Tak terucap

sekarang.

hanya menjadi bayang yang kian pekat seiring jumlah kata yang terus kupersingkat.

terlau banyak yang seharusnya bisa diceritakan, terlalu banyak yang semestinya bisa didengarkan.

meski itu hanya sekedar pecahan malam-malam.

yang aku mau hanya ruangan. tak pernah lelah aku berucap itu. semua ini terlalu bising, begitu ramai-sesak, menghimpit keberadaan kata kita yang seolah pernah ada.

seolah.

sebersit nyata yang mungkin hanya menjadi selimut tanpa bentuk. kini tak lagi berarti, tergantikan oleh bilangan lain yang lebih penuh janji.

memang sulit untuk bernyanyi begitu pelan dalam tekanan.

karena itu aku hanya tersenyum, mencoba mengembalikan sedikit makna yang sepantasnya ada. Demi semua yang tak terucap.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s