Of Gyma and of Gale – The first Midnight Stranger

Originally, “Sunset Locker” section was created as a junkyard for my Merchant of Emotion Journey.

But I guess it can also contain originally written materials; Fresh, unspoiled and untouched.

 

This is a second short after “The Beginning of Sunset”, depicting the origin of his first Stranger couple; Gyma & Gale. Any other material released outside this blog would be under Merchant of Emotion. Hence I will not be solely responsible for the quality.

 

Di dunia yang masih muda, manusia belum banyak menemukan jawaban. Meski nantinya mereka ditakdirkan menjadi penguasa, alam hari itu adalah hamparan luas yang tak berhenti mengucurkan racunnya. Bagi manusia, satu-satunya cara melawan gilasan alam adalah dengan saling memperingatkan. Duri berarti bahaya, babi hutan lezat jika dipanggang, hindari sarang serangga, dan percayakan adik pada tombak ayah. Mereka menemukan bahwa senjata terkuat bukanlah cakar, otot, atau api, tapi rasa percaya serta ilmu para leluhur.

Meski begitu, tidak semua leluhur berkata hal serupa. Jauh di Barat, mereka berbagi cara membedakan kayu mana yang pantas dijadikan panah, mana yang hanya baik jika dijadikan kayu bakar. Di Timur, sang nenek menggores kaki cucunya untuk mencoba apakah sebuah ramuan menyebabkan bengkak atau justru menghentikan pendarahan dalam hitungan detik. Dan di sebuah pulau di tenggara, tempat buah-buahan tumbuh lebih manis dari biasanya, para tetua mengajarkan anak-anaknya untuk berdoa.

Mereka tidak banyak ditentang oleh dinginnya malam, atau siang yang menyebabkan dedaunan mengering. Di pulau tropis ini, warga desa tidak pernah mengasah tombak atau menarik panah. Sesekali setiap tahun seorang Ibu paruh baya akan hilang digondol macan belang, membuat anak-anak dan suaminya menangis. Tapi tidak ada satupun dari tetangga yang menyerbu hutan tempat sarang sang macan. Mereka justru beramai-ramai mengunjungi rumah sang suami untuk berkabung bersamanya. Nasib buruk telah datang pada istrimu, begitu kata mereka. Tapi Dewa Dewi mengambil apa yang mereka mau, begitu jawab sang suami. Maka kita akan berdoa lebih banyak malam ini.

Mungkin karena itu, mereka menyebut pulau ini sebagai pulau Dewata. Selain karena penduduknya yang selalu penuh doa, namun Para Dewa dan Dewi benar-benar bersemayam disana. Di lembah-lembah berdiri pancang-pancang tersusun rapi, dengan benang rajutan warna-warni menjuntai dan meliuk di udara. Disanalah setiap hari para warga letakkan sajenan berupa bunga, beras dan biskuit, sebagai bentuk terimakasih atas hari ini. Mereka percaya bahwa damainya tanah ini tidaklah percuma, melainkan buah dari kemurahan hati para Dewa Dewi.

Maka para seniman-seniman terbesar pulau ini mulai mendaki gunung-gunung, beberapa yang berhasil meraih puncaknya pun memahatnya menjadi wajah-wajah raksasa para Dewa untuk mengingatkan akan kuasa mereka. Beberapa yang lain mulai bernyanyi, menirukan suara hembusan angin agar tak sekalipun para Dewa meniup terlalu kencang. Dan yang tak sanggup untuk pergi akan menatap ke bumi, menenangkannya dengan ukiran-ukiran seluas puluhan kilometer, menceritakan kisah-kisah kepahlawanan para Dewa Dewi di dunia sebelumnya. Mereka melakukan itu semua dengan senyum lebar sambil menyapa warga lainnya, atau bahkan bersenandung dan merangkul sahabat yang ia temui setiap hari. Mencintai para Dewa adalah jalan hidup yang pulau ini punya. Mereka berikan cinta ini tanpa ragu, karena sepanjang ingatan mereka, ritus-ritus inilah yang membuat pulau ini tetap ramah pada penduduknya.

Di tanah yang tak mengenal gempa, taifun, ataupun magma, mereka tak lagi punya keinginan apa-apa kecuali menjaga. Mereka lalu bersyukur pada sang maha kuasa, mencintai Dewa-Dewi dengan sepenuh Jiwa. Dan disinilah kisah kita bermula.

