Sembarang

Dentum gir yang menggeliat, menggerakkan belasan gir lainnya hingga plastik tipis panjang yang tak pantas disebut jarum itu ikut bergerak berputar.

360 derajat dari yang tipis, menambahkan jatah sedikit bagi si tebal. Alat rekaan manusia yang menjanjikan kita mengukur telah berapa lama tuhan (jika memang ia ada) menitipkan hembus serta tarik nafas di paru paru.
Alat yang menghitung arus terkuat yang pernah ada.
Alat yang mengukirkan detik detik terakhir ini.

Mungkin aku percaya bahwa apa yang nasib berikan pada manusia hanya corat coret tanpa bentuk. Yang lalu diterjemahkan seolah memukau oleh penjalinnya.
Ya.. Manusia bodoh itu melihat nasib seperti kumpulan bangsawan bodoh melihat lukisan picasso, kali pertama ia pamerkan.

Decak kagum tanpa isi. Selami mimpi mengurung sunyi.

Terlalu terlambat untuk disadari.

Mungkin aku pun percaya. Tentang kisah yang dikumandangkan dengan indah. Tentang juang dan daya yang terlalu masyhur untuk kalah oleh waktu.

Herakles perkasa dengan tugas tugasnya, kastil besar dengan pangeran dan putrinya, serta mereka yang menenggak maut demi menantang dua dunia.

Semua tentang abdi manusia, tentang jiwa yang tak mau dipaksa, atau lentera lentera bagai bintang di angkasa.

Maka percayalah, nasib kita sungguh serupa. Namun kisah itu bukan kisah kita.

Karena yang ada itu hanya disini. Dan 360 derajatnya pun tetap menghimpit pergi. Seperti mimpimu. Yang membunuh harap dalam sendu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s