Ada suatu tempat disana

Tempat mereka menungguku, tanpa meminta banyak, hanya untuk memeluk diri yang terlalu lelah.

 

Disana, akan berlarian bunga dan rumput dengan aroma kental, bersisian bersama adik dan kakak yang ikut bermain, bertelanjang kaki dan tertawa terlalu nyaring.

Ada tanah yang tidak dibiarkan percuma, mereka tak perlu menunggu berjam-jam hanya untuk pulang. Tidak ada kekesalan dari mereka yang melintas tanpa sopan, dan ketika kau akhirnya pulang, ruang luas kamar tidak akan menghimpit terlalu sempit.

 

Suara gemerincing yang dibiarkan terbengkalai, mereka tidak meminta nilai, lakukan apa yang baiknya terjadi, itu saja. Tanah tanpa peperangan atau budak, baik yang dipaksa tersiksa maupun sukarela demi mendapatkan hormat. Mereka adalah orang-orang yang bebas, yang mulia tanpa dipalu rasa malu.

Lalu disana kapan datang? Tidakkah terlalu sendiri itu buruk bagi kesehatan. Tapi yang lebih buruk lagi adalah ber angan-angan, akan suatu nanti yang tak kunjung usai, tak tercerai-berai, tak meninggalkan anyir masakan kurang matang. Hanya suaka. Terjauh dari melankoli kota bermesin raksasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s