Jurnal Verita amfi: Nonbelievers

Kembali dalam belantara ide, aku terpaksa membiarkan seluruh persepsi manusia merajalela. Kali ini cerita tentang satu dari mereka yang tak bisa melengkungkan batu atau menerbangkan perahu. Ia berbatas waktu, ia tak pernah tahu kapan susunan organik tubuhnya terpaksa rontok terjangkit virus atau dirobek mala. Ia manusia yang terlihat amat biasa.

Hanya saja, ia gagal percaya. Bukan, bukan gagal namun memang ia tak punya kesempatan untuk itu. Iman akan selalu lahir dari ketakutan dan harapan. Racikan tepat dari keduanya, dengan ditambah bumbu pencarian berujung akhir, menghadirkan sosok ilahiah yang banyak diantara kita menyebutnya sebagai dewa, atau tuhan, alfa dan omega serta sang pencipta. Maka ketika individu tak dilengkapi dengan salah satu diantaranya, tentu tuhan enggan turun menuju jiwa sang wanita. Seorang ateis paling mulia.

Mary namanya. Atau Bunda atau Maryam dalam bermacam kitab. Tentu nama itu hanya diberikan sebagai pemberkahan, karena ia begitu jauh sosoknya dari sang tokoh legenda. Sekali lagi kukatakan, ia hanya manusia biasa. Ia terus mencari, sebagaimana ia takut akan berbagai celaka yang senantiasa menghantui. Hanya saja, ia tidak mampu – bukan sekedar tidak mau – ber angan angan akan jawaban ketakutan. Ia terus cemas tanpa mencoba berenang dalam kenyamanan sebuah mohon;‘semoga semua baik baik saja’, atau sikap tenang akan apa yang terjadi esok. Ia tidak pasrah, tidak pula ber ekspektasi. ia takut, ia mencari, namun harap tak pernah datang padanya barang satu kali.

Begitu pula sang ilahi.

Maka ia tak pernah percaya akan adanya kekuatan diluar manusia. Ia hidup dalam sekarang, untuk sekarang dan sesekali masa lalu. Tak pernah terpikir olehnya akan apa yang terjadi selanjutnya. Ia tidak pernah menunggu. Ia hidup di detik ini. detik ini. detik ini. detik ini. dan seterusnya.

Dan dalam salah satu detiknya, ia bertemu dengan seorang pria yang sama menariknya. Antitesis dari dirinya. Dengan kekuatan yang bahkan pria itu kira tak memiliki guna apa apa.

Aku harap aku bisa menceritakan kisah pria ini lain kali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s