Kehilangan hari

Terus profesi nya apa?

Pertanyaan yang tidak, atau belum, mau, atau bisa, saya jawab.

Penulis disebut penulis ketika bukunya telah diterbitkan oleh penerbit beneran, atau paling nggak punya blog dengan pembaca ribuan.

Mungkin saya sebagai pelaku pemasaran digital, tapi tentu saya tidak bodoh. Belum ada tuh produk yang saya pasarkan dan jadi terkenal, atau minimal bahan omongan.

Kemudian teman saya berkata betapa ia takut kehilangan hari – harinya. He then kept a journal of his days. Smart move actually, but that does not actually answer any of my question.

Memang, keresahan saya terlalu manusiawi, kurang spiritual, dan mungkin cheesy. Tapi teman saya yang lain beberapa kali menyinggung mengenai “ingin dikenal sebagai apa ketika nanti mati”.

Jadi mungkin keresahan profesi dan kehilangan hari memiliki penyebab yang serupa. Mungkin di balik seluruh embel-embel, ambisi, kenyamanan, pencarian, dan dialog, kita semua menyadari bahwa “selamanya” pun mengenal akhir, atau paling tidak, ia berlalu lebih cepat dari yang kita kira, membawa pergi peristiwa dan ingatan yang pernah berharga.

Dan setelah itu, kita akan tetap kehilangan hari – hari. Entah yang langsung terlupakan keesokan harinya, atau puluhan tahun berikutnya, pengalaman akan hilang dan menjadi satu, menempel pada sebuah diri.

Karena itulah, profesi menjadi pertanyaan. Bukankah akan sedikit lebih nikmat untuk kehilangan hari dalam sesuatu kita pahami, daripada terus menuliskan hari dalam kebingungan?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s