Angka dalam mimpi

ketika mata ini telah terbuka dalam himpit dingin serta sunyi.

tak ada perasaan spesial yang datang bersama hari. mungkin lebih pantas disebut takut dalam diri. tentang kaum merdeka yang kemudian membangun pedatinya. tentang kisah ksatriya yang kemudian menterjemahkan arus deras sekelilingnya

tentang ia yang melabeli waktu dengan hari, masa dengan umur, detik dengan angka.

aku. serta dunia. kaum yang mengikutinya. lalu tertunduk disaat mereka berkata. ‘engkau belum pantas untuk berkata apa apa’

kepantasan mimpi itu hanya bisa ditentukan oleh sekitar yang memeluk batasannya. kepantasan mimpi itu, lalu dicoba dinomori, lalu dicoba di beri angan. kepantasan itu, tidak pernah aku nikmati. hanya kelam. jeruji mimpi yang selalu datang bersama malam.

takaran jiwa. yang berhasil mendahului, diiringi tepukan menyambar reputasi. yang gagal. hanya diam meratapi. seperti ulat api, seperti lekuk jemari. percaya suatu waktu reputasi hanya akan menjadi beban yang tak henti. dan ratap ini pun akan berakhir sampai disini.

di tengah tengah jiwa yang telah dunia nomori. aku melihat angka dalam mimpi. melihat sosok senyum yang justru berkata. “engkau bukan manusia hina! itulah sepantasnya wujud cita cita!”

penuh gegap gempita. meski dunia tidak percaya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s