Tentang berhala makna

saya bukan sarjana atau akademisi yang bergerak di bidang sastra.

 

Bagi mereka yang salah satu atau keduanya, tulisan ini bisa jadi dianggap sebagai bentuk seorang tak tahu teori, kemudian sekedar meracau.

 

Bagi mereka yang bukan, tulisan ini pasti terdegradasi maknanya. “buat apa saya membaca kritik serta telaah sastra dari seorang penulis tanpa nama?”

 

tapi saya tetap meneruskan menulis apa yang ingin saya tulis setelah usai mencantumkan fakta miris di atas. Saya tetap akan menuliskan apa yang ingin saya tulis, bahkan setelah tahu jika kedua pernyataan awal itu benar, maka bagian yang sedang saya tuliskan sekarang ini tidak akan dibaca oleh siapapun.

 

Mengapa? Karena sebuah tulisan, tidak harus selamanya melontarkan diri, atau dilontarkan penulis, menuju khalayak untuk bisa dinikmati –atau dicaci- secara publik. Tidakkah ketenangan dalam sastra terletak ketika tulisan adalah sekedar apresiasi egois estetika (dari dunia), yang kemudian dibuat soliter keberadaannya, dalam laci mungkin, dan terus berada disana.

 

Tanpa pembaca, akan terdegradasikah keindahan sebuah kisah?

 

Estetika, adalah estetika, jadi saya rasa jawabannya adalah tidak. Sama sekali tidak ada hubungan antar seberapa banyak pujian yang di dapat sebuah tulisan dan indah tidaknya.

 

Estetika tulisan harus eksklusif, personal, dan tidak boleh diberikan standardisasi. Penulis, tentunya berusaha membangun nilai tersebut, namun untuk pembaca dapat mengertinya? Harus ada makna di sana, dan seperti apa yang dikatakan oleh TS Elliot dalam salah satu lekturnya di Harvard, bahwa makna puisi adalah sepotong daging yang disiapkan perampok untuk anjing penjaga, sekadar memberikan kepuasan dan menenangkan pikiran pembaca untuk bisa memenuhi kebiasaan ‘mendapatkan sesuatu’ setelah melakukan aksi (membaca). Senada seperti dalam konteks puisi inilah, maka sebuah cerita dalam tulisan, tidak harus selalu mengumbar makna, demi bisa memberi ruang untuk pelbagai hal lain dapat berkembang dalam alurnya.

 

Pemaknaan, justru harus amat luas, atau justru samar, atau justru hanya seolah ada. Karena seni bukanlah realita, dan makna, adalah alat dari kaum realis. Sebuah berhala.

 

Bukan berarti makna tidak penting, namun seperti yang dikatakan sebelumnya, makna akan senantiasa melakukan generalisasi dari apresiasi, sedangkan jika indah itu menjadi suatu subjek yang populis, maka akan terlalu banyak distraksi disana. Dari anggapan hingga bentuk pengidolaan, makna seringkali merusak apa yang tadinya murni, menjadi sekedar disukai karena ‘dunia’ mencintainya.

 

Contoh yang cukup populer adalah eksperimen sosial dari Washington post yang membuat Joshua Bell, seorang pemain biola kelas dunia serta biola bernilai 3.5 juta dolarnya bermain di sebuah stasiun kereta Washington DC.

 

$32 dolar saja ia dapatkan disana.

 

Masyarakat, berlalu lalang tanpa tahu siapa yang memainkan biola tersebut, gagal memberika apresiasi selayaknya jika diberikan fakta besar bahwa ia adalah pemain biola terkemuka yang sedang memainkan salah satu lagu terbaik di dunia. Mungkinkah sudah terlalu lama apresiasi manusia akan estetika digiring oleh embel embel dan tekanan sosial? Kali ini saya rasa jawabannya adalah ya.

 

Makna adalah pemalsuan, terutama ketika kunci dari manis cantiknya sebuah kisah, terletak pada proses, bukan hasil akhir yang mencuat di ujung ujungnya. Dimaksud disini adalah bahwa setiap pembentukan sebuah tulisan, cerita, atau sepenggal kalimat, selalu mencoba menggapai apa yang ada di semesta. Namun selalu gagal.

 

Disinilah elok itu muncul, ketika ada jarak antara hasil akhir usaha dan kenyataan. Usaha tersebut, dengan menghasilkan sebuah senjang antar apa yang riil dan usaha relatif-maksimal, menjanjikan sensasi, varian, serta jumlah keindahan tak terhingga.

 

Ketidak tercapaian nilai dalam realita, itulah yang membentuk suatu indah.

 

bukan makna.

 

 

 

Saya rasa.

