Jalan yang diterpa mimpi

Seperti barisan keresahan.

Bertubi-tubi, berkali-kali, dan tak mau usai-usai meski teriakku telah habis suaranya.

Hanya dengan 1 pertanyaan, yang mungkin tak akan pernah kujawab hingga akhir. Kepada siapakah harus kugantung masa depan disana?
Kepada mimpi?
Atau kepada dunia?

Dunia ini meminta kepastian. Jika kugantungkan padanya, maka aku akan mengemis dengan patuh pada mereka penterjemah mimpi. Tapi tak bolehkah ku tulis jalur sendiri? Bakatku yang menceritakan siapa itu diri? Dan meminta dunia ini menggantungkan ceritanya padaku, bukan sebaliknya.

Mimpi itu tetap tak mau berjanji. Bahkan langkah ku pun ditarik berat oleh jutaan jeruji. Apakah aku harus mengerti?
Bahwa yang kita gantungkan seharusnya bermakna. Bahwa harusny kita setuju saja pada dunia. Karena yang diminta mereka adalah upaya, Bukan daya. Dan mimpi itu butuh jutaan upaya, tapi menjanjikan akhir yang tetap tak berdaya.

Mungkin esok pun aku akan jadi pelacur dunia.
Atau mungkin esok aku tetap mengejar kekosongan mimpiku yang tak menuju apa-apa.

Tapi paling tidak, hari ini aku punya kamu yang tetap mau mendengar segala kata-kata.

Terimakasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s