Nomor 5: Yang bertahan (bag.1)

Sebuah lorong panjang dengan tembok tembok batu. Kususuri setiap bagiannya sambil pandangi detil ukiran relief yang seolah berbisik tentang cerita tertua yang bumi ini pernah tuturkan. Disana, rerumputan perlahan menipis dari permukaan tanah. Beberapa mengering, hingga seluruh telapak kakiku memijak pada pasir padat yang tidak lagi sejuk, namun amat dingin. Setiap butirnya adalah kristal es yang remuk dan ditebarkan secara sengaja oleh sang dewi malam, peringatan pada mereka yang ingin memasuki lapis ke empat, tanda bahwa Drumdaara tak lagi melindungi. ‘Kali ini kau seorang diri’

Badanku bergidik perlahan, ketika kuangkat kepalaku dan menyadari sebuah pemandangan yang tak kusangka akan datang. Disana aku melihat ujung kanopi, dedaunan terakhir dari tanah suci, bukti pasti bahwa telah kumasuki langit selanjutnya, dan disini, seperti kata kepala desa, terhampar tanah peperangan tanpa akhir. Tidak ada bayi yang lahir, tidak ada pula yang pernah hidup terlalu lama untuk menjadi tua. Sebuah keluarga peri yang dititahkan sebagai penjaga tinggal disini, seratus tiga puluh juta adalah jumlah yang tidak sedikit untuk jatuh setiap hari. Namun toh mereka tidak pernah bersemayam terlalu lama, mereka bangkit kembali di setiap malam, untuk kembali hunuskan petir petir, kembali berbaris layaknya prajurit yang setia, kembali menabuh genderang perang, teriakkan perlawanan pada kekaisaran ruang hampa.

Begitu banyak kematian, namun aroma yang akan tercium adalah aroma peperangan.  Begitu banyak teriakan, namun suara yang bisa kau dengar hanyalah suara peluru menghantam batu, kemudian tulang rusuk yang luluh lantak diterpa serangan bertubi antariksa. Begitu luas hamparan pasir, tapi matamu terpaku pada tiga tembok yang berdiri kokoh, yang runtuh namun terus dibangun, yang mati-matian berusaha menahan gempuran Zallaka sang taring pasir. Ketiga benteng beserta isinya, yang dikutuk untuk hidup selamanya.

Untuk mereka yang tak hidup, Untuk mereka yang tak bisa menikmati mati.

Begitu lama aku tenggelam dalam cerita kepala desa, hingga tak kusadari sekujur badan telah mengigil cukup lama, tanda bahwa kakiku telah berjalan cukup jauh meninggalkan pohon utara. Jiwa yang gemetar membuat pandanganku luput. Akan perubahan sekitar, akan ranting yang tak lagi bergururan, akan sebuah kenyataan bahwa tiga lapis pertama telah kutinggalkan. Diriku yang dahulu penuh takut takkan lagi lagi kutemui. Hilang, pergi bersama indera yang dihancurkan, bersama sejuta ingatan tentang malam, bersama kebijaksanaan yang diam. inilah titik mula sebuah perjuangan. Kutatap sekitar yang sekarang gersang, membisikkan kehancuran yang tak kunjung henti, pedang kilat dan tameng berbatu saling rajam, janjikan huru-hara dan siksa tak terhingga. Namun jantungku berdegup sunyi. Tidak ada ledakan perasaan, lenyaplah kekhawatiran, diriku sekarang melanglang dalam tenang. Akhirnya kusadari, telah sepenuhnya kudapatkan kekuatan yang dibutuhkan untuk menghentikan bahkan peperangan terbesar. Meski tanpa tahu sebesar apa lawan yang menanti.

Dan lorong itu berakhir.

