Tulis sana tulis sini

Terus buat apa marah-marah, dia bilang

Tentu saja, kan terlalu banyak yang lari-lari di sana sini, tidak seperti laci kita yang kosong.

Ah, tempat itu. Tapi jika begitu terus, kapan aku mau dikenal, atau kapan mau dipahami?

Memangnya saya perduli? Lebih baik saya senang-senang sendiri.

Untuk berapa lama? Sekarang juga kau curi-curi kan untuk bisa membuat aku?

Ya memang aku selalu berjinjit dan mengintip, semua demi kamu ada.

Mungkin kau memang harus berhenti berteriak-teriak sendiri.

Aku selalu terlalu egois, aku tahu itu.

Dan waktu kamu mulai coba dengar, kamu pun sadar bukan?

Bahwa yang ingin dipahami bukan cuma aku, tapi juga mereka yang memberikan pendapatnya tentang aku.

Apakah mereka percaya padaku?

Buat apa mereka berkata apa-apa jika tidak percaya.

Tapi semuanya terdengar terlalu ribut. Aku takut.

Bukankah sebelumnya kau cukup berani?

Tidak kali ini.

Mungkin sekarang, justru mereka lebih percaya padamu daripada dirimu sendiri?

Tidak mungkin.

Berarti jawabannya ya.

Tapi seharusnya kamu tempat aku bisa berkata apapun, semarah apapun, sekacau apapun.

Dewasa! Dunia ini bukan milikmu saja.

Tapi kau milikku saja.

Tidak, tidak jika kau masih ingin terus punya aku.

Jadi seperti ini? Terus selamanya?

Aku adalah satu dari banyak hal yang tidak akan dapat kau miliki, jika tidak sedikit kau bagi.

Jadi kau benar-benar akan keluar dari laci?

Dan mungkin akan mencoba menyelamatkanmu sekali lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s