Joni’s Journey

Jonijon, anak dari jinijun; seorang bankir yang berhasil naik dari kalangan bawah ke kalangan menengah,  datang ke daerah Braga untuk mencari hiburan seusai makan siang. Ini adalah tahun 2020, daerah Braga telah banyak ditutup untuk akses mobil pribadi, namun kota Bandung semakin baik transportasi publiknya sehingga bahkan kalangan atas pun sudah mulai menggunakan angkutan kota.

Jonijon berharap untuk bisa sedikit jalan-jalan, mungkin nonton film di bioskop klasik yang telah dipugar, lalu makan di tempat unik yang menggabungkan suasana modern dan tempo dulu.

Namun ketika ia memasuki daerah gedung konferensi Asia Afrika, sesuatu memaksanya untuk turun di halte terdekat. Daerah yang sekarang penuh pepohonan, dengan trotoar yang rapi dan kursi-kursi panjang berjejer, membawa suasana yang sejuk bahkan di pukul 1 siang ini. Namun yang membuatnya berhenti bukan kesejukan udara taupun penataan trotar yang menggoda untuk disusuri. Toh bagi warga lokal, hal ini bukan hal baru, mengingat program penghijauan Bandung, membuat kota ini menjadi sebuah taman raksasa, telah berlangsung semenjak 5 tahun yang lalu. Yang membuat kang Jon berhenti adalah, adanya sebuah menara yang menjulang tinggi dari balik museum Bank OCBC, memancarkan cahaya benderang bertuliskan ‘NOW PLAYING’

What’s playing? Ia pikir. Maka ia berjalan ke arah tulisan itu, hingga ia sampai ke depan pintu masuk museum.  Ia berjalan pelan, sambil menikmati pemandangan mesin mesin uang tua yang dipajang rapi, hingga seseorang mendadak menegurnya…

Halo..

Halo..

Nggak coba sekalian masuk museum? Disini banyak lho koleksi dari mesin uang, foto-foto, dan ada ju…..

sang penjaga museum berkata banyak tentang museum tersebut, hal yang Joni tidak tahu sebelumnya. Namun yang paling menarik perhatian Joni adalah kata kata terakhir sang Door man..

Kalo mau menonton pertunjukkan teater, mas juga bisa masuk ke gedung Teater Epik dari dalam museum ini.

Joni tertarik, namun ia tidak yakin. Gedung teater? Wah, saya kira jenis hiburan seperti ini sudah lama hilang, atau terlalu sulit untuk ditonton. Sang doorman tertawa, kemudian berbisik pada Joni. Saya kira dulu juga begitu… begitu saya diceritakan tentang teater, saya kira bakal ada banyak orang tua yang marah-marah pada dunia. Tapi suatu hari ada tiket promo dan saya beli, ternyata ceritanya justru seru.. tegang, tapi pintar, dan juga cukup romantis…

Joni tersenyum, tanda keputusannya untuk mempercayai sang sang pria. Ia pun berkata jika ingin mencoba masuk ke gedung teater melalui pintu utama, maka Joni bisa berbelok sedikit di kanan depan, dan gerbang itu berada tepat di kanan jalan.

You would not miss the entrance. Its quite… spectacular.

Joni berdiri disana. Di depan gerbang besar yang penuh cahaya. Di sekitarnya terdapat poster pementasan yang beberapa kali lebih tinggi darinya, dengan ditemani poster pementasan-pementasan yang telah lewat di sekitarnya. Semuanya terlihat menarik. Ilustrasi Ilustrasi yang cantik, gambar-gambar yang imajinatif, Joni mendapatkan kesan langsung bahwa ini adalah sebuah perkumpulan teater yang bermain di ranah fantasi. Ia kemudian langsung masuk ke dalam gedung itu. Ia tidak perlu membutuhkan keberanian, seperti layaknya mencoba memasuki sebuah gedung baru. Yang ia rasakan justru penasaran, ajakan yang kuat dari sebuah gerbang yang seolah menyimpan begitu banyak kisah yang menyenangkan dan mengharukan. Gedung ini lebih terasa seperti taman bermain yang intelektual, dibandingkan gedung teater yang kental budaya dan pemikiran.

Begitu ia masuk, taman depan yang kecil menyambutnya dengan kosong, namun ada sebuah lorong yang di kedua sisinya berjajar layar-layar.. Terlihat tulisan ‘Nonton, Bergabung, Beri saran!’ di atas setiap layar. Ia mencoba memencet salah satu layar sentuh tersebut, dan ia dapat melihat berbagai dokumentasi pementasan yang lengkap dan jelas. Ia berpikir untuk segera membeli tiket untuk esok hari, namun sayangnya telah habis terjual. Maka ia membeli tiket untuk minggu depan dan memutuskan untuk menjelajahi kompleks teater ini.