Ia adalah seorang Raja dalam legenda Barong Landung. Dalam kisah yang dunia banyak tahu, Ia dikisahkan mencintai seorang Putri dari negeri seberang dan menyebabkan banyak malapetaka. Namun kenyataannya, Ia adalah manusia pertama di pulau itu yang bertanya pada petinggi kuil, tentang Cinta yang terus menerus dihamburkan untuk para Dewa, serta darah yang terus tumpah meski diiringi dengan senyum merekah.

Wahai Abdi Khayangan, tidakkah kita manusia sudah cukup berkorban untuk tuhan?

Tidak ada yang cukup, Raja yang bimbang. Pertanyaanmu sendiri adalah bukti bahwa upaya kita menyembahnya masih belum cukup.

Tapi pemahat kita mati membentuk gunung-gunung menjadi wajah para Dewa, pelantun kita telah bisu menyanyikan lagu para Dewa, dan pengukir lembah telah lumpuh menuliskan kisah para Dewa.

Maka anak-anak mereka akan terus mati, terus bisu, terus lumpuh.

Apakah ini kebenaran yang para Dewa janjikan? Manusia terus mati untuk namanya?

Anakku, benar dan salah adalah seekor ular di pundak kiri dan kalajengking di pundak kanan. Tengoklah ke arah manapun dan kau akan temukan dirimu sekarat dalam racun. Tetaplah memandang ke depan, karena para Dewa akan selalu mengulurkan tangan-tangannya.

Tidak, aku tidak percaya itu. Jika saja ada cara agar aku bisa membunuh ular-ularmu, mungkin manusia bisa mulai hidup sebagaimana mestinya.

Berhentilah, Jayapangus.

Tidak, justru aku akan memulai. Aku akan membuat sesuatu yang indah, lebih indah dari apapun yang manusia pernah coba buat. Sebuah karya yang akan menebus Ibadah manusia untuk seribu tahun lamanya.

Lalu sang Raja menghilang, tidak ada yang pernah melihatnya lagi di pulau itu. Hanya saja, kira kira beberapa puluh tahun setelah itu muncul kisah aneh yang diceritakan para bocah. Kisah ini amatlah ganjil, karena bocah-bocah pulau Dewata tidak seharusnya mengenal kisah apapun selain kegagahan para Dewa dan eloknya para Dewi. Bermula di sebuah tengah malam ketika beberapa anak hilang dari bilik tidurnya, dan para orang tua bahkan tak pernah menyadari itu. Hanya saja di pagi hari, mereka bercerita tentang pertemuan mereka dengan sepasang makhluk yang mengajak mereka bermain sambil bercerita. Tentu para orang tua kaget, terutama setelah mendengar bukan hanya anak mereka yang bercerita hal serupa.

Ia adalah seorang Raja yang dahulu hilang, namun Ia sudah bukan manusia. Para orang tua merinding mengira anak mereka telah bertemu Iblis yang kembali ke bumi. Tetapi, cara anak-anak mereka bercerita membuat mereka merasa bahwa makhluk yang anaknya temui justru penuh cinta, bukan amarah dan benci seperti para Iblis yang mereka percaya. Sang raja mencoba menyelamatkan kita, begitu kata para anak-anak, agar ayah tak harus mati di gunung tinggi, agar Ibu tak harus kehilangan jari-jari. Para orang tua lalu mengusap kepala anaknya dengan penuh cinta, mencoba memberi pengertian tentang pentingnya Ibadah mereka. Tapi sang anak melanjutkan ceritanya Ia ingin mencoba menebus dosa-dosa kita dengan sebuah patung. Sang Raja justru menemukan sesuatu yang tak ia duga dalam dirinya sendiri. Ia menemukan rasa cinta yang menghantui, rasa cinta yang sedikit berbeda dengan cinta kita pada Dewa Dewi.

Patung itu ia beri nama Kang Ching Wei. Pada awalnya Raja Jayapangus hanya bermaksud untuk membuat sebuah karya yang sempurna. Namun meraih kecantikan bukanlah hal mudah. Sebuah karya terbaik yang akan menggantikan seluruh persembahan pulaunya tidak dapat lahir dalam semalam. Ia terus mencoba, menggapai dan merasakan, meski terus gagal. Karena dalam benaknya ia belum sepenuhnya paham tentang apa yang ia coba raih. Apa itu sempurna? Seperti apa kecantikan yang surgawi? Hingga suatu hari seorang Dewi benar-benar turun ke hadapannya, mengulurkan tangan dengan angkuh dan dalam keelokan layaknya seorang Dewi.

