Cerita Starla

Moon, high and deep in the sky
Your light sees far,
You travel around the wide world and see into people’s homes.
Moon, stand still for a while
and tell me where is my dear.
Tell him, silvery moon,
that I am embracing him.
For at least momentarily
let him recall of dreaming of me.
Illuminate him far away, and tell him,
tell him no one is waiting for him.
And If his human soul is dreaming of me,
may the memory awaken him Moonlight, 

That he is a wolf chasing nothing.

 

Mentari tersenyum manis perlahan pancarkan cahaya bangunkan dunia, ingkatkan kembali harapan dan mimpi di pagi hari. Temani dan terangi dunia tanpa biarkan gelap sedetik pun, jauhkan dari ketakutan akan sepi di siang hari. Namun mentari pergi seperti dalam kisah Cinderella, jam pun berdenting, tanda mentari siap lintasi dunia lain, kembali emban tugas, jadi mimpi, harapan pelenyap sepi.

Malam datang menggantikan. Sunyi, mencekam dan dingin. Ketakutan selimuti dunia, meninggalkan sang bulan yang bertugas terangi malam. Dalam gelap ia coba kembalikan mimpi serta harapan hingga mentari pulang gantikan. Sayang bulan tak pernah miliki cahayanya sendiri. Ia berjuang dalam redup, dan tak pernah kita sadari bahwa perlahan bagian dari tubuhnya terus hilang. Bulan tak sekuat mentari. Ia terus jatuh rapuh dan sekarat. Tetaplah cahayanya yang keras kepala, berusaha membawa benderang meski sebentar.  Sampai di hari ketika kerajaan putih tak lagi sanggup bertahan dari hujaman gelap malam.

Langit mengerti, hujan turun, air mata bulan tak terbendung hasil dari derita tak tertahan. Badai melanda, kilat menyambar nyaring, serupa raungan bulan tangisi sepi. Dambakan sebuah kehangatan jiwa tulus murni. Rindukan sosok ibu yang hilang, untuk temani di kala mentari pergi.

Maka di suatu malam, Prajurit bulan turun ke bumi cari harapan terakhir, seorang ibu yang dapat lahirkan keberanian, kehangatan, mimpi dan harapan demi bulan sinari malam. Seorang perempuan berselendang aurora, seputih salju dengan rambut hitam gelombang, seorang yang selalu tersenyum dan bernyanyi bersama bulan. Takut terpancar ketika prajurit bulan bawa terbang. Di benaknya hanya ingin teriakan nama yang ia cintai, namun suara merdunya hilang. Tanpa kata terucap, hanya bisikkan satu nama Taraksa.  Pergi jauhi dunia, bersisa tetes air mata.

Sampai di tempat asing. Ia coba arahkan kaki, namun entah menuju mana. Disana semua terlihat sama, sebuah kekosongan redup, tidak apa apa. Berjalan jauh sampai injakkan kaki di tanah berair, ia sadari ia tak dapat kembali bercermin. samar wajahnya yang perlahan menghitam jadi bayangan, hanya terlihat seiring munculnya bintang-bintang yang selama ini sembunyi terangi sekitarnya. Kunang-kunang berterbangan di sekitar, sebuah pohon besar membungkuk di tepi danau melambai-lambai. Indah. Tempat ini pernah indah. Dan ketika puluhan dari mereka menghirup jutaan warna seiring diri Starla yang terus gelap menjadi bayang bayang, Ia tersadar. Jiwanya lah yang dibutuhkan untuk hidupkan kembali tempat yang perlahan mati. Semakin dalam Ia tenggelam, semakin hidup tempat sekitarnya, semakin banyak bintang yang tak bersembunyi. Bulan yang dulu nyaris hilang, munculkan kembali tubuhnya, bersiap jadi purnama.

Tanpa Starla, malam adalah selubung pekat tak berbintang. Tanpa jiwanya, cemas datang digantikan ketakutan, dunia gelap yang sepi, manusia yang tak pernah berhenti berlari. Maka Starla relakan jiwanya, Starla tenang, Starla mengerti betapa hidup yang ditukar hidup adalah makna dari dunia yang benar, Starla tak ragu, hingga sayup sayup terdengar panggilan namanya. Taraksa. Terbang menembus lapisan-lapisan langit malam demi menjemputnya.

“Jangan…”

Semakin Taraksa dekat, semakin Starla berat untuk relakan jiwanya. Namun dunia butuhkannya. Lapisan malam keji, ingin lahap Taraksa kembalikan ke dunia, atau bunuhnya sekalian, karena tidak ada yang boleh tembus langit, datang ke bulan tanpa izinnya. Starla pinta langit bulan dan bintang, temu sosok yang ia cintai terakhir kali. Meski malu tak terbendung, lihat tubuh hitam jadi bayangan. Langit bulan bintang izinkan, mereka butuh pengorbanan tulus. Jiwa murni Starla.

Little star of the distant sky,

you see my pain,

you know my anguish.

You are my star, my beacon.

You know that soon I shall die.

Come down and tell me

Would you love me just for a little while.

 

Pintanya terkabul, di pertemukanlah mereka. Dilihatnya sosok yang ia cintai untuk terakhir kali. Lalu Starla pergi. Tenggelamkan diri, menyatu dengan bulan. Tetes air matanya terbang menjadi dandelion, berkelana di seluruh bulan, jadikan lembah indah seperti dahulu. Lahirkan kekuatan untuk terangi dunia sampai mentari pulang.

Bulan pun terus sinari dunia malam. Sesekali, munculkan bentuk sabit, titipkan senyum hangat Starla untuk Taraksa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s