Sebelum ia sempat bergerak dari layar, terlihat seorang dengan kaos warna-warni dan legging ketat bergerak ke arahnya. Ia kemudian menyadari bahwa wanita itu adalah salah seorang penari yang sedang beristirahat, karena di belakangnya terlihat beberapa wanita lain yang juga mengenakan pakaian latihan sedang melingkar dan mendengarkan arahan sang koreografer.

Halo, selamat datang di teater epik! Dengan mas….

Joni…

Halo mas Joni! Saya Juni!… Silahkan mas dilihat-lihat saja… semua bagian gedungnya terbuka kok

Joni pun melakukan persis seperti apa yang Juni sarankan. Ia masuki ruang latihan tari yang penuh kaca, tempat teman-teman juni sedang latihan. Sang koreografer dengan wajah serius dan teriakan kencang, justru tersenyum ketika Joni melintas, memberikan gestur tangan yang seolah berkata You’re welcome to watch, good sir!. Setelah itu ia masuki ruang rekaman musik yang kedap suara, beberapa orang sedang melakukan eksperimen sound effect yang membahana. Disana pun ia mendapatkan senyum dari mereka yang terlihat sedang sibuk. Meskipun hanya sekilas, joni merasakan ada ajakan yang serupa seperti apa yang sang koreografer berikan. Hingga kemudian Joni mencapai taman tengah dari kompleks teater ini.

Disana, ia menyadari bahwa segala kegiatan yang dilakukan para peserta dapat ia saksikan dari taman ini. Meja-meja dan bangku tersebar, beberapa orang langsung duduk di rumput yang bersih. Tertulis besar di tengah,” Inspiration spot; sing, read, write, converse, but nothing too loud please” Banyak dari mereka yang menulis, beberapa menyanyikan sepatah dua patah lirik, namun rata – rata dari mereka hanya terdiam atau membaca, mencoba menikmati taman yang bahkan lebih sejuk dari tempat kota taman raksasa.

Eksplorasi Joni pun berlanjut. Dari taman utama, ia dapat dengan mudah menentukan alur perjalanannya. Ia berjalan ke kiri, menuju gedung latihan dua. Tempat ini mirip dengan tempat berlatih koreografi, namun orang-orang di dalamnya tidak hanya menari, melainkan berdialog dan melatih vokal.

Selamat dataaaangggg~~~~~~

Joni terkejut, karena salah satu dari mereka yang sedang berdialog mendadak menyanyikan sambutan untuknya. Belum lagi temannya yang mendadak berpantomim ke arahnya, melakukan gestur standar “Menarik Tambang”, seolah mengajak joni untuk bergabung. Joni tersenyum, mereka pun tertawa…

Silahkan dilihat-lihat pak!!

Dengan senyum lebar, Joni berlanjut menuju ruang memorabilia. Disana begitu banyak atribut pertunjukkan terpajang, dari kostum hingga properti, bahkan ada spot tempat video dokumentasi pementasan dan trailer terus menerus diulang. Joni memutuskan untuk membeli salah satu replika dari properti pementasan besar pertama teater ini. Sebuah okarina. Ia membayarnya di pintu keluar.

Keluar dari ruang memorabilia, ia tidak kembali ke taman utama, namun langsung menemui pintu utama Common Room. Tempat ini lebih seperti perpustakaan, namun berbicara diperbolehkan disini. Justru terlihat beberapa orang sedang berdiskusi di tengah ruangan ini dengan antusias. Terlihat salah satu dari mereka begitu berapi-api ketika temannya menceritakan sebuah konsep panggung.

ITU DIA! ITU MAKSUD SAYA!…

Nah nanti, karakter utama akan berhadapan dengan cahaya pojok atas yang bergantian kontrasnya…

Joni mendadak mendengar suara teguran, Mereka selalu seperti ini, bahkan pada orang-orang baru sekalipun… Klub yang unik memang.

Seorang penjaga common room dengan yang sedang mengarsipkan naskah menegurnya, lagi-lagi dengan ramah.

Joni pun bertanya siapa orang-orang yang sedang berdiskusi. Ternyata mereka adalah tim produksi teater, atau dengan kata lain, para pemilik teater ini. Joni cukup kaget, karena tempat rapat para pemilik ini tidak tertutup maupun eksklusif, namun justru dibuka untuk siapa saja bisa menyaksikan. Ide-ide dibiarkan mengalir ke seluruh penjuru ruangan. Ruangan yang Joni lalu sadari, berisikan naskah-naskah, buku-buku, segala sumber inspirasi dan buah-buahnya, bebas dinikmati oleh siapapun yang ingin mencoba.