Ialah Mahadewi Danu, sang penguasa air purbakala.

Aku di sini untuk menjawab kegelisahanmu, Begitu tutur Mahadewi Danu. Tentu Jayapangus tertegun. Ia hanya bisa menatap makhluk tinggi yang mendadak menyeruak keluar dari Kang Ching Wei. Ia tidak ingin menangis, tapi air mata mengucur di pipinya. Ia tersenyum, bahkan memberikan ekspresi tawa dalam rasa haru dan lega. Ia peluk Sang Dewi dengan serta merta.

Aku tidak pantas untuk ini, Mahadewi Danu. Sungguh tidak pantas. Terimakasih, tentu harusnya aku mengucap syukur dalam sejuta Doa, namun penantianku begitu panjang dan aku kehabisan kata-kata.

Tentu kau pantas, aku di sini sebagai buah dari perjuanganmu meraih kesempurnaan. Maka kesempurnaan itu datang, aku disini menjawab penantianmu. Sekarang, kau dapat genggam keindahan itu.

Untuk beberapa lama, sang raja menatap Mahadewi Danu. Ia lihat gemilang yang melayang dalam balutan warna yang belum memiliki nama. Benar, mungkin itulah keindahan, mungkin itulah kesempurnaan. Tetapi tiba-tiba sesuatu merasuki pikiran dan jiwanya. Sebuah rasa. Merusak dalam haus dan nafsu yang begitu ganjil, sang Raja pun tak kuasa untuk menahannya

Tapi Kang Ching Wei masih disana. Aku belum menyelesaikannya. Ia pun tak kuasa untuk tidak menatap sisa-sisa tubuh Kang Ching Wei. Ada warna yang begitu mabuk di bola matanya.

Apa artinya sebuah patung, kau memiliku sekarang. Tentu persembahan ini sudah tak berguna…

…Tidak! Bentak Jayapangus. Sontak Dewi Danu terkejut. Dengan amarah, ia lebarkan kain dan pancarkan sinar yang membuat sang Raja tersungkur. Beraninya kau tinggikan nada bicaramu!

Lalu siksaan untuk tubuh Jayapangus datang bertubi, diringi perasaan sang Dewi yang juga tersiksa oleh kata-kata sang Raja. Kang Ching Wei disana, ia terlihat menangis dan meminta untuk diselesaikan. Badai menerpa. Jayapangus seolah terbius, menyadari bahwa bukan sempurna yang ia cari, tapi Kang Ching Wei. dia. hanya dia Petir bergemuruh. Bukankah sang Dewi adalah kecantikan tertinggi, keindahan yang tak terbantahkan? Tapi kekosongan di hatinya tetap meraung, meminta dirinya kembali hampiri Patung kesayangnnya. Ombak menggulung. Mungkin saja, bahkan sang Dewi tak bisa mengisi hatinya yang terus mencoba meraih Kang Ching Wei.

Dengan satu kalimat terakhir sang Raja, bahkan Mahadewi Danu tak lagi bisa tunjukkan amarahnya. Hanya kecewa dan kesedihan yang ia rasa. Perasaan yang ia kira tak akan pernah alami. Sebuah penolakan.

Maka dalam ratap yang dalam, nada yang tak lagi angkuh, serta wajah yang berhenti berbinar, sang Dewi hanya memberi peringatan. Tapi jika seperti ini cara kau mencintainya, maka mungkin benar apa yang “Orang itu” katakan. Kau tidak akan pernah bersamanya.

Tanpa perduli, Jayapangus yang nyaris hancur mulai kembali merangkak dan membentuk Kang Ching Wei.

Cerita para bocah pun berakhir disana. Orang tua yang bingung menanggapinya dengan ketidakpercayaan. Tidak ada Dewi yang pernah turun ke bumi. Mereka memang hidup di antara manusia, tapi jawaban akan cinta mereka datang dari tanah yang damai, bukan kehadiran.

Hingga beberapa lama kemudian, ketika beberapa bocah kembali hilang di tengah malam, terdengar akhir cerita yang lebih janggal dan tak masuk akal. Bercerita tentang akhir dari sang Raja dan awal dari sepasang makhluk malam. Juga seorang Dewa yang tak mereka kenal.

