Perspektif kegilaan

Waktu pun mencoba menggapai, lalu megucap berbagai kata.

Kita semua tuli

Ketika ia memijak tanah becek itu, aku berusaha menganalisa kaki telanjangnya yang sengaja mengorek ngorek tanah basah di bawahnya. Warga desa biasa.

Dibawah gapura aneh ini aku berdiri menenggakkan kepala, mencoba mengutak atik isi otak, merasionalkan keberadaan figur raksasa di ujung gerbang desa ini.Patung domba bertanduk sebelah. Patah. Menyambutku dengan angkuh seraya memintaku masuk dengan gerbangnya yang setengah terbuka.

Aku sudah lama bekerja di bidang ini, bukannya aku sombong, tapi tidak banyak perbedaan yang berarti ketika kau telah meneliti lebih dari 200 desa di berbagai penjuru dunia. Akan selalu ada pola, akan selalu ada isyarat. Kali ini, aku melihat pola dan isyarat agama.

Domba itu tuhan mereka. Itu kesimpulanku.

Kusadari hal itu setelah melihat banyak warga desa, terutama anak anak, yang berkumpul di sebuah gedung tua, menggunakan kalung berbandul potongan tanduk domba.Anak anak itu sepertinya sedang menjalankan pendidikan agama.

Ketika kumasuki gerbang itu, seorang gemuk mendatangi, dan dengan ramah memperkenalkan diri. Sarit Mandia, itu nama dia, aku tahu bukan karena ia memperkenalkan diri pada saat itu, namun jauh jauh hari ketika aku menghubunginya. Setiap aku memasuki desa baru, akan selalu ada orang sepertinya, yang menjadi titik awalku untuk bergabung dengan masyarakat sebuah pemukiman, dan pria gemuk ini setipe dengan orang orang itu.

Ini akan menjadi desa terakhirku. Itulah yang pertama terbersit dalam benakku ketika pertama aku merima telepon Sarit. Cara ia menggambarkan tempat tinggalnya sungguh hebat, hampir seolah ialah bagian pemasaran pariwisata desa nya. Tapi bukan, ia hanya dukun biasa.

bagai tertimpa kondisi sang tiga monyet bijak, aku langsung memutuskan untuk pergi kesana, aku yang telah beberapa tahun memutuskan untuk pensiun, yang sedang dalam proses membangun kehidupan baru tanpa banyak dinamika pekerjaan. Namun apa yang kurasa kali ini berbeda, bahwa perjalanan ini bukan penelitian, melainkan proses mencari arti kepulangan.

Magnet besar kata-kata Sarit seolah menyejukkan setiap bagian diriku.seolah telingaku membutakan pandangan, seolah susunan kalimatnyamenutup kemampuan verbal. Setiap deskripsi mengandung ajakan, memintaku untuk pergi ke sana, bukan untuk sekedar berkunjung, tapi untuk menetap selamanya.

Ekspektasi yang begitu tinggi, perasaan teratarik yang begitu kuat, membuatku mengabaikan segala insting penelitiku. Data data sekunder  seolah cukup bagiku untuk segera angkat kaki dari tempat tinggalku sekarang, dan langsung menuju desa berjuluk ‘lonceng utara’ itu.

Sarit mengecewakanku.

Tak ada yang spesial dari tempat ini, selain ajaran dan paham masyarakat yang masih sangat orisinil. Bahan penelitian yang menakjubkan, tapi sama sekali bukan kampung halaman.Sekarang aku berdiri seperti boneka putih di panggung yang kosong, dan tetap merasa bahwa inilah desa terakhirku. Perasaan yang sama dengan alasan yang jauh berbeda.

Aku pun masuk ke gerbang itu, mempersiapkan segala peralatan dan kemampuanku, menganggap ini menjadi sekedar penelitian lain bagiku. Tak ada ruginya tambahan satu desa dalam resume karirku, yang aku harap  bisa menjadi bekal untuk kehidupan generasi generasi selanjutnya.