Kami percaya bahwa kebebasan bukan untuk sekedar dirawat, namun untuk dibagikan. Hanya dengan cara itulah kebebasan bisa menjadi milik bersama, bukan milik kami saja.

Dengan perasaan kagum, Joni bersiap untuk memasuki tempat yang ia sudah tunggu-tunggu, yang ia simpan untuk sensasi terakhir. Gedung utama teater. Meskipun banyak teater lain yang menutup gedungnya untuk publik, namun Joni menduga bahwa Teater ini tidak begitu, mengingat bahkan para produsernya berdiskusi dengan bebas mengenai konsep, tentu publik dapat melihat gedung utama dengan mudah. Dugaan Joni benar, Pintu masuk gedung utama yang paling lebar dan paling terlihat, terbuka sedikit, cukup untuk satu orang bisa memasukinya. Ia awalnya ragu, namun salah satu orang yang menyaksikannya sedang ragu berkata ‘Masuk saja mas’.

Maka ia masuk, ia memilih untuk berbelok ke lorong kanan, kemudian turun ke bawah. Ia membeli tiket kursi bagian atas untuk pementasan yang akan ia tonton, maka ia ingin melihat bagian bawah dari gedung ini. Gedung yang megah dan luas, tapi gedung ini gelap dan penerangannya terlalu remang untuk bisa melihat sudut sudutnya.

Halo… maaf yang masih gelap, biasanya baru kami nyalakan di atas jam 4 sore.

Kemudian pria muda itu naik ke lighting box, dan menyalakan seisi ruangan.

Sekarang sudah lebih jelas kan ya?

Iya… Terimakasih… Maaf jadi ngerepotin..

Ah, santai aja… Pertama kali kesini?

Iya…

Tertarik main teater?

Joni tersenyum, kemudian ia dan pria muda itu berbincang panjang hingga malam hari. Mereka membicarakan banyak hal, tidak hanya teater namun hal-hal ringan dari pertemanan hingga film-film favorit.

Joni pun kemudian pulang dengan perasaan puas.

 

 

Dua hal mengejutkan yang Joni sadari ketika akhirnya ia kembali ke gedung untuk kali ini menonton pertunjukka. Pertama adalah tentang betapa berbedanya suasana gedung di kala pertunjukkan. Berbeda dalam arti tempat ini menjadi sebuah amusement park raksasa, tidak se terbuka hari biasa, namun lebih ceria, lebih meriah. Hal yang kedua adalah mengenai siapa sebenarnya orang-orang yang ia temui.

Ketika nama desainer pencahayaan dipanggil, ia terkejut melihat bahwa pria muda yang ia ajak berbincang sebelumnya adalah ketua desainer lighting sendiri. Ia tidak pernah menyangka. Ia pun menyadari bahwa setiap orang yang ia memandunya dalam menjelajahi gedung di hari sebelumnya, adalah pemain-pemain teater ini sendiri. Dan yang paling mengejutkan adalah, sutradara pementasan kali ini adalah pria yang ia kira penjaga museum! Sutradara macam apa yang menawarkan langsung untuk orang mencoba memasuki ke gedung?!

Maka setelah itu Joni bergabung dengan Teater Epik. Ia sadar bahwa para kritikus tidak menyukai nomor-nomor pementasan yang dipersembahkan oleh Teater Epik, namun pujian-pujian didapatkan di Blog – blog penonton, Hingga akhirnya pendapat para kritikus pun menjadi tidak terlalu di dengar.

Masyarakat pada akhirnya, memang bukan tentang para minoritas yang kritis, namun tentang mayoritas yang menikmati.

Selamat datang Joni, selamat datang di keluarga kami.

Fate-a-listic

Love or revolution, how simple is humankind.

But it is not at all, humankind lies on promises they hold dearly.

For a warm morning after they fought in each evening?

For much more than that.

Mademoiselle, we are truly a part of the world’s catharsis, shouldn’t we be more subjective rather than poetic.

Tis neither prose, nor essays that define who they are. It is the truth of their day to day melancholy. A race that seeks happiness above other.

Ataraxic, so they called, it is well written in my parchment.

Funny thing though, that we see them not with feelings but with data. Yet what we are fought for is life. And life, monsieur Fate, is not only a biological reaction that creates movement. But interactions, social structures, civilizations; all that is created by the tangled feelings barbed in the heart of a race.

Hmm… Rippling water that is more powerful than the first explosion, so they say life is…

My point is that.