Mahadewi menyebut dirinya sebagai “Orang itu”. Namun ia menjulurkan tangannya pada Jayapangus dan memperkenalkan diri sebagai “Sunset”. Ia hadir tanpa seiring dengan meledaknya cahaya mentari, yang kemudian diikuti gulita. Meski begitu, ia tidak datang dengan keangkuhan para Dewa ataupun kegagahannya. Ia datang dengan celana pendek dan segelas Mojito rasa pisang.

Ia berbicara beberapa hal, tanpa sang Raja perdulikan. Hingga ia berkata bahwa bisa saja mereka dipersatukan. Kontan Jayapangus kehilangan kendalinya.

Sunset terlihat santai. Terlalu santai. Ia menjelaskan sesuatu tentang cinta manusia, dan hal-hal yang sang Raja tak mungkin dapatkan. Yang membuat kalian tak bisa bersama bukanlah Kang Ching Wei, tapi dirimu sendiri. Sungguh tidak masuk akal, bukankah ia mencintai sebuah patung? Jika saja ada cara agar mereka bisa bersama, atau paling tidak menjadi sama.

Disanalah, sang Raja membawa kegilaannya ke titik tertinggi. Ia menyadari sesuatu. Jika memang Kang Ching Wei tak akan pernah menjadi manusia, maka ia akan ubah dirinya menjadi sebuah patung tanah liat.

Ia oleskan satu persatu tubuhnya, lapisi dengan tanah yang dengan cepat membekukan tubuhnya. Ia telan bongkahan-bongkahan tanah bersama dengan cairan magis, membuat tanah itu menjadi serpihan kecil dalam tubuh dan beredar melalui pembuluh. Perlahan, ia tak dapat rasakan kaki, tangan dan pinggang. Lalu perlahan tubuhnya pun membeku menjadi tanah liat. Hingga sebelum jantungnya benar-benar membeku, Sunset datang dan mencabut jantung nya dan menyisakan sebuah lubang besar di dada.

Jadi akhirnya kau mengerti, Jayapangus?

Aku selalu memintanya untuk menjadi sempurna, tapi mungkin aku yang tak bisa menerimanya. Dengan mengubah diriku menjadi seperti ini, mungkin aku bisa lebih memahaminya.

Setelah itu Sunset tersenyum. Dua patung yang kini beku pun ia baptis dengan sepasang Nama. Gyma dan Gale, yang pertama dari kaumnya. Mereka berdua kemudian bertemu, untuk pertama kalinya benar-bener bertemu. Dalam pertemuan itu mereka terlepas dari tubuh mereka, dan kebekuan pun mulai mencair lalu meliuk, bertabrakan dengan satu sama lain hingga berkali-kali mereka kehilangan bentuk aslinya. Hari itu, sang Raja dan Putrinya benar-benar bersatu, bukan sebagai individu namun sepasang yang nyaris tak terbedakan. Cinta mereka yang egois, yang obsesif dan tak mengenal lelah, dibayarkan hilangnya kehidupan. Sekarang, mereka hanyalah sepasang penjaga. Sunset meminta mereka untuk melindungi satu-satunya cinta manusia yang pantas dibela; Cinta di hati anak-anak. Karena itu kau akan bercerita pada mereka. Kau akan buat mereka terus percaya. Bahwa rasa tak mengenal bentuk, atau standar kelaziman. Cinta manusia adalah sesuatu yang polos, penuh pengorbanan dan selalu mampu menerima satu sama lain.

Di ujung cerita, para bocah menyebut mereka sebagai salah satu dari Midnight Strangers. Gyma & Gale adalah makhluk malam yang hanya bisa terlihat oleh bocah-bocah di masa kecilnya. Mereka hadir untuk bermain dan bercerita, sebagai lambang harapan yang ganjil, membuat anak-anak terus percaya akan teman-teman yang masih menunggu mereka di sudut-sudut gelap.

Bagi para orang dewasa, cerita sang Raja hanyalah Legenda. Begitu pula kisah-kisah tak nyata lainnya. Namun bocah-bocah mengingat mereka sejelas ia mengingat susu kesukaan atau rasa sayuran yang pahit. Karena para Strangers ada disana, selalu disana. Bersembunyi di balik tirai dan kolong-kolong kasur, di antara laci dan gang yang terlalu sepi. Mereka lindungi masa kecil dengan sabar, menemani para bocah yang kesepian sambil bercerita. Meski dengan tubuh, wajah dan logika yang tak sesuai dengan dunia.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s