Baluku dan Langit

Balu.

Disana. Di kaki bukit yang terlalu dingin untuk kusebut desa, bulan sabit menatapku dengan satu satunya sumber kehangatan yang ada. Aku selalu merasa lengkungnya adalah senyum Starla.

Ahimsa memang selalu dingin. Namun mungkin sebelumnya kepercayaan aku dan seluruh warga desa membentuk rantai perasaan yang kuat, membendung segala cuaca ekstrim yang merasuk, membuat kami terus menyanyi, menari, menggumamkan puja puji pada rembulan.

Sekarang hanya ada Balu.

Meracau tentang ilmu yang bahkan kepala desa tak akan tahu.

Di lepas pantai udara, akan ada logika yang berseberangan, seorang yang membenci musim gugur dan mengharapkan musim semi.

Satu orang?

Hanya satu, begitu tertulis di catatan para peri.

Catatan para peri? Kau mendapatkannya dari…?

Itu tidak penting. Kalian semua berperang dengan tombak dan tameng, lalu dapatkan hasil buruan cukup untuk santapan malam ini. Aku dengan ilmu, buku buku dan kisah, suatu waktu kaumku akan terbangkan manusia ke sudut bintang paling jauh dari dunia.

Lagi lagi prajurit tua berbadan besar ini membanggakan betapa informasi akan menyelamatkan bumi. Aku tidak menentangnya.

Sayangnya musim semi tak pernah datang di lapis ke enam. Nelayan tua itu akan menikmatinya dengan tegukan yang disajikan oleh seekor ikan.

Tidak masuk akal.

Justru itu. langit ini berbahaya karena runutan realita akan berbalik, dan aturan yang menyebalkan akan datang.

Pantai dan nelayan, seperti cerita anak-anak.

Apakah kau selalu mengerti alur sebuah cerita anak?

Tidak selalu.

Sama seperti lapis ini. Dan tempat ini bisa jadi bukan pantai, bisa jadi perbukitan dengan warna terus berganti namun kau akan mempercayainya sebagai hijau.

Apa apaan itu?

Ah tidak, disini tertulis para peri pun tidak bisa memutuskan apakah tempat ini adalah bukit atau pantai tanpa laut.

Terdengar gila.

Tunggu sampai kau jejakkan kaki disana.

Kami tertawa.

Kau akan melakukan kesalahan. Mau tidak mau, begitu kata para peri pengembara.

Lalu?

Namun kau harus perbaiki kesalahanmu.

Caranya?

Entahlah. Namun disini tertulis bahwa kau tidak boleh membuatnya marah, kau tidak boleh membuatnya terlalu menyukaimu pula. Kemarahannya berarti kehancuran seluruh langit, Ketertarikannya padamu akan membuatmu terkurung disana selama ratusan bahkan jutaan tahun.

Makhluk apa dia?!

Sepertinya ia manusia. Begitu ditulis disini. Namun ‘sepertinya’ digarisbawahi berkali kali.

Mungkin ia sesuatu yang lain.

Bisa jadi ia reptil.

Yang benar saja.

Aku tidak bercanda, tertulis jelas di sini, tepat di bagian penjelasan mengapa ia lebih menyukai kiri di banding kanan.

Kiri dibanding kanan, Kenapa lagi?

Karena dahulu ia pernah memiliki kekasih yang tinggal di mata kanannya.

Biar kutebak, kekasihnya seekor kadal?

Semut. Tapi tebakanmu cukup baik, ia memang menyukai kadal dibanding reptil lainnya.

Apa yang terjadi dengan kekasihnya?

Mati terinjak.

Aku tidak bisa menahan tawa namun awan hitam datang menggelora tepat sebelum kulepaskan gelak. Balu beranjak dan menepuk pundakku. Ia menawarkan catatan itu dan seperti layaknya ketika ia tawarkan catatan harian kepala desa, aku menolak.

Seperti biasa, Baluku pergi menjauhi desa, memasuki gua tempat ia dan seorang bocah tinggal.

Bocah itu kunamakan mengikuti nama pemimpin malaikat dari sebuah buku yang nantinya disebut suci, begitu katanya waktu itu.

Seingatku nama bocah itu ber inisial M, namun aku lupa lengkapnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s