Teori Malni

Waktu itu bergerak lebih cepat dari yang seorang kancil mampu kejar.
Potongan frasa yang dibaca oleh Malni.

Begitu menarik apa yang lembaran kekuningan di sebuah buku dengan judul tak puitis itu mampu ajarkan padanya. Ia merasa bahwa itulah yang benar, yang menjadi tanggung jawab dirinya sebagai manusia, yang siang itu hidup secara biologis.

Bagaimana tidak, pori-porinya terbuka dan tertutup sesekali sewaktu kulitnya harus mengeluarkan tanda kepanasan. Ia pun bisa mencium, bahkan lalu refleks terbatuk ketika sebuah kendaraan umum berwarna hijau membalap motor yang ditumpanginya seraya tersenyum pada pembonceng Malni. “Nampaknya dia cukup terkenal di daerah sini.”

_

Hidup. Itu yang Malni rasa. Tapi untuk tahu lebih banyak tentang Malni. Dan mengapa ia hidup, Malni tidak bisa selamanya menjadi Malni. Malni harus menjadi Saya, dengan kapital “S”. Saya harus mempertontonkan pengalaman Malni – setelah sebelumnya memikirkannya lebih dulu.

Mungkin itulah hidup. Itulah definisi. Bukan tentang apa yang orang-orang pikirkan tentang ‘Satu’, tapi apa yang ‘Satu’ itu lihat, diterima olehnya, lalu distandardisasi oleh lingkar sosialnya.
“Bah, manusia!”

Lalu sekarang Malni saya.
Lalu Malni sekarang saya.
Dan yang Saya lihat adalah ketidakadilan.

Sang supir ojek yang sepertinya begitu eksis itu tak pernah paham akan eksistensialisme, dan dia tidak peduli. Saya juga Malni peduli. Saya tidak ingin sekedar terlihat bergerak dan lalu disapa di lorong, tempat saya seharusnya bersosialisasi, kemudian menepuk pundak siapapun yang menurut saya patut. Itu sampah. Itu terlalu menjijikan untuk Malni, atau maksud Saya, Saya. Apakah ini yang disebut hidup? Bernafas di pagi hari, lalu mencari manusia lain untuk berbincang, berhubungan, tersenyum, lalu mungkin memeluk para sahabat dan mencium seorang atau lebih kekasih? Apakah nyawa itu selalu didasari oleh hubungan antar manusia? Itukah eksistensi?

Apa bedanya Saya dengan tukang ojek atau supir angkot tadi? Mungkin bedanya, supir angkot tadi saling tukar salam sambil sesekali mentraktir sang tukang ojek secangkir kopi hangat dan sepiring gorengan di hari ulang tahunnya. Sedangkan lingkar sosial Saya, menjinjing tas a’la borjuis, mentraktir di restoran necis, dan memberi hadiah ulangtahun yang prestis.

Tapi ini kisah tentang Malni yang telah menjadi Saya. Atau Saya yang mencoba menjadi Malni. Ketidakadilan ini, tetap Saya lihat. Eksistensi yang tidak berbeda, hanya saja ekonomi menggerus dengan kekuatan yang amat jauh berbeda.

_

Dengan cepat liukan sepeda motor ini membuat pertanyaan baru. Pemikiran baru. Bising kota yang telah dikutuk oleh macet Sabtu-Minggu ini begitu menyadarkan Saya akan kehidupan Saya. Meraba-raba tangan sendiri, tanpa mempedulikan tubuh yang berkali-kali nyaris jatuh ketika semrawut zig-zag barisan mobil pribadi dan angkot (yang kali ini supirnya tak dikenali oleh sang supir ojek karena ia sudah terlalu jauh dari area kekuasaan) dipaksakan untuk dilewati.
“Ini dunia yang mengikat.

_

Batas itu begitu. Terlalu banyak, dan Saya enggan berlama-lama disini. Meskipun panca indera menjanjikan kepastian, tapi Saya tidak (ingin) peduli ketika pengemis, dan gembel berjejer bersisian, lalu  anak-anak peminta-minta dengan kecrekannya. Maka masuklah Saya. Ke alam tanya dan alasan.

Malni bingung, begitu pula Saya. Apakah begitu indah gedung-gedung yang sekarang Saya lewati?  Cahaya yang mulai dinyalakan, menggantikan siang yang semakin temaram, aspal keras yang bangun, menggantikan tanah yang tidak stabil, kendaraan cepat yang memotong waktu, meniadakan arti perjalanan lewat kaki.
“Cih, deviasi manusia akan hukum alam!”

Metropolitan, sebuah benda besar, tubuh bernafas yang segala-galanya disesuaikan dan dipermudah. “Bagi mereka yang menggenggam roda ekonomi.”

Kreasi manusia. Dari sanalah ketidakadilan itu muncul. Dari sanalah protes besar kaum kami, bersama Malni datang. Jika nenek-tua-kami mati diterkam harimau maka alam yang merenggut nyawanya. Tapi pengemis itu? Benda besar buatan manusia inilah yang perlahan-lahan membunuhnya. Bukan alam. Tapi manusia dengan daya cipta dan kenyataannya.

