Tanah yang kupijak

Ketika kali pertama seseorang merasakan cinta, ia akan tersenyum layaknya bayi yang menerima gelitikan kecil dari sang ibunda.

Ketika ia tahu cinta itu apa, ia akan tertawa, seperti sang ayah yang melihat anaknya terjatuh dari sepeda sambil meringis berlagak kuat.

Dan ketika ia mulai sadar, bahwa cinta itu terasa jauh lebih layak ketika ia merasakan rasanya dicintai, ia akan menangis, haru akan tatapan pasangannya yang seolah terus berbisik lembut.

Ada kalanya, cinta itu terwujud dari proses. Bentuk bentuknya harus dipelajari perlahan, dan di akhir akan muncul warna keemasan yang terpancar dari harum cahayanya.

Namun ketika cinta itu adalah bentuk paksaan, doktrin terselimuti semangat perjuangan yang sekarang telah menjadi kosong, mampukah seseorang berani berkata bahwa itulah rasa cinta?

Tanpa harus dipelajari, cinta ini teronggok disana dan dikerubuti oleh warga warga Negara haus identitas yang dengan rakusnya, tanpa sadar esensi yang relevan dari makanan itu, menggigiti bagian bagiannya.

Nasionalisme. Kata yang terlalu sering terdengar. Terlalu sering disalahgunakan dan disalah-artikan. Kata yang sudah kehilangan esensinya semenjak lama. Mereka yang berjuang demi berkibarnya sebuah bendera sudah tak layak lagi menjadi acuan perjuangan.
Masa pengibaran itu telah usai, mereka telah tuntaskan pekerjaan mereka dengan luarbiasa. Apakah pantas kita menghina mereka dengan mencoba melakukan kembali apa yang telah mereka selesaikan? Seolah mengejek bahwa pekerjaan mereka belum cukup.

Rasa cinta terhadap sebidang tanah, yang semenjak lahir telah kita akui, tanpa pernah kita perjuangkan untuk memijaknya. Cinta macam apa itu? Perasaan memiliki yang telah luntur esensinya, karena bukan pada tanah inilah kita tumpukan perasaan kita, namun pada manusia dan segala bentuk duniawi yang kebetulan terjadi di atas tanah ini.

Tidak sedikit orang orang yang telah lama sadar, bahwa rasa cinta ini justru bisa berbahaya. Dari jingoisme hingga xenofobia telah lama menjadi bahan pertimbangan orang orang yang memutuskan untuk membuang cinta mereka. Albert Einstein, Karl Marx, hingga John Lennon, merasa bahwa kita akan selalu berada di atas satu dunia, tanpa mesti terbatasi oleh teritorial bayangan yang digembar gemborkan kehebatannya.

Jingoisme merupakan titik yang cukup vital jika nasionalisme akan terus di utamakan. Kata yang secara definisi berarti bentuk patriotisme berlebih adalah dampak paling signifikan dari rasa cinta itu. Akan ada peperangan buta, anarkisme level internasional, jika komunitas komunitas seperti ini berkembang di setiap Negara. Dari segi yang lebih pasif, rasa cinta ini bisa menyebabkan ketakutan yang tidak wajar akan budaya asing atau yang lebih dikenal sebagai xenofobia. Di dalam lautan informasi dunia yang berkecepatan arus begitu dahsyat, bentuk ketakutan ini bisa berdampak pada bentuk negara yang cacat. Tidak akan ada perbaikan baik di bidang teknologi, sistem, maupun segala teknis pengoperasian negara yang normalnya terbentuk dari aksi saling bagi antar bangsa.

Bahkan salah satu agama terbesar dunia secara ideologis mengesampingkan rasa kenegaraan demi sesuatu yang lebih besar. Tokoh penyampai ajaran nya beberapa kali menyampaikan hadits mengenai betapa umatnya selayaknya menanggalkan identitas identitas nasionalisme. Ia gambarkan bahwa berbagai bentuk pemecah kesatuan inilah yang kelak menjadi ‘batu bara yang menyalakan api neraka’.

Tentunya setiap tokoh yang memutuskan menjadi anti-nasionalis memiliki alasannya masing masing. Dari yang didasari kekecewaan akan bentuk pemerintahan hingga yang justru dimulai dari harapan akan persatuan dunia.
Sang rasul akan senantiasa mendakwahkan agamanya, sebagai media yang ia miliki, sebagai kepercayaan utama yang ia genggam. Agamanya. Tombak pikirannya untuk menyatukan dunia kita, tanpa mau terbatasi.

Musisi besar itupun berkata dengan melodinya. Bentuk pesan perdamaian yang ia tahu, akan menyatukan hati setiap insan menjadi selaras. Musik. Alunan persatuan yang tak pernah mengenal warna bendera.

Sang revolusioner, meneriakkan kesetaraan dengan buku dan keringat. Berusaha merobek robek kebobrokan sistem pada masanya, demi tercapainya satu himne dunia yang sama. Kesetaraan. Tak akan ada selama kita selalu terbagi bagi.

Otak terhebat dunia, tak mau memikirkan apa guna bangsa dan Negara. Bagi dia, dunia ini satu, dibawah hukum alam dan fisika. Ilmu pengetahuan. Terlalu luas untuk kita pahami secara terpisah. Dunia ini butuh kita semua untuk bersatu, untuk memecahkan misterinya.

Di sisi lain, Para nasionalis pun akan terus mengumandangkan nama besar bangsanya, dengan lembut maupun keras, sesekali ataupun berkali-kali.

Namun ubahlah bisikan dan teriakanmu, jangan terus mengulang kata yang itu itu saja. Dunia perlahan bersatu, alur informasi bergerak seraya menelan seluruhnya kedalam satu lambung, mengubahnya menjadi pikiran pikiran yang tak mau dibatasi. Jika kau masih tetap ingin memupuk cintamu, coba tanyakan mengapa, karena para pecinta pecinta disana, seperti mabuk dalam ideologi yang sudah terlalu tua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s