Social Warfare

“Sejarah itu seperti memeluk mereka yang kuat. Tanpa mengizinkan lonjakkan, meski dengan pemikiran yang lebih luhur dari sekedar garis keturunan”.

Dibacakan keras keras, beserta senyum lebar di wajah yang dulunya tambun. Entah penyair atau filsuf, namun situs ekskavasi ini belum pernah menjanjikan keduanya. Lalu kalimat itu ada, seperti bayangan sungil yang tidak sama dan dilarang ditemukan. Ter onggok terlalu dalam dan disembunyikan. Sebuah kejadian yang entah gembira, entah laknat, namun ia meratapinya. Ini menanggalkan semua perkiraannku, katanya.

 

Penggalian adalah maklumat. Seperti halnya menengok sejarah dari kacamata satu lensa, maka penemuan ini seolah berarti sebuah lensa baru. Yang berusaha kami temukan pertama, berkisar di bisakah kedua lensa ini dipakai bersamaan atau adanya kemungkinan memberi magnifikasi pada lensa yang sudah ada. Meskipun berdasarkan statistik presentasi kemunculan jawaban ‘ya’ di pernyataan pertama begitu rendah, tapi perut kurusnya tetap bersemangat. Jauh berbeda dari empat bulan lalu, arkeolog paruh baya itu tidak lagi meringkuk di pojok dan menggigiti biskuit susu. Sepertinya kental tanah, angin dingin, dan tentunya sepotong emas berukir kepala jaguar yang menyembul di tengah hujan membuatnya berubah, terlalu drastis tetap saja.

 

Semangat tidak berarti terlalu banyak ketika harus melawan terpaan fakta. Bagi pekerjaan ini, jika lensa tadi gagal menjadi pasangan dari lensa yang telah kami punya, magnifikasi bisa jadi amat berbahaya. Karena tidak selamanya sebuah temuan memberi jawab akan fakta yang ditanyakan, seringkali justru menjadi penolakan. Dan artefak artefak tersebut berubah terasing, seketika melayang, seketika hanya khilaf.

 

Hujan datang bersama malam, atau sebaliknya, kami tidak perduli. Sebuah meja bundar berwarna tidak selaras dengan kursi atau dinding, menopang dua hal yang warga Negara ini konsumsi dengan seenaknya – tidak seperti orang barat yang menganggapnya berharga. ‘barat’. Mungkin itu yang membuat kepala binatang emas ini begitu berharga di awal. ‘Seharusnya kultur mematung emas hanya ada disana, di barat itu…’. Sambil menyesap kretek merk lokal ini, saya pun enggan menjawab celotehan terpatah patah itu. Biarkan ia nikmati kecewanya sendiri. Ratapan seperti itu tidak untuk dijawab, ia hanya ingin di dengarkan. Ia menyeruput tehnya, lalu melanjutkan, ‘seharusnya semua runut, rampung, bukti bahwa kaum yang hanya ada di barat itu pun punya populasi disini’. Ia menundukkan kepalanya, dan saya beranjak pergi seraya menepuk pundaknya. Ia diam.

 

Ada sesuatu yang janggal dari kepergian ini. Entah berarti yang terlewat itu seperti mustahil yang dipaksa hadir, namun saya begitu percaya bahwa kalimat tadi bukan apa apa. Kekhawatiran akan pertanyaan, itu saja. Yang sebenarnya kami temukan adalah makam raja masa lampau, lengkap dengan segala pengorbanan budak dan selir selir, dikebumikan bersama berkilo kilo emas terukir indah sebagai ‘tiket keluar’ dunia fana. Lazim. Namun kemudian hadir sepotong batu pipih sebesar genggaman tangan dipeluk erat oleh satu satunya belulang budak yang utuh. Seperti layaknya menemukan bangkai anjing di liang presiden, maka struktur sebuah pemerintahan, bahkan budaya itu sendiri menjadi sebuah Tanya. ‘Apa apaan ini?’

