Permohonan Jaya Pangus

Dituliskan sebagai awal dari perjuangan seorang Gyma. Perbincangannya dengan abdi kuil Dewa Dewi tentang alasan mengapa dirinya mencoba untuk mencipta Gale.

Namanya waktu itu adalah Jaya Pangus. Dan patung yang lahirkan adalah Kang Ching Wei.

 

 

Wahai Abdi Khayangan, tidakkah kita manusia sudah cukup berkorban untuk tuhan?

Tidak ada yang cukup, Raja yang bimbang. Pertanyaanmu sendiri adalah bukti bahwa upaya kita menyembahnya masih belum cukup.

Tapi pemahat kita mati membentuk gunung-gunung menjadi wajah para Dewa, pelantun kita telah bisu menyanyikan lagu para Dewa, dan pengukir lembah telah lumpuh menuliskan kisah para Dewa.

Maka anak-anak mereka akan terus mati, terus bisu, terus lumpuh.

Apakah ini kebenaran yang para Dewa janjikan? Manusia terus mati untuk namanya?

Anakku, benar dan salah adalah seekor ular di pundak kiri dan kalajengking di pundak kanan. Tengoklah ke arah manapun dan kau akan temukan dirimu sekarat dalam racun. Tetaplah memandang ke depan, karena para Dewa akan selalu mengulurkan tangan-tangannya.

Tidak, aku tidak percaya itu. Jika saja ada cara agar aku bisa membunuh ular-ularmu, mungkin manusia bisa mulai hidup sebagaimana mestinya.

Berhentilah, Jayapangus.

Tidak, justru aku akan memulai. Aku akan membuat sesuatu yang indah, lebih indah dari apapun yang manusia pernah coba buat. Sebuah karya yang akan menebus Ibadah manusia untuk seribu tahun lamanya.

 

 

Lalu Kang Ching Wei lahir. Meski ia lahir sebagai persembahan, hati sang Raja mengubahnya menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Yaitu cinta manusia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s