadi selubung. indah yang berlidah mustahil, mengiringi sayap yang tak lagi meneteskan apa apa. hanya sengat aroma tak sedap.

dan datanglah dirimu wahai putri.

Dirimu sebagai kental racun.

dirimu sebagai mutiara cacat.

tak lagi pantas untukku.

Hanya menjijikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s