Samadenganstabil

Semasa bocah SMA, yang dibiarkan hancur atau khianat khas mereka yang tanpa tanggung jawab. Tangisnya, teriaknya, atau ketika senyum dan ceritakan sedikit terlalu banyak.

Mereka bilang, hanya kisah bocah labil.

Lalu waktu pun menunjukkan banyak hal. Mengajarkan banyak sakit dibalik kesenangan, atau sedikit harap di setiap akhir.

Mereka bilang, kamu telah menjadi tinggi. Dewasa samadengan stabil.

Ketika tak lagi ku ceritakan keresahan.
Ketika tak lagi ku ledakkan mimpi dan kesenangan.
Ketika tak lagi kutangisi setiap kepergian.
Ketika tak lagi kurasakan warna warni perasaan.
Ketika yang disebut kasih sayang, harus perlahan tumbuh, bukan spontanitas dua setengah jam.

Stabil.

Bukan tentang tidak. Tapi kapan.
Ketika kuceritakan keresahan pada seseorang saja.
Ketika mimpi dan kesenangan ditempatkan sebagaimana mestinya.

Tapi stabil memaksa itu. Melarang air mata. Memaku perasaan. Mencacah cacah warna warni yang diadapat hanya sekejap.

Di ruang kosongku. Aku tidak mau stabil. Aku mau teriak lebih kencang dari sebelumnya. Memukul lebih keras dari biasanya. Membayar masa dimana begitu banyak perasaan tak kututurkan selayaknya.

Dewasa tidaksamadengan stabil.

Mungkin tomat, kentang, atau kangkung itu yang samadengan stabil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s