Seringkali dalam kini

Tak akan lama yang dahulu menyendiri, Tetap sendiri.
Seperti yang sebelumnya menemani sisi, tetap disini.

Selambatnya waktu itu mencoba mengejar. Aku selalu lebih lemah.
Lebih lelah
Lebih marah
lebih gelisah

Secepatny ingatan itu mencoba kembali, seperti sesingkatnya kamu mengeja namaku. Tak bersuara dan tak berupaya, melantunkan aroma sunyi yang tertatih tatih langkahnya.
Tak berjejak. Tak bernyawa

Aku benci dirimu yang ini. Seperti aku benci wajah yang menatapku dengan sinis baris tak menentu. Dan tanpa kusadar, wajahku sendiri mengambil peran besar disana.
Wajah yang kubenci. Wajahku di wajahmu yang enggan lepas dalam kalut..

Mungkin lebih baik pergi.
Namun hanya berarti menantang sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s