 

Mustahil itu, bagi saya, hanya ada untuk robot (atau manusia) yang terkikis nalar. Mustahil itu bermusuh pada imajinasi, dan (lagi lagi) bagi saya, ‘apa apaan ini’ lebih terdengar seperti ‘wow’. Ini justru sebuah pernyataan, teriakan, atau mungkin justru enkapsulasi pemikiran, akan kebinatangan manusia yang bisa saja absen jika ditolak dengan penuh. Bahkan untuk anak. Bahkan untuk budak. Siapa sangka Marx pernah lahir di peradaban kuno dan alih alih menulis Das Kapital atau Communist Manifesto, ia menggenggam satu dari jutaan kegelisahannya dan membawanya ke dalam kubur.

 

Yang gontai dan lemah, bersamaan dengan bunyi derit yang mengisyaratkan aura serupa. Ia keluar perlahan, kali ini menenggak minuman yang justru entah mengapa menjadi lebih mahal di ‘Timur’ ini. Apakah ia sadar bahwa mabuknya hari ini sebagai bentuk pelarian tidak seberapa dengan jumlah mil yang ditempuh oleh pujangga kami.

 

Yang arkais pada akhirnya akan mati, itu benar. Tapi dalam sebuah lari panjang, rentetan kalimat puitis terasa lebih syahdu, dan pelarian budak/pujangga yang sekarang hanya belulang ini ribuan kali lebih panjang dari saya ataupun arkeolog mabuk yang sedang berteriak entah apa ke wajah saya ini. Mungkin saya juga berlari. Menikmati bayang bayang yang menyembul sesekali sembari menengok ke kiri, tanpa sadar kesekarangan menjadi asing bagi saya. Meskipun hampir tiga puluh tahun lebih muda dan tentunya tiga puluh tahun pula kalah pengalaman, namun tanah basah dan isinya telah berhasil menjerat saya lebih kuat dibanding dia. Dan sang budak? Saya merasakan airmatanya bahkan di tengah air hujan yang dibiarkan membanjiri situs purbakala yang tak lagi dianggap berharga ini. Saya disampingnya. Terdiam. Memandang sepotong tulang yang saya anggap bagian dari kerangka sang budak. Mencoba memahaminya

 

Entah apa yang terjadi tadi, namun di dalam jas hujan panjang norak berwarna oranye dengan lambang sponsor di punggung dan tangannya, saya sudah jauh dari pintu bar tempat bapak tua itu akhirnya pingsan setelah puas berteriak kecewa. Saya tidak tertarik dengan pemikirannya. Kekinian. Karena ia dimabukkan oleh mata terlalu lama. ‘melihat’ itu seperti candu. Seperti patahan muluk yang menjanjikan validitas dari segala hal. Mereka berkata empirisme? tapi pada akhirnya indera lainnya di dominasi oleh satu saja. Sang budak sayangnya, tidak seperti itu. Ia mencoba bahkan pergi dari deteksi yang lima, ia mungkin merasa. Kontemplasi dalam yang memang berkali kali dihujam pikir memikir, dan saya percaya, disana justru pikir itu menjadi berkilau. Karena pikir tanpa rasa hanya menyangsikan toleransi.

 

Di pinggir lubang yang sekarang seperti kubangan, saya mencoba menyaksikan seorang yang tenggelam. Seorang budak yang berpikir, mungkin marah, mungkin ia tidak begitu saja rela dimatikan demi kepercayaan yang ia ragukan. Karena pada masa itu hidup tidak menjanjikan ruang untuk nalar, apalagi imajinasi, hanya ada aturan. Ditelan bulat bulat dan (berharap) tertanam dalam di setiap anggotanya. Mungkinkah ada glitch dalam sistem ini? Tentu saja. Penurunan budaya terbukti tidak pernah sempurna, faktor eksternal seringkali menjadi alasan, namun tidak pantas diremehkan pula keberadaan dorongan dari diri untuk bertanya. Mungkin budak kita yang satu ini tidak butuh membaca titel dari salah satu buku Kierkegaard – De Omnibus Dubitandum (Doubt everything) – untuk mengenal penolakan. Mungkin baginya, menulis sebelum mati adalah bentuk ketenangan tersendiri. Sebuah kalimat yang justru enggan menyuarakan kritik, tapi sekedar meratapi insignifikansi-pemikiran dalam dunia yang tuli.

 

atau mungkin juga si tua gila itu sekedar salah menterjemahkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s