Nomor 7: Yang berbincang (bag. 1)

Sebuah gubuk tua dari jerami yang berbau amis.

Muncul seorang sama tua, dengan jengggot terseret di lantai yang dengan cepat ia potong ketika aku temukan keberadaannya.

Kordi, ia sodorkan tangannya.

Aku bingung. Apa yang sebenarnya ia coba berikan dengan telapak tangan terbuka tanpa isi, setengah miring dan ekspresi wajah yang sama sekali tidak berbahaya.

Di masa nanti, gestur ini disebut jabat tangan, ia tarik kembali tangannya, kemudian mengantungi gunting panjang yang terlihat tidak tajam.

Ada dua belas ekor kerapu mendadak muncul dari penjuru gubuk setelah mendengar siulan. Salah satu darinya Kordi perkenalkan sebagai Michael. Aneh. Ikan yang berenang tanpa air hanya ada di ujung langit ini, sebuah pantai tanpa laut dengan pasir yang terus bergerak tersapu ombak meski tidak ada air yang mengisi gulungannya.

Nelayan macam apa yang memelihara ikan hasil tangkapan, bukan menjual atau memakannya?

Nelayan yang tinggal di perbukitan, lagipula aku seorang vegetarian.

Aku terdiam. Ia tertawa.

Ia berbohong.

Tentu saja aku berbohong.

Sudah kuduga.

Lagipula tempat ini bukan perbukitan, dan perutnya terlalu tambun untuk seorang herbivor taat.

Ada yang salah dengan logika ku. Datang sebersit kesadaran namun setelah itu yang kupikirkan adalah kejanggalan tatanan janggut Kordi jika dibandingkan dengan kumisnya.

Marilah duduk, tentu kau amat haus setelah perjalanan panjang ini.

Maaf sekali, tapi minuman adalah hal terakhir yang kupikirkan. Starla. Aku hanya ingin mencapainya. Di. Bu. L.

Lidahku kelu. Susunan kata seperti melarikan diri dari kata sebelumnya. Kalimat sesuai berubah menjadi benda muluk, tak terpikirkan apalagi terucap. Starla? Ah aku yakin ia baik baik saja. Mungkin tempat ini memang perbukitan dan bukanlah pantai.

Teh atau kopi. Jawab saja. Tidak ada yang berani menolak seteguk hangat pelepas dahaga.

Kopi terasa lebih menarik, namun ketika huruf K akan disambung O lalu P kemudian…

Langit bergetar.

Semakin lama semakin keras seiring para kerapu yang berontak, melarikan diri dan tidak lagi meliuk dalam sunyi namun kepanikan.

Teh saja.

“Aturan yang menyebalkan akan datang” Jadi seperti ini maksudnya. Kopi beraroma pahit asam, Putaran daun teh seperti kincir angin. Logika yang berseberangan membuatku menyimpulkan betapa Kordi mencintai kopi buatan Michael. Perlambang musim semi yang tak pernah terjadi.

Sialan kau Balu.

Masih banyak manusia di bawah sana?

Maksudmu?

Ya, bukankah semenjak beberapa ratus tahun yang lalu spesiesmu mulai berkembang biak dengan cepat, dan berhasil temukan cara untuk menghalau berbagai jenis pemangsa?

Hm…. Yaa… kurasa cukup banyak jumlah manusia.

Kau tahu, aku jauh lebih setuju jika para reptil menguasai dunia.

Reptil?

Ya, kadal lebih tepatnya. Para buaya terlalu sombong dan para ular sedikit licik, aku menyukai para kadal.

Tapi.. kau manusia.

Dan seketika ada sisik di sekujur kulitnya, ekor panjang menjuntai dari punggung dan topi lusuh nya tidak lagi bertengger di kepala tirus seorang kakek, namun wajah serupa tokek besar dengan mata terbelalak.

Aku melompat dari kursi.

Ia tertawa. Wujud kakek tua kembali.

Tolong jangan diambil hati, sudah terlalu lama aku hidup sepi, hanya ada Michael dan sebelas kerapu lainnya.

Kuberdirikan kursi ku, mencoba untuk sopan dan merapikan baju. Kuatur nafas, dan mencoba untuk memperbaiki kesalahan.

Namun Ia dan posisi duduknya yang aneh terkesan tidak tersinggung, justru mengomentari cara dudukku.

Kau tahu, benda ini dibuat agar kau bisa menyandarkan punggung dan menurunkan kaki, bukan berjongkok diatasnya.

Lagi lagi aturan tak kukenal. Lebih baik kutanyakan tentang ikannya. Ia terlihat amat menyayangi mereka, aku bertaruh ia amat menyukai membicarakan keduabelas kerapu terbang.

Mengapa hanya selusin? Dan apakah si kerapu pembuat kopi itu begitu spesial hingga ia satu satunya yang kau beri nama?

Oh, aku tidak memberinya nama, ia memberitahuku namanya.

Halo… Michael menyapaku.

Lagi lagi aku ingin melompat dari kursi, namun kali ini aku coba menahan reaksi.

Dan aku sudah tidak bisa memancing lagi.

Wajahnya terlihat sedih, sambil menunjuk tak bersemangat ke arah atap gubuknya.

Ada tali tongkat pancing disana. Berdiri kokoh dan meski terlihat sedang menyangga sesuatu.

Dulu aku punya 14 ikan, namun 2 diantaranya telah habis kumakan. Kau tidak bisa menyalahkan seorang tua yang sesekali merasa lapar bukan?

Michael mengedipkan matanya ke arahku.

Pernah kucoba memancing menggunakan tali saja, namun aksi sok heroik ku ini berakhir dengan tangan yang berdarah-darah, terbeset tali tipis yang ternyata tajam jika berkali kali digesekkan ke sela sela lipatan kulit telapak.

Setelah itu aku dan Kordi berbincang. Cukup lama. Sedikit terlalu lama hingga aroma lapisan enam yang memabukkan tak lagi mempan. Kesadaranku kembali. Aku mulai mengingat Starla, termasuk berapa lama waktu terbuang  hanya untuk sebuah perbincangan dan secangkir teh.

Aku rasa aku harus pergi, kunyatakan itu di jeda sebuah topik pembicaraan. Sebelumnya kami membicarakan tentang kuku jari mana yang sepantasnya dipangkas terlebih dahulu.

Pergi?!

Suaranya berubah, ada desis dan gaung yang mengerikan, disambut para ikan berjungkir begitu ketakutan hingga Michael menyerangku, berbisik keras bahwa nasib seluruh dunia ditentukan di setiap akhir perbincangan seseorang dengan Kordi.

Aku melihat awan awan mencair. Aku melihat pantai berubah keruh, dan yang membuatku sadar bahwa langit akan runtuh adalah kayu pancing yang semakin melengkung, gemetar dan nyaris patah. Katakan sesuatu bodoh! Michael meninggikan nada bisikannya.

Setelah kupikir pikir, Mungkin aku bisa duduk sedikit lebih lama. Bagaimana kalau secangkit teh lagi?

Langit tak bergeming. Seketika itu saja semua tenang dan tongkat pancing kembali kokoh. Emosi Kordi dan penyangga langit. Di titik tersebut aku tahu bahwa aku terjebak dalam masalah yang amat besar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s