A glimpse of self made eschatology

Stand before them a thousand demon that came forth with no warning.

It is an unprecedented apocalypse, doomsday that rushed, the dispunctuality from gods of gods.

The blickering light shone down and struck the ground, burn the earth and made its soil soft as cotton.

Come forth, shiva, the annihilating dance of the universe vast, Nataraja the last.

His posture is small, his eyes are closed, he fold his foot towards another, standing on only one.

He cannot put down that other one.

Why?

Because if he does, time will stop. And he does not want that. He wants his victims, his protected, us, legions that soon be gone and its opposition that as soon be saved, to experience his destruction.

He was blessed upon the army of men, out of the united prayer of the hindus, of their living cite, of their dreaming dead.

Behind him, stood every single monk the world ever seen, they paint themselves in red, a sign of broken pacifist promise. They are now as holy as before, but what was purified was no longer a giving heart, but blazing strength and roaming anger. They do not come in peace.

Then the horn, then the sound of warcries, praising the god of their, of how grand and how almighty, and how they now know they are blessed already with the strongest of power. The muslims came. The brotherhood unended, the faith unbroken.

They carry with them genetically engineered steeds, provided by the secret order of St. Paul. As above them, warships, cannons, bio weaponry in human form, floats around in white, the assassins of cross. In the middle of their formation, a mother ship, carrying the spear of destiny, a viral torpedo that target specific cellular organs, the fire heart of demons.

Came forth then, a world leader, a normal, weak, and flawed human. Yet loved, yet trusted, and one that truly understand he is nothing but a mouth.

We all have foreseen this end of the world, in our holy books, manuscripts among manuscripts, even prophecies.

And we know that you, are not our end. You are merely belaguearing evil charging with greed and misfortunes of the old world. There is nothing spiritual nor religious with your uprising. So this day, we, the remaining army of humanity. Fueled with the best weapons our kind can every make us. Faith. And heart full of rage. Will say no, this is not the end.

Religion Unite.

 

By then, the time become an undeparted lover, pulling everything by its side, not letting even a single drop of sweat to drop. Mother time is in the enemy’s side.

Advertisements

Kereta Hestia (Intro)

Sebuah lorong peron yang panjang. Tidak terlihat ujung dari tempat itu, namun terasa angin yang berlarian dari satu ujung ke ujung lainnya. Mereka tidak membawa dedaunan atau debu. Angin itu kosong, namun tidak dengan peron itu. Tidak sepenuhnya.

8 orang berdiri dengan berbagai jenis koper, mengisi ruangan di sekeliling mereka masing-masing. Beberapa mereka tenteng, namun rata-rata dengan koper besar yang terlalu besar untuk dijinjing. Menarik memang, bentuk koper koper yang semakin hari semakin ‘teknologis’, seperti benda lainnya. Beberapa menempelkan istilah-istilah asing yang tentunya terkesan canggih, dari Dordura hingga Nilon Balistik yang katanya akan membuat semuanya tahan banting, ringan, bahkan lebih ringan dari tas jinjing berukuran seperempat kali lebih kecil. Di ujung bawahnya, tidak lagi hanya sepasang roda yang para produsen tempelkan, namun paling sedikit dua. Roda roda ini tentu terpasang demi satu tujuan; membuat semua bergerak lebih cepat, menempuh jarak jauh dengan ketahanan lebih tinggi, mengikuti para penggeretnya yang semakin hari semakin cepat.

Namun ini adalah kereta malam yang panjang, dua puluh dua jam waktu tempuh membuat jalur ini ditinggalkan dan semakin sepi. Banyak yang mengira, meski hanya sedikit dari mereka yang terlalu menyayangkan, jika saja jalur ‘tak efektif’ ini akan ditutup. Tapi toh Pandin berdiri di sebuah negri yang kaya. Para pemimpin yang terpelajar dan pandai mengalokasikan sumber daya mereka yang terbatas punya lebih dari cukup uang untuk sekedar mempertahankan salah satu rute tertua mereka. Maka Susunan gerbong besar tanpa pendingin akan selalu dihidupkan di kala ‘musim pulang’. Selama 4 bulan lamanya, Jalur menuju Hestia itu akan dilalui sang harta sejarah dengan piston berkarat, meski hanya mengangkut belasan orang saja.