2 thoughts on “Tentang berhala makna

  1. Temannya Vrina yang baik,
    saya juga bukan sastrawan, bukan penulis. Sekedar orang yang suka membaca dan berpikir. saya kira anda juga sama. Nah, intinya menurut saya di situ. berpikir. kalau tulisanmu diprint, dan kertas itu saya pakai untuk membungkus kacang, kertasnya bermakna untuk tukang kacang dan pembelinya. Kalau tulisannya saya lihat saja, akan tampak deretan aksara (barangkali orang asing melihatnya akan angkat bahu dan mencari bacaan lain). Kalau saya MEMBACA tulisanmu dan saya berpikir, “apa sih maunya anak ini?” berarti tulisanmu, mau tidak mau, sudah saya maknai. Apakah pemaknaan yang saya berikan sesuai dengan diharapkan penulisnya, masih tanda tanya besar. Resepsi dan persepsi serta pemaknaan saya diluar kekuasaanmu sebagai penulisnya. Kata teman saya, kalau tulisan sudah terbit, pun dalam buku harian yang disimpan dalam laci, tulisan itu sudah ‘lepas’ dari penulisnya. Mengerikan juga, tapi memang begitu.
    Saya kira ada dua hal yang campur-aduk di sini: ada orang menulis untuk memenuhi permintaan orang (yang ini ngga relevan di sini); dan ada yang menulis atas dorongan hati sendiri. Konon sastrawan adalah tipe yang kedua itu. Saya kira, anda pun termasuk yang kedua itu. Kalau tidak, untuk apa menulis yang di atas? Nah, berarti tulisan itu bermakna bagi anda (karena dalam proses penulisan, sudah ada kepuasan juga); tapi tulisan itu juga bermakna dan sama sekali bukan pemalsuan, walaupun saya hanya menikmati hasil akhirnya saja.
    Barangkali anda akan tertarik membaca buku tulisan Jauss mengenai audience reception (tentang penerimaan, persepsi dan pemaknaan tulisan).
    Weh, jadi panjang. Selamat menulis. Selamat memaknai rentetan aksaramu. (Frieda Amran)

  2. Menyangkan sekali komennya! Saya senang ad yg melakukan telaah pada tulisan saya yg cuma marah marah ini hehe..

    mengenai tentang lepasnya tulisan, saya sangat setuju dengan anda, ketika pemikiran telah berubah menjadi bentuk lain (tulisan dalam konteks ini) yang bersifat bisa diinterpretasikan oleh khalayak, tulisan tersebut sudah lepas, bukan lagi milik sang pemikir saja. yang coba saya perhitungkan disini, tentunya besar kecilnya jumlah audience yang menerima, membacanya. tulisan dalam laci tidak bisa dibaca siapapun, mungkin tidak perlu dibahas. namun begini, ketika tulisan saya keluarkan dari laci, saya lemparkan ke publik, banyak yang membaca dan menyukai, apakah berarti tulisan saya lebih indah dari tulisan shakespeare yang ia simpan dalam laci saja?. bagaimana jika kebalikannya, apakah benar seseorang yang mengaku menyukai hamlet, dan tidak menyukai kisah buatan sutan, benar benar mengapresiasi setiap bentuk keindahannya dengan murni? karena jika saiful jamil misalnya, menuliskan dan menerbitkan sebuah buku tentang kepergian orang tercinta, dan seorang udin dari madiun semisal, menuliskan hal yang sama setelah ia kehilangan dua anak, seorang istri yang sedang hamil dan sebelah kakinya dalam kecelakaan sepeda motor semasa mudik (ini fiktif), tulisan saiful jamil akan lebih banyak dibaca dan ditangisi oleh khalayak.

    popularitas yang lahir dari pemaknaan yang tidak murni, menurut saya tidak boleh menjadi nilai tambah dalam mengapresiasi. indah adalah indah.

    Saya sendiri belum pernah baca dengan lengkap bukunya jauss, yang saya tahu sebatas tentang hubungan kesamaan latarbelakang pembaca dan penulis dengan bentuk pemahaman pembaca.

    Menurut saya, keharusan kesamaan tersebut bisa membuat kenikmatan pembaca memaknai sebuah karya jadi sedikit terbatasi. keharusan ini, biasanya lahir dari adanya makna yang memang dari awal dicoba ditiupkan dalam sebuah tulisan.

    Jadi, bukan berarti makna itu tidak mungkin muncul, tapi jika penulis terlalu mematok makna, maka nanti akan lahir benar-salah dalam pemaknaan itu. seperti yang jauss bilang, ad perbedaan latar belakang yang jauh antara penulis dan pembaca. Jadi jika saya misalnya, mencoba membuat makna A yang lahir dari latar belakang A pula, pembaca seolah tidak boleh memaknai dengan B, padahal kelatarbelakangan B diriny tidak bisa dia ubah.

    Jadi tante, hehe.. (Vrina cerita), maksud sutan itu, pinginnya ‘pemaknaan yang sesuai dengan penulisnya’ itu tidak usah ada saja. Biar saja setiap orang memaknai sendiri sendiri.

    Tentu tulisan ini bermakna bagi sutan, sangat bermakna. Setiap tulisan sutan, bermakna bagi sutan. Tapi sutan rasa, persepsi satu orang (yang cukup punya power di kalangannya baik luas maupun sempit) akan sebuah tulisan, bisa membuat orang orang lain, yang bahkan tidak membaca atau memahami apa yang sutan tulis, seolah olah memaknainya sebagaimana orang yang benar benar membaca. Sutan tidak ingin ini.

    Trimakasih banyak sekali lagi tante, sudah mau membaca tulisan sutan. Karena untuk membuat tulisan sekedar indah tanpa makna, itu sulit. buat level sutan, tidak mungkin. Tapi senang sekali tulisan sutan yang sedikit maknanya ini mau diberi komentar. :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s