Di sisi

Yang datang. Lalu hilang.

Kalimat kalimat tak selesai, atau begitu banyak kebohongan yang terpaksa dibisikkan.

Itulah hidup. Inilah krona sang mentari malam hari.

Perenungan yang terlalu lelah untuk berakhir. Juangku. Marahmu. senyumku. Tawamu. Serta partikel pecahan dari setiap alur yang kita bangun sendiri akhirnya.

Hingga aku pun menyerah. Ketika kau sadarkanku bahwa kau telah lama begitu.

Aku tahu mungkin terlalu banyak kalimat yang tak pantas lagi diberikan.

Aku pun tahu, mungkin sekarang waktunya kita bertutur kisah baru, cerita nyata tanpa sembab air mata.

Tapi salahkah jika aku kadang mendengar lagi melodimu.

sesekali dalam setiap waktu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s