Mereka berdiri disana. Wajah yang itu-itu saja, yang selalu masuk tanpa pernah mengantri terlalu lama. Bisa jadi mereka memilih kereta malam karena terlalu bosan atau miskin, untuk memilih kereta cepat, pesawat, atau kendaraan roda empat. Bisa jadi, mereka telah kehilangan apa yang manusia modern masa itu selalu agung-agungkan; Kecepatan, efisiensi, dan efektifitas. Namun rata-rata dari mereka memiliki alasan yang lebih personal.
Apapun alasan itu, toh memang hanya di peron itu mereka tidak perlu berdesakkan atau berlarian. Sang masinis yang masih pria tua berambut perak berseragam lengkap dan bukan sebuah mesin pembolong tiket otomatis yang berjalan-jalan, akan menunggu mereka yang terlambat. Apa bedanya beberapa menit lebih lama dari perjalanan berjam-jam? Mereka yang menunggu pun tidak pernah protes. Beberapa munkin bertanya dengan tenang, ‘berapa lama lagi kita akan menunggu?’ dan masinis berkumis (hampir semua dari mereka berkumis) akan menjawab ‘kira-kira 10 menit’, terkecuali Sorda. Ia yang konon telah menjadi masinis semenjak kereta ini pertama kali beroperasi akan menunggu 15 menit, tidak kurang, mungkin lebih.

Dan itu tidak apa.

Sebagai catatan, perbincangan yang nanti akan terjadi tidak harus terjadi di waktu yang bersamaan. Lagipula, setiap dari mereka punya cukup kesempatan untuk mengenal satu sama lain lewat cerita, perkenalan, atau tegur sapa. Bukankah mereka adalah bagian dari ‘wajah yang itu-itu saja’, para penumpang rutin yang berjumlah maksimal 8?. Namun memang kali ini, adalah satu musim pulang yang secara kebetulan mengajak mereka semua kembali di saat yang bersamaan. Maka perbincangan yang akan terjadi, hanya akan terjadi di satu perjalanan ini, meski tidak mungkin memastikan di jam ke berapa mereka benar-benar saling menceritakan satu pengalaman, memperbincangkan satu perasaan.

Bisakah kamu melihat salah satu dari mereka hanya terdiam, memikirkan suatu hal yang sebentar lagi akan ia utarakan. Namun untuk beberapa jam pertama ia hanya akan memandang keluar jendela besar yang tak janjikan apapun. Hanya hitam, dengan dirinya yang sungguh berani memberi warna biru dan hijau, langit Hestia yang selalu menyentuh padang rumput tempat ibunya dan sapi-sapi kesayangannya yang sekarang berkali-kali lipat lebih besar dari dirinya. Namun tetaplah untuk beberapa lama, ia bahkan tidak berani untuk menanyakan sebuah nama dari wanita yang juga memandang hitam di depannya, mewarnainya entah dengan oranye, abu-abu, atau mungkin putih menyala tanpa bercak.

Calon Arang, Monolog pembuka adegan 4: Senja dan prajurit kelam

Calon Arang: Bukankah setiap dari kita membuka mata dalam peluk orang tua untuk sebuah alasan? Namun wanita itu lahir tanpa siapapun untuk ia tanya, apalagi peluk.

Telah menjadi fitrah manusia, untuk menunggu cahaya dan menutup mata di kala senja menyerbu matahari. Namun di tempat wanita itu lahir, pagi enggan meraba barang sekali, hanya aroma senja yang terus hadir hiasi hari.

Dan ketika semua dewa menutup mata.

Durga tunjuk ia sebagai anaknya yang kafir, bimbingnya dengan sebuah kitab sebagai pengasuh setia, sebagai orangtua, sebagai cahaya di gelap senja.

Maka helai demi helai pohon siwalan berjatuhan dan menua, kemudian tertuliskan lima aksara yang menjadi nujum sang mala.Tuliskanlah ‘Tuhan’. ‘Anugerah’. ‘Jiwa’.

Kemudian kekuatan tanpa akal.

Dan jiwa yang terbelenggu.

Wanita itu, telah mati pada suatu waktu, namun lahir kembali dengan rapalan rapalan sang dewi Durga sendiri.

Ong gni brahma anglebur panca maha bhuta, anglukat sarining merta. mulihakene kite ring betara guru, tumitis kita dadi manusia mahotama. ong rang sah, wrete namah.

 “

Dan siapapun yang menjadi (bagian) bumi, takkan pasti hidupnya, mereka dengan harta atau mati kelaparan hingga dianggap tanpa kasta, adalah sementara; yang kembali pada kubur. Kecuali untuk sang wanita dan beberapa, hidup terpilih sebagai murid tercinta Durga.