Peran malam

Perduli. Seperti mati yang tak mau hidup lagi. Meski dalam pelukan, juga dalam hening hembus terangnya malam.

Aku sadar. Seberapa banyak pun perduli yang pernah kucoba beri. Bahkan tak menambah kelit hancurnya kita. Seperti terpatah lalu ditumpahkan. satu kalimat. Lalu kalimat lainnya. kemudian yang datang menyerbu di setelahnya. Dalam terik panas pukul 12 siang yang biasa kita temui.

Aku tunggu selalu jadwal itu. kupatuhi meski berlawanan dengan inginku. Waktu pergimu, waktu datangmu, waktu dirimu membutuhkanku. Semuanya waktu ‘mu’

Hingga aku mencoba mencari ‘aku’ disitu. kemudian gagal dan terbahak lelah.

Sekarang yang berdiri dihadapmu bukan seorang spesial yang mampu membawa senyum setiap waktu. Jelas yang berdiri di sisimu, hanya selewat kalimat yang kau tolak maknanya. Tanpa hormatmu. Tanpa waktumu.

Mungkin aku berdiri di hadapmu. Dan sekarang menemani sisimu.

Aku.

yang hanya dinanti jika tak ada yang lain mengisi hari.

Aku.

yang berarti. Tapi bisa diganti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s