Penelitian pun aku jalani seperti biasa, sambil berharap menemukan sedikit perwujudan kata-skata Sarit sebelumnya.

Tak terasa telah beberapa bulan aku menetap di tempat ini, dan secara garis besar bisa kusimpulkan bahwa desa inihanya seperti subjek subjek penelitanku yang lain. Menganut berbagai sistem yang di adopsi dari budaya sekitar, desa ini tidak se-unik atau menakjubkan yang Sarit pernah ceritakan.Aku pun berdiri di depan rumah pinjaman itu, lalu melihat seorang pria tua menghampiriku. Perlahan, dengan wajah penuh kebingungan.Sungguh aneh, berbulan bulan aku menetap disini, belum pernah kulihat wajah orang itu. Tapi ia terus menghampiri, kucoba tanyakan saja apa maunya, pikirku.

Sayup sayup terdengar suara dentangan kencang dari kejauhan, reflek aku mencari dimana asal suara itu, sebelum kurasakan hujaman keras di pundakku.

Tanduk besar yang menancap di sana, aku berteriak, wajah kakek itu masih terlihat bingung, dangen kedua lutut yang tersungkur di tanah. permintaan tolong yang keras tetap tak membangunkan puluhan tetangga yang berjarak tak lebih dari 3 meter dari tempatku. Sekarang sosok itu berdiri tegak mencoba menjatuhkan dirinya padaku, ia siap menyerangku lagi.

Kucabut tanduk dari pundakku, mencoba menahan ayunan besinya sebelum tanduk itu terpatah lebih jauh menerima beban hujamannya. Kusadari lukaku tidak terlalu dalam, saat sang kakek justru mundur dan mencoba lari menjauh. Suara lonceng begitu kencang memekakkan telingaku, kemarahanku memaksaku mengejar kakek biadab itu, tak sulit, namun ia tak mau menyerah. Terjanganku menghempaskannya,dan tanpa sadar potongan tanduk yang tadinya masih kugenggamsekarang bertengger di punggung sang kakek.

Yang aku tahu, puluhan warga desa mengarak tubuhku yang terikat kain putih.Obor obor panjang yang ditempeli bendera menghiasi pawai itu.Aku pernah melihat ritual ini sebelumnya.Ini upacara pemakaman khas desa ini. Tapi aku belum mati.

Tanpa daya, aku berusaha memikirkan alasan kejadian ini, sepertinya warga desa marah padaku yang melukai sang kakek. Tapi aku yakin mereka tahu kakek itulah yang melukaiku terlebih dahulu, dan akupun menyadari sesuatu.Ketika kutusukkan tanduk itu di punggungnya sekali lagi, tak ada bunyi lonceng yang kudengar. Itulah yang terakhir aku ingat sebelum apa yang kulihat sekarang. Bunyi itu berarti sesuatu, semacam kepercayaan.

Mereka menggantung tinggi tinggi tubuhku, rasa takut yang luarbiasa. Jantungku seperti akan meledakkan dirinya sendiri, saat puluhan warga desa yang seluruhnya terdiri dari kakek dan nenek itu mengelilingiku, menyanyikan lagu lagu pujian mereka. Mereka membawa domba domba bertanduk patah, dan mengalungkan patahan tanduknya, lagi lagi simbolisasi. Di tengah tengah ketakutan ini, yang kupikirkan justru kata kata Sarit, kata kata yang membawaku ke desa ini.

