Nomor 7: Yang berbincang (bag.2)

Aku menyukai kaastangel.

Ya, aku juga suka lari pagi.

Dialog macam apa ini?, kupikir. Namun semuanya terasa logis di kepalaku, satu satunya yang kembali menjadi asing adalah mengapa aku harus terburu buru.

Ini pasti tehnya! Aromanya membuatku terlalu santai, aku harus berhenti meminumnya! Namun bisa jadi Sikat gigi adalah senjata terkuat sepanjang masa. Karena kuman di mulut adalah kuman paling berbahaya diantara patogen harian lainnya.

Begitu kata dokter di televisi berukuran 31 inci milik Kordi.

Mengapa tiba tiba ada televisi!? Aku menyeruput teh ku.

Televisi ini maksudmu? Tentu saja aku membelinya di pasar terdekat.

Tapi aku tahu di tanah ini tidak ada pasar. Aneh. Aku kira pertanyaanku tentang televisi hanya terjadi dalam benak.

Tidak tidak, tadi kau menuturkan tanyamu, mungkin kau tidak sadar. Namun kebingunganmu akan jawabanku memang hanya terjadi dalam benak.

Aku tertawa.

Kau terlalu banyak tertawa.

Kau terlalu banyak membaca pikiranku.

Aku tidak membaca pikiranmu.

Aku tahu kamu tahu.

Apa maksudmu?

Apa maksudmu?

Sekarang kau hanya mengulangi pertanyaanku.

Sekarang kau hanya mengulangi pertanyaanku.

Kordi terdiam. Langit bergemuruh namun perlahan.

Aku tidak menyukaimu.

Aku sering dapatkan komentar itu, aku tersenyum.

Gemuruh langit berhenti, namun wajah kordi tidak lagi ceria seperti dahulu.

Aku mengerti bahwa Kordi sama seperti individu berumur ratusan lainnya. Mereka kesepian, mereka ingin didengar, mereka merasa segala hal yang mereka ceritakan jauh lebih penting dari hal lain. Bedanya, Kordi ditunjuk sebagai penjaga pintu terakhir sang langit, maka dari itu ia jauh lebih berbelit.

Kau tidak bisa menyinggungnya, langit akan runtuh setelahnya. Namun aku harus menjadi cukup membosankan agar ia tidak memintaku terus menemani obrolan sorenya (di langit ini hanya ada sore hari)

Bagaimana kalau kau masuk ke gubukku? Sepertinya akan hujan.

Namun aku tahu tempat ini tidak pernah hujan.

Kumasuki pintu sebelah kiri, kubiarkan pintu kanan gubuk tetap tertutup. Ia menengok seolah kaget, memicingkan mata dan berkata Jadi kau memperhatikan?

Tentu saja.

Aku duduk di salah satu meja. Gubuk ini luar biasa luas jika dibandingkan dengan tampak depannya. Kira kira ada empat puluh meja tanpa kursi. Semua berwarna hijau kecoklatan dan berbahan kayu mahoni.

Apakah benar ada kaum peri pengembara? Aku pernah bertemu para Sam Sap, namun kukira mereka selalu mati kala terbit matahari.

Peri? Kau pasti sedang bermimpi.

Sahabatku menemukan catatan mereka.

Sahabatmu adalah pembohong ulung.

Sama sepertimu?

Bisa jadi.

Aku mengangkat cangkir teh. Seekor semut tercebur ke dalamnya dan mencoba memanjat keluar sambil bermegap. Kucelupkan jariku bagai pelampung penyelamat, dan semut itu merayap keatas. Kubayangkan ia menghela nafas seraya tahu ia baru saja menangkis kematian dan terselamatkan. Kubiarkan semut itu pergi menjauhi meja.

Kutatap wajah Kordi, perasaan janggal namun yakin terpancar dari raut. Ia sadari bahwa aku telah berhasil menebak segala tipuannya. Ia pun tenggak habis kopi dari cangkir.

Aku orang tua yang harus kau layani, pendapatku lebih penting dari pendapat siapapun, kesepian, dan cara untuk melewati langit ini adalah untuk menjadi membosankan. Bravo…. Bravo….

Kordi bertepuk tangan.

Segala aturan itu berlaku untuk pendahulu pendahuluku. Mereka adalah nelayan nelayan kolot yang punya aturan masing masing. Mereka tidak bisa dikompromikan. Satu satunya cara untuk melewati langit adalah dengan membuat mereka tak tertarik.

Namun?

Namun semua terlalu takut untuk itu, karena langit bisa jadi runtuh. Kordi menyengir, lekukan bibir yang sama persis dengan bibirnya.

Kuperhatikan lagi secara seksama meja-meja tanpa kursi di sekelilingku. Di setiapnya ada tengkorak dan tumpukan bonggol tulang yang berserak, mereka yang gagal menembus langit dan mati tua di Gubuk ini.

Apa yang kau lakukan disini Balu?

Apa yang kulakukan? Apa yang KAU lakukan disini Taraksa? Ini rumahku, ini gua ku,

M untuk Michael. Kurang ajar. Selama ini prajurit tua ini menipuku.

Kukira kau sahabatku.

Aku masih begitu.

Lalu mengapa kau tahan aku disini?!!! Starla menungguku! Kau tahu itu!

Aturan. Setiap bentuk di dunia ini punya aturan main Taraksa. Matahari lahir di Timur kemudian takluk oleh sang Barat, Ombak bergulung dengan ritme tertentu, hanya diperbolehkan terlalu senang sesekali, menjadi tsunami. Sedangkan aku, Emosi ku terikat pada dua hal; satu satunya pilar langit dan kebiasaaan para pendahulu.

Termasuk kopi?

Hmm… yang itu aku buat sendiri.

Aku kecewa. Aku kecewa namun aku tahu segala kata katanya benar.

Lagipula Starla tidak menunggumu.

Apa kau bilang?

Ia korban sukarela. Seperti pelindung pelindung yang kau temui sebelumnya. Starla adalah Khadyota dan anak anaknya yang mati. Adalah Purna yang menelan ilmu dunia tanpa hingga. Adalah Drumdara yang diam. Adalah Zallaka dan Sam Sap yang berperang setiap hari. Adalah api Agnipura.

Sungguh ingin kubanting meja dan kusarangkan sebuah tinju di wajah sang kakek tua, namun bukankah langit akan hilang setelah itu.

Starla ingin menemuimu. Namun ia tak akan pulang bersamamu.

Darimana kau tahu?

Ia berdoa pada langit, kemudian aku dititahkan sebagai pengabul. Menuntunmu ke samping Starla. Tapi hanya untuk sesaat. Satu pertemuan.

Penipu!

Tidak kali ini.

Muslihat tidak akan menghentikanku.

Aku tahu. Dirimu sendirilah yang akan menyadari.

Ia berkata kau boleh pergi. Kalimat yang belum pernah diberikan spesies Nelayan langit pada siapapun sebelumnya. Michael menuntunku, mengajakku memanjat gubuk reyot kemudian naiki kayu pancing.

Kugenggam ekor Michael, ia melayang dan melesat cepat menembus langit terakhir.

Purnama yang begitu besar menyambutku.

Akhirnya aku bisa menatapnya.

Bayangan hitam yang dahulu kukenal sebagai Starla.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s