Kepada Berna

Tapi Estiv, sahut Berna. Tidakkah lebih baik kau berhenti merasakan apa-apa?

Seperti Vernili?

Ya, ia selalu tertawa dengan gelas di antara jari.

Kau kira apa yang Vernili sesali?

Mungkin, keinginan memiliki?

Tidak, tidak, ia melampiaskan sesuatu dengan kelembutan. Sakitnya tak mau ia tunjukkan. Ada rasa takut, seperti melihat laut.

Tapi Vernili bisa hidup di setiap mimpi.

Ia tidak pernah bisa tenang lagi. Mencoba berlari menuju ilusi.

Lalu, apa yang ia teguk setiap hari bagian dari sendiri?

Mungkin, mungkin juga anastesi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s