Kereta Hestia (Intro)

Sebuah lorong peron yang panjang. Tidak terlihat ujung dari tempat itu, namun terasa angin yang berlarian dari satu ujung ke ujung lainnya. Mereka tidak membawa dedaunan atau debu. Angin itu kosong, namun tidak dengan peron itu. Tidak sepenuhnya.

8 orang berdiri dengan berbagai jenis koper, mengisi ruangan di sekeliling mereka masing-masing. Beberapa mereka tenteng, namun rata-rata dengan koper besar yang terlalu besar untuk dijinjing. Menarik memang, bentuk koper koper yang semakin hari semakin ‘teknologis’, seperti benda lainnya. Beberapa menempelkan istilah-istilah asing yang tentunya terkesan canggih, dari Dordura hingga Nilon Balistik yang katanya akan membuat semuanya tahan banting, ringan, bahkan lebih ringan dari tas jinjing berukuran seperempat kali lebih kecil. Di ujung bawahnya, tidak lagi hanya sepasang roda yang para produsen tempelkan, namun paling sedikit dua. Roda roda ini tentu terpasang demi satu tujuan; membuat semua bergerak lebih cepat, menempuh jarak jauh dengan ketahanan lebih tinggi, mengikuti para penggeretnya yang semakin hari semakin cepat.

Namun ini adalah kereta malam yang panjang, dua puluh dua jam waktu tempuh membuat jalur ini ditinggalkan dan semakin sepi. Banyak yang mengira, meski hanya sedikit dari mereka yang terlalu menyayangkan, jika saja jalur ‘tak efektif’ ini akan ditutup. Tapi toh Pandin berdiri di sebuah negri yang kaya. Para pemimpin yang terpelajar dan pandai mengalokasikan sumber daya mereka yang terbatas punya lebih dari cukup uang untuk sekedar mempertahankan salah satu rute tertua mereka. Maka Susunan gerbong besar tanpa pendingin akan selalu dihidupkan di kala ‘musim pulang’. Selama 4 bulan lamanya, Jalur menuju Hestia itu akan dilalui sang harta sejarah dengan piston berkarat, meski hanya mengangkut belasan orang saja.

Mereka berdiri disana. Wajah yang itu-itu saja, yang selalu masuk tanpa pernah mengantri terlalu lama. Bisa jadi mereka memilih kereta malam karena terlalu bosan atau miskin, untuk memilih kereta cepat, pesawat, atau kendaraan roda empat. Bisa jadi, mereka telah kehilangan apa yang manusia modern masa itu selalu agung-agungkan; Kecepatan, efisiensi, dan efektifitas. Namun rata-rata dari mereka memiliki alasan yang lebih personal.
Apapun alasan itu, toh memang hanya di peron itu mereka tidak perlu berdesakkan atau berlarian. Sang masinis yang masih pria tua berambut perak berseragam lengkap dan bukan sebuah mesin pembolong tiket otomatis yang berjalan-jalan, akan menunggu mereka yang terlambat. Apa bedanya beberapa menit lebih lama dari perjