Nomor 8: Yang pergi

Pernahkah kau bertanya,

Tentang siapa yang berdiam diantara pertemuan dan perpisahan?

Adalah hal hal yang terlupakan, begitu jawab mereka.

Tetap aku bisa melihatnya.

Ia yang selama ini kukira tak lebih dari angan.

Ia yang tak mau begitu saja kulupakan.

Gelap bayangan terlukis di atas rembulan, meski tak bergerak, namun bertahtakan warna malam yang kental, membawa hangat hadirnya Starla.

Pijarnya terlalu menyilaukan, tak kunjung hilang, hingga samar samar terlihat bahwa yang berdiri di depanku sama sekali bukan sebuah kerajaan seperti apa yang dipanjatkan dalam puja puji upacara purnama. Hanya sosok wanita. Sendirian dalam semerbak dunia sepi, bergerak perlahan menuju akhir yang tak pasti.

Ada jalan panjang yang sedikit lagi berhasil ia tempuh sepenuhnya. Jalan yang berakhir di sebuah singgasana kosong bermandikan cahaya tak berhingga. Wanita itu. Pada suatu waktu ialah Starla meski tidak lagi. Malam ini ialah pelindung tinggi, yang terpilih sebagai permaisuri bagi dewa dewi, memegang sumpah untuk lindungi tanah putih kaum kami.

Namun ia tunda beberapa langkah terakhirnya untuk kembali menatapku, bersimbah ragu, dengan perlahan dan tanpa niscaya.

 

Aku menjemputmu.

Aku disini Starla, aku disini untuk menjemputmu.

 

Kekosongan yang panjang kurasakan.

Kemudian hanya diam.

 

Resah pun kembali keluar dari tempat persembunyian.

Bersama beberapa menit yang kukhawatirkan, benar-benar datang.

Sepotong waktu singkat untuk berkata selama tinggal.

 

Biarkanlah…

Relakan segala yang tak usai demi satu hari. Hari ketika cerita itu dimulai, ketika kau tahu kau hanya akan pernah hidup pada hari itu.

Suara terngiang. Balu. Purna. Langit.

Aku menolak.

 

Kau telah pergi durhaka, Serigala!

Pada akhirnya, bukankah manusia hanya anak-anak takdir?

Kadang restu ibunda datang bersama.

Kadang celaka ia rapalkan manteranya.

Suara berseru. Kepala desa. Dunia.

Jiwaku berontak.

 

Starla.

Starla.

Tapi… mengapa?

 

Dirinya yang berusaha berkata-kata.

Kemudian air mata. Namun tanganku berusaha meraihnya. Kemudian tangan yang berusaha gapai kembali jemariku. Namun tubuhnya berbalik pergi. Kemudian wajah yang ia tengokkan sekali lagi. Namun tubuhnya beranjak menjauh. Kemudian Senyuman yang tersendat dalam waktu. Namun pertemuan kali terakhir.

 

Malam menelan, mengunyah, melemparkan.

Tanah di kedua tanganku, wajahku, seluruh tubuh, seraya mencaci bahwa aku hanyalah seorang lemah, gagal menjemput satu-satunya yang pernah dicinta.

 

Mengapa?

Bukankah telah kuberikan semuanya?

Mengapa?!

Kuangkat tombakku, kuburu kepala desa yang kembali berdiri di depanku.

Sekarang juga kucabut nyawa sang penipu tua.

 

Tapi telah kuberikan semuanya….

Seluruh warga desa pun menghalangiku, menahanku meski aku meronta sekerasnya. Mereka tampak bingung. Sepertinya sedetikpun tak berlalu di tanah bumi semenjak ritual penerbanganku.

Tapi telah kuberikan semuanya!

Tapi telah kuberikan semuanya!

Dari menhir tempat ia pimpin ritual penerbangan, kepala desa pun turun. Dengan perlahan dan tanpa ragu, langkah demi langkah, diiringi oleh tetes hujan yang datang menari bersama petir dan ledakan Guntur. Ia datang untuk menghadapiku. Aku yang siap tusukkan tombak dalam-dalam lewati jantungnya.

 

Telah kau berikan semuanya, wahai serigala.

Namun apakah itu cukup?

 

Langkahku terhenti semenjak sepatah kalimatnya.

Aku terus berusaha maju, namun kedua kakiku pahami kebenaran kata-kata kepala desa.

Aku begitu marah, namun jiwaku tak lagi restui tindak emosi tanpa akal.

Tubuh yang lunglai. Diri yang takluk.

Sebuah ujung perjalanan mengejar sang malam.

 

 

Pada akhirnya, aku tak pernah mengira.

Untuk menentang tuhan, sejarah, lalu dunia, adalah kerja penuh derita.

Namun satu permohonan agar ia genggam tanganmu hingga akhir masa.

Adalah pengorbanan tanpa janji bahagia.