Malni (Saya) pun lalu melanjutkan pikirannya, kenapa pengemis itu tidak kembali ke hutan lagi saja sana? Kenapa dia tertunduk lesu di pinggir jalan ini dan tidak kemana-mana? Manusia mati. Selalu seperti itu.

“Manusia mati. Bukan karena ketidakadilan sekitar, berarti. Manusia mati. Karena ia memang mau mati. Bodoh sendiri. Tidak bergerak. Mati. Mati. Mati.”

_

Jadi Malni tidak lagi melihat ketidakadilan. Jalanan ini terlalu panjang untuk memikirkan itu. Banyak pemikiran lain. Ia hidup toh? Ia bisa mencium bau keringat supir ojek yang terpaksa di dekap erat dan mendengar bising truk besar di sampingnya.

Yang pasti. Realita hanya menarik Saya sesekali. Ketika ada bentuk ekstrim yang datang dari sekitar, terlalu besar untuk dihindari. Mendalami pemikiran sendiri, itu yang dilakukan, dan setelah itu Saya memunculkan paham baru dari berbagai kemarahan yang muncul berkat warna-warni potret jalan layang.

Tentang apa yang Saya terima setelah lelah, tentang dasar fundamental dari diri Saya sendiri. Bahwa Saya, punya dua kesadaran, dan salah satunya terlalu mendominasi. Kesadaran pikiran, yang membuat Saya terlalu lama berkutat di dunia ide, dan ada pula kesadaran fisik, yang menjadi jendela dari pemikiran-pemikiran, yang membawa Saya keluar dari kompleksitas dunia ide. Insignifikan. Mungkin begitu. Di satu sisi fisik terlalu membatasi, terlalu mudah menjadi bentuk definisi. Sains sudah menelusurinya secara penuh. Tidak menjanjikan spekulasi, tanpa mimpi, hanya sakit, atau gravitasi. Level dasar dari sadar.

Dalam teori Malni ini, pikiran hanya lahir setelah fisik itu ada. Eksistensialis. Jadi yang mungkin mereka sebut ruh, itu kesadaran kedua. Tapi tidak, tidak bisa seperti itu kiranya, Saya harus sadar dulu. Saya sadar bahwa Saya hadir, lalu perlahan membentuk selubung fisik, dan baru setelah itu ‘sadar’ tersebut berkembang : bahwa Saya ada. Entitas tidak butuh fisik, maka dari itu Saya hadir sebelum Saya berbentuk. Esensialis.

_

Dan lampu merah pun menyala.

Motor yang berhenti terlalu kencang itu tidak lagi bisa memburu waktu sang kancil. Mungkin itu yang dimaksud di buku Malni. Waktu itu berkecepatan pikiran. Dan kancil, hanya fisik. Ia berlari cepat, namun selalu akan terbalap. Di sisi lain kancil justru nyata, waktu tidak. Kancil hidup, waktu sekedar mengalir. Bahkan pikiran dan fisik mengalir dalam waktu yang terlalu relatif. Tak terukur satu parameter dan saling mengejar ketika pikiran sesekali memaksa stagnasi.

Lalu Malni kembali dalam realita barunya. Teorinya. Kesadaran pikiran yang dibentuk diawal, membentuk kesadaran fisik. Tapi itu tidak bisa selesai begitu saja pikir Saya. Mereka berdua akan saling membangun secara berkesinambungan. Tangan akan memaksakan pukulan untuk melindungi atau menyakiti. Esensi akan hadir ketika fisik itu ada. Tapi fisik itupun, tidak akan berguna tanpa sebuah tujuan, karena ya…. Akan kembali lagi pada adil tak adil dan hidup tak hidupnya Malni. Jika fisik itu tanpa esensi, maka Saya akan kembali menepuk pundak manusia-manusia gila reputasi itu.

Lama-lama Malni menjadi benci manusia. Karena baginya, manusia terlalu banyak memuaskan sadar fisik mereka. Mereka bodoh. Terlalu tolol untuk sadar bahwa yang luhur ada di sebuah pemikiran dalam. Malni merasa bahwa ketika sang supir ojek memaksakan menerobos lampu merah tadi, begitu tidak penting. Aturan manusia, yang terpaksa ditaati oleh menusia. Terpaksa? Mau hidup seperti itu?

Buat apa menunduk pada konvensi manusia? Itu sih bullshit.

Tapi sepertinya bus besar itu menuruti cahaya hijaunya.
Dan lalu motor Malni hempas,
beserta kesadaran fisiknya terpental puluhan meter,
tepat setelah sang supir ojek berhasil lompat jauh-jauh.

Apa daya,
Malni sedang tak memperdulikan kesadaran fisiknya itu,
terlalu melelahkan mungkin.

Yang pasti, Malni mati. Saya tidak. Tapi Saya pernah menjadi Malni, dan Saya teringat kata-katanya waktu itu.
“Orang bodoh tidak perlu mengerti. Apalagi berharap tanyanya akan dijawab cepat-cepat.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s