Relief pun berhenti bercerita, tidak ada lagi jalan yang terapit dua dinding, hanya bangunan batu menjulang di kejauhan yang berdiri angkuh mengisi pojokan pojokan dunia. Susunan balok saling silang tertanam sebagai elemen dasar, bertemu dengan serbuk mengkilap yang menyelimuti sekujur tubuh sang tembok, seperti daging pada tulang endoskeleton yang pengecut. Namun serbuk ini tidak menghilangkan struktur dasar tulang sebagaimana kulit terhadap daging, serbuk ini begitu lembut, memancarkan cahaya dan bersinar begitu indah sebagaimana rendah hatinya. Meski aku tahu menyentuhnya sama dengan mati kejang. Tiap butirnya menyimpan tegangan seratus dua puluh juta volt, serta arus suara sekuat seratus dua puluh Desibel. Butiran ini tidak berbicara, tenang dalam bungkam namun dengan harga sebuah sentuhan, kau bisa buat mereka mengaum dengan geram. Bising yang menumbuk susunan tulang, menghantam tubuh dengan brutal, karena di titik tersebut, bunyi yang membahana tak hanya meminta telinga sebagai korban. Aku pun sadar benar setelah itu, ketiga benteng yang berdiri ini bukan hanya berusaha menghalau sesuatu dengan kekuatan tak terkira, namun untuk menahan sesuatu yang bukan manusia, sesuatu yang tidak akan tumbang bahkan dengan gempuran lembing petir.

Sayup sayup terdengar bunyi genderang. Perlahan mengeras, juga tanah berpasir yang sekarang bergetar bersiap memuntahkan prajurit prajurit terkuatnya. Dan langit pun berseteru hebat, ketika suara terompet memekakkanku, membangkitkan para peri penenun petir.

Suara besi yang saling hantam, dijawab gemuruh halilintar setiap kali tombak petir itu ditempa. Mesin tenun raksasa berdiri jauh di belakangku, dengan peri peri cebol dan sebuah paron yang terpintal erat dalam lautan benang, menyatu dan menjadi pusat dari sang mesin. Sarung tangan besi melapisi kedua tangan peri peri penempa, panjang tulang mereka korbankan untuk mengisi tubuh yang padat dengan otot otot, bukti bahwa telah mereka angkat martil raksasa itu semenjak bahkan waktu masih dalam kandungan. Beberapa dari mereka yang tidak menempa berdiri di kedua sisi mesin penenun sambil terpejam merapal mantera ke arah sudut tembok, mereka gerakkan tangan dengan pola tertentu sambil sesekali terpaksa melayang. Serbuk serbuk mengkilat yang sebelumnya melapisi tembok pun seolah terhirup, beterbangan sesuai gerakan tangan sang pemintal benang, menyerap ke dalam mesin penenun dan siap untuk ditempa menjadi senjata.

Betapa aku percaya, bahwa ketakutan telah kutinggalkan, kebijaksanaan telah kupahami, dan cara guna indera langit telah kuketahui. Namun hati ku bergetar, dalam beberapa mikro detik setelahnya jaringan otot ku pun melemas dan kehilangan tenaga. Aku melihat dunia, namun tak mampu memahaminya. Aku ketakutan. Entah apa yang akan mereka lawan, para peri berperangai mengerikan terlihat bersiap menghadapi sesuatu yang tak tergambarkan. Sulit kupahami apa yang mampu membuat mereka cukup takut hingga mendirikan menara menara perang yang menjulang. Pada pijakan tertingginya para pelempar berdiri. Puluhan lembing besar di punggung mereka, dua diantaranya telah mereka hunuskan dan siap dilontarkan. Dengus nafas mereka menggema, menjadi aba-aba untuk regu kedua bangkit dengan kabut besar di punggung mereka. Tubuh pasukan kedua yang nyaris tanpa otot membuat langkah mereka seolah melayang. Dengan mudahnya mereka menyeruduk maju ke garis depan, membawa lapisan kabut yang membentuk tirai. Sebuah pertahanan demi membutakan lawan.

Setelah itu raungan.

Langit muntahkan bebatuan, butiran kristal yang menjadi pasir beterbangan.

Peperangan akhirnya dimulai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s