Nomor 6: Yang terbakar (bag.1)

Dalam perjalanan menuju kota, aku teringat akan bisikan Purna sewaktu ia tunjukkan dua kota yang terbakar. Mereka hilang, kemudian semenjak itu langit menjadikan tiap dari mereka, begitu pula setiap bangunan yang menyelimuti hari hari nya, takluk dan terlempar dalam lalap api.

Beberapa menyebutnya sebagai benua yang hilang, atau kota emas yang tersembunyi, namun mungkin sejarah banyak mencatat mereka sebagai dua kota yang dikutuk tuhan setelah perilaku yang dianggap menjijikan, lalu dimusnahkan hingga tak bersisa. Purna bertutur tanpa aku mengerti sepenuhnya, hingga kehadiran dua kota menjulang tepat di depan mataku.

Aku memijak tanah di depan kota itu, setelah pertarungan tak terbayangkan meloloskanku, entah berkat sebuah mukjizat atau keberuntungan yang hebat. Tempat ini terlalu panas. Bisa kurasakan bahkan udara seolah ingin berteriak karena suhu yang terlalu tinggi. Hanya kulit Zallaka di sekujur tubuhku yang melindungi, meski bisa kurasakan perlahan lahan pelat pelat tulang itu menipis, menguap menjadi udara panas.

Kemudian kulemparkan mata sang taring pasir untuk membuka lapisan benteng menuju kota, sebagaimana Purna bercerita sewaktu itu, hanya pecahan mata kristal yang dapat membuka jalan menuju kota merah menyala.

Dikisahkan penduduk kota ini adalah kaum yang keji, yang bermimpi untuk menaklukan seluruh bumi. Mereka bukanlah manusia manusia yang akrab dengan moral, mereka berpesta tanpa henti setelah seharian berperang, pesta malam yang sama brutal dengan pertarungan pagi harinya.

Namun apa yang kulihat sama sekali berbeda. Tentu aku tidak melihat manusia, namun makhluk dengan bunga bunga api yang berputar dan meliuk, beberapa bermusik, atau menari berpasang pasangan dalam romansa. Aku melihat kota yang berpesta dengan cantik, saling berbincang dalam keanggunan. Namun musik yang mengalun tidaklah senantiasa lemah. Ada irama cepat yang bergejolak, kemudian kembali menghela dalam tenang. Aku melihat keindahan. Sulutan api bersatu dari dinding dinding kota yang terbakar, jalanan dan gang yang terlapis batu batu keras menjadi bara, menuju setiap mereka yang berlalu lalang sambil bergerak dalam tempo yang kadang lembut, kadang tinggi. Perlahan kusadar seluruh kota ini  menari nari, selayaknya api yang menjilat dan bergoyang bersama udara.

Ada sesuatu yang berbeda, yang api ini berikan pada mereka. karena dibalik segala ritme musik, serta keelokan, aku melihat pandangan pandangan kosong. Terlihat mereka telah terprogram untuk menjadi satu dengan kota ini, menjadi api itu sendiri karena bahkan rasa telah tergerus menjadi kering, tak bersisa dalam diri setiap warga. Kucoba bertanya akan kota pada salah satunya, namun mereka bergerak tanpa henti, ikuti tarian kota ini sendiri. Aku kira aku hanya perlu untuk lewati tempat ini, tanpa banyak perseteruan maupun pertarungan. Namun sepertinya aku salah. Perseteruan tempat ini memang tak terlihat, namun begitu pula dengan pintu keluar. Tempat ini adalah sebuah panci dengan air yang bergolak. Tidak ada jalan keluar, dan jalan masuk pun sekarang telah tertutup. Hanya ada jajaran pencakar langit yang sesekali oleng, lain kali kokoh, bergerak dengan atap atap runcing yang telah menjadi lahar merah, terpanggang bahkan dalam asap hitamnya.

Kau tidak akan menemukan apa apa dari mereka.

Aku pun terkejut. Setelah sekian lama aku tidak pernah mendengar aksara keluar dari mulut siapapun, bisa jadi ini adalah kali pertama aku bertemu makhluk langit yang benar benar berbicara dengan lidahnya.

Sebaiknya kau ikut aku.

Ia manusia. Ia terlalu pendek untuk manusia, namun ia sepenuhnya manusia. Kulitnya tidak bermorfologi bersama alam ini, begitu pula sekujur tubuhnya yang tidak terbakar. Dan yang paling penting adalah ia terlihat masih berpikir jernih. Matanya tidak kosong seperti makhluk lainnya.

Kau berbicara.

Tentu saja aku berbicara! Kau kira aku apa?

Ia menarikku masuk ke dalam gang, kemudian terjun ke lubang yang ternyata merupakan ruangan gelap dan panjang, disana ia menyuruhku berlari namun kakinya terlalu pendek, hingga aku yang berjalan cepat sudah nyaris menyusulnya.

Lalu, kau sebenarnya apa?

Ia melihatku dengan bingung, memegang bajuku dan mencoba merasakan teksturnya, matanya membelalak setelah ia melihat simbol simbol di tubuh dan tanganku, yang sebelumnya tetutup zirah tulang Zallaka.

Kau bukan dari sini? Kau?… Argoraik?

Argoraik?

Penembus langit. Kau warga bumi?

Ya… tentu saja.

Kemudian ia berteriak kegirangan sambil melompat lompat. Namun setelah itu wajahnya yang terlalu serius pun kembali.

Baiklah. Jika memang begitu maka kita punya tugas penting. Tapi Sebelum itu, tentu ada baiknya aku memperkenalkan diri.

Aku Zurda, satu satunya Kallikantzar di langit ini.

Kallikantzar?

Ya… ya… tidakkah kalian pernah mendengar kami? Tentu di bawah sana banyak tinggal saudara saudaraku, para goblin pemotong kayu?

Aku menggeleng. Ia melihatku dengan tajam dan untuk beberapa lama terus menatapku. Ada perubahan di air mukanya setelah itu, seolah ia paham akan keadaan ras nya di dunia kami. Punah.

Setelah ia balikkan badannya dan terlihat terisak menahan tangis untuk beberapa saat, ia pun menanyakan siapa namaku.

Taraksa.

Serigala? menarik, menarik. Memang sudah waktunya kota merah berhenti membara.

Apakah itu berarti jalan keluar?

Keluar? Kau datang kesini hanya untuk kembali keluar ?

Perjalananku berakhir di kerajaan putih.

Hmmm… kau bermaksud untuk bahkan menembus langit ke 5 ini… tapi ‘keluar’ dan ‘menembus’ adalah dua hal berbeda. Tentu kau bisa keluar kapanpun, tapi aku butuh bantuanmu sebelum itu.

Maaf, tapi aku harus segera pergi dari tempat ini.

Hahahaha… jika benar kau ingin pergi temui sang nelayan langit, berarti kau tidak bisa sekedar keluar namun tembus tempat ini. Dan untuk tembus tempat ini, kau harus menolongku.

Nelayan langit? Menembus? Kukira kau tahu pintu keluar tempat ini, ternyata kau hanya peracau biasa.

Heh bocah! Jangan kau remehkan penunggu langit ke 6! Nelayan itu bisa jadi kematianmu…

Nada sang goblin yang mendadak tinggi menunjukkan ketakutan, aku sedikit terkejut sambil perlahan mundur, mencoba meninggalkannya.

Mau pergi kemana kau bocah?

Ada perasaan mengancam yang terpancar.

Jika kau memang ingin tahu jalan keluar, akan kutunjukkan.

Kami susuri jalanan becek yang gelap ini, bentuk yang aneh karena sisi sisinya yang membulat, seperti kita sedang berjalan di dalam sebuah pohon melingkar yang ditidurkan. Zurda menyebut tempat ini sebagai gorong gorong, tempat pembuangan segala limbah kota. Namun tentu kota ini tidak membutuhkannya lagi, karena para makhluknya tidak lagi berkehidupan sebagaimana sebuah kota di atas tanah bumi. Aku pun bertanya tentang arti limbah, yang ternyata berarti sampah sampah sisa pembuangan. Zurda jelaskan betapa kota ini begitu besar, hingga untuk sekedar membuang sampah cair mereka butuh sebuah sistem di dalam tanah.

Aku pun mulai membayangkan, bahkan jika kota ini tidak diselimuti api yang tak padam, kota ini adalah kota yang sungguh asing bagiku. Para tetua desa dahulu banyak bercerita tentang keberadaan ‘kota besar’ di pusat negeri, maka ketika Purna kisahkan sebuah kota, aku bayangkan sebuah tempat dengan ratusan dan bukan puluhan tenda kulit, beberapa menhir tinggi yang diangkut dengan susah payah, juga bebatuan kali terbesar yang lalu dipahat untuk menjadi singgasana, pusat kota, sekaligus kuil persembahan bagi dukun dukun setempat.

Tapi kota ini, yang Zurda sebut sebagai Agnipura, memiliki lebih dari ratusan menhir, yang berfungsi sebagai tempat tinggal. Para warga kota ini, Zurda ceritakan – Meskipun di bagian ini aku sedikit mempertanyakan kejujurannya karena fakta ini terlalu tidak masuk akal untuk disebut nyata – telah berhasil membuat tenda tenda bertingkat dengan membolongi menhir. Ditambah lagi, menhir yang mereka gunakan tidaklah berbahan dasar batu namun benda benda yang sebelumnya berupa bijih, yang ditempa dan dibentuk berdasarkan kemauan. Benda ini mereka sebut sebagai besi.

Sebelum cerita Zurda yang semakin lama kuanggap semakin melantur usai, kepercayaanku-akan-ceritanya yang nyaris hilang diselamatkan oleh kaki ku dan kakinya. Kaki-kaki tersebut akhirnya sampai di ujung gorong gorong, dan Zurda menyuruhku meniti tangan dan kaki di suatu alat bantu memanjat yang ia sebut sebagai tangga.

Yang berdiri di depanku setelah itu adalah sebuah gerbang besar dengan ular yang terbakar, melilitkan dirinya pada sebuah gembok berwarna biru gelap mengkilat.

Ular itu adalah api pertama yang melalap kota ini, dan gembok itu adalah api biru. Kalian yang hanya mengenal api dari batu yang digesek atau kayu yang perlahan menjadi arang, tentu tak mengenal kelas kelas api. Dan percayalah wahai serigala, tiada api yang lebih panas dari api biru yang diserap oleh gembok besar kota ini.

Aku terperangah. Terdiam melihat bentuk raksasa yang mereka sebut sebagai gerbang itu berdiri lantang di depanku, tak mengizinkan aku atau siapapun untuk lewat.

Tapi kau bilang kau bisa keluar kapan saja?

Ya. Aku dan sang ular telah bersahabat semenjak kami ditunjuk untuk diami tempat ini. aku dapat dengan mudah memanggilnya. Tapi kau tahu, ia dikutuk sebagai pelindung Agnipura, bahwa ia akan selalu memeluk sesuatu sebagai bentuk hukuman akan cintanya pada harta. Meski begitu, semua yang ia peluk akan terselimuti api biru.

Lalu mati?

Goblin itu tersenyum. Amat licik. Sebagaimana senyum goblin yang banyak digosipkan oleh kitab desa. Aku tak bisa menyembunyikan tatapan kekecewaanku, dan ia tak bisa sembunyikan tatapan kegembiraannya.

Jadi, kau siap membantuku padamkan kota ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s