‘kami adalah orang orang yang selalu bermimpi, lalu kami mencoba mewujudkan mimpi itu, dan kami berhasil’. Sepertinya sekarang aku mengerti maksudnya.Tidak seperti yang aku kira di awal, warga desa ini tidak memimpikan uang, tidak memimpikan teknologi, juga bukan kedaulatan politis.mereka memimpikan nabi. Dan mereka menemukan nabi mereka.

ilusi yang mengerikan, saat yang mereka anggap nabi justru berdiri dengan empat kaki, merayap lebih rendah dari mereka, dan harus mereka beri makan selayaknya. Tapi itu bukan domba, dan tanduk itu tak pernah patah.Yang mereka kalungkan bukanlah tanduk, yang mereka kalungkan adalah gigi.

yang aku tahu, sekarang nabi mereka menggerogoti kakiku.

‘akan ada masa dimana desa ini bernyanyi, dan warga desa akan menikmati setiap melodinya’. Bukan ‘nyanyian’seperti layaknya nyanyian yang dimaksud Sarit, tapi lonceng yang dibunyikan sekali dalam beberapa bulan. Dan bentuk penikmatan itu tak pernah sekalipun aku pikirkan seperti apa, hingga sekarang mereka melakukannya tepat di depanku.

gerombolan lansia itu mencabut kalung mereka, gigi tajam yang telah diasah ulang. Dibawah siraman dentangan indah dari kejauhan, mereka menghujam satu sama lain, membiarkan diri mereka tersiram oleh cairan lain. Mereka tertawa, menari, sambil sesekali saling tikam. Kegilaan yang tak pernah kulihat sebelumnya.

setelah berjam jam aku melihat dan merasakan siksaan warga desa dan para nabinya, salah satu dari mereka naik, berdiri di atas batu tertinggi di tempat yang ternyata sebuah gua yang biasa aku datangi sekali dalam seminggu. Aku tak kenal lagi tempat ini, terutama setelah seluruh permukaanya sekarang menyala merah berkilauan, setelah bau amis menyengat bagai kabut menyelimuti keadaan, setelah sekarang, sang pemimpin upacara desa mulai memotongi jemarinya sendiri di atas singgasana batunya. seketika kegaduhan massa datang menabrak suasana. Ketakutanku justru hilang sepenuhnya.

Mantera mantera aneh mereka ucapkan, teriakan teriakan keras dikumandangkan, aku justru mulai mencoba mencari penjelasan yang cukup rasional. Entah apa yang merasukiku, tapi yang kulakukan adalah menalakan voice recorder yang terselip di sakuku. Dengan susah payah, aku pun mulai berbisik perlahan kearahnya.

“….Aku dianggap gila, dan dianggap patut dikorbankan oleh sang warga desa, karena melanggar aturan lonceng yang tak pernah aku sadari sebelumnya. Desa ini tidak mentoleransi kekerasan, kecuali ketika sajak sajak dentangan dibunyikan.Ketika masa itu datang, seluruh nafsu membunuh bebas dilampiaskan, pada orang lain, pada diri sendiri, rasa sakit pun selayaknya dikesampingkan.Sebuah ilusi pikiran yang gila….”

“….Satu hal yang kupelajari dari perjalanan panjang penelitianku. Tanpa tahu norma dan aturan, setiap manusia hanya melihat ilusi. Sebentar lagi aku akan mati, dianggap sebagai orang gila, karena aku telah melakukan sebuah tabu….”

“….Aku yang dianggap menderita ilusi, pendirianku yang menggiringku untuk melukai sang kakek, pendirian yang mengatakan bahwa mata patut dibalas mata….”

“….Mereka yang kuanggap menderita ilusi, pendirian mereka yang memendam paksa keinginan akan kekerasan dalam waktu yang lama, dan melepaskan seluruhnya dalam satu malam saja….”

“….toh pada akhirnya, jika seseorang melihat ilusi, maka orang itu disebut gila. jika banyak orang melihat ilusi, maka mereka disebut kaum beragama….”

kumatikan voice recorderku, saat sang pemimpin upacara selesai memberikan khotbahnya.

Dasar Sarit sialan.

tapi yaaa..Paling tidak perasaanku benar akan suatu hal, desa inilah desa terakhirku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s