Well… humans, check! They can be out of our eradication list for now, let us go to letter ‘I’, Ionokeu from space district 2441, a hyper intelligent being that…

 

Who knows, that the fate of each race isn’t gambled on, or risked in dice game for each second of our life?

The lecture

“In the end, there is not much on the table for humans in their mundane nature of life.

I saw them woke up in the morning, drinking their coffee or tea and goes to their so called ‘role in the society’. But did they live?

No.

They go to work so that their surroundings could work.

And for most people, that’s all life is about. To go 5 days in the row, and could finally stole some time during weekend. A brief moment of happiness – short periods of actual living.”

He started, the guest lecturer. A peculiar guy with the most peculiar glasses I ever saw.

That is why I will not be teaching you anything you do not want to hear about. I will answer anything you want to ask – from the birth of the universe to which celebrity is going to get a divorce.

He smirked. I hate that smirk. It makes an impression that he actually meant it. That he can actually answer anything.

Are you joking? A blonde girl in the front row asked.

I joke every now and then. But your sentence indicated that you are asking whether I am now or recently made a joke. So no. I am not joking.

Everyone laughed. While I, felt something wrong with him.

You quoted Hickman, if I’m not mistaken?

Quoted would mean the exact phrase, young man. So technically he only inspires me. Nice observation though, I never expect that a philosophy student would read graphic novels.

He smirked again. This time I am sure that he actually meant it when he said ‘anything’.

So that is what you are, a comic book writer? And because of THAT you claim you know everything.

There is no such thing as what I am. Nowadays they call me John Good, but I don’t have a ‘me’. I simply exist.

You claim yourself to be a metaphor?

No no no… I am not a metaphor. Metaphor is ephemeral and vague. I actually exist. I am real.

Ok then, you say you could answer anything, so answer this; What. Are. You. ?

Ah! Interesting, finally a challenging question. Well… a perfectly sane human would interpret me as time.

The class went mad. The students were rapidly divided into two contradictive reactions. The first are those laughed so hard as if they saw a lunatic in front of them; they undermine him. The second are those who suddenly dwelled in silence, confronted by illogical explanations that cannot be denied; they believed him.

The third group is the extremes. They were either too frightened or did not want to hear more ridicule; they left him.

I am in the fourth group. Overwhelmed by his presence even from the moment he walked in; I am too afraid to even move.

One from the first group asked him with degrading tone, so wise man, you talked about the birth of the universe. Tell me about it.

The universe is just a state of mind. But the sky is not. Everything began with a love story.

Oh you got to be kidding me.

No I am not. It was the story of lord sun who admired the night sky without ever touching her. The lord could light up the day even created horizon. Yet he still was just a distant witness of her, meeting her only through the message of the moon…

…For him she is a cloud. She is there but sometimes not. how… how could you know that? The exact word…

… She also sees him but they are apart. They live around each other but when it rains, there is darkness. Therefore the divine path of enlightenment can only be found in the jaws of death. For to live is a sin, and every second they spent burns the very soul of the earth, and taint the innocence of land.

Of course you know how would this end, young man?

Lord sun left his duty. He left the day to meet the night sky. Then the fabric of the old world crumbled, creating the universe, as we know it. The student finished his story.

No more laughter. He stood up from his chair, and as he was about to leave the room he waned.

How could you know that?

You see guys, Mr. Good talked to the class, That was a poem written by Mr. August Wagner here. A piece of paper is the only thing in this world the poem ever documented on. This piece of paper has never even left the coward’s drawer.

THEN HOW COULD YOU KNOW THAT?!

Wagner turned his face and screamed, followed by Mr. Good’s sudden lunge towards his neck

Because what you do, what every puny human being ever accomplish or enact in their self proclaimed ‘daily life’ is written down in my memory. I am the beholder of everything terrene, I am the owner of the occurrence, and anything that ever transpire on this GOD F***ING dimension.

 You see kids, moments never comes exactly the same twice, time happens specifically. Unlike this space that you so arrogantly occupy, time does not know repetition. So when I say I would answer anything you want to ask, I. AM. NOT. LYING.

There is now only one reaction. Silence. No one moves, no one until I raised my hand.

Yes?

Can you tell me what actually happened during the holocaust?

He answered my question perfectly. It was intriguing. My question was the first of the many as the students asked him various subjects from the end of the universe to which celebrity is going to get married. He answered all of them passionately.

Naturally, people are afraid of him. On the other hand, what us mortal do is to bear to live by his side. So what I did, what we all did was simply embrace our nature. To conciliate our curiosity; we asked. We reminisce the past even before the presence of the most bizarre being all of us ever saw.

And all I wanted to say was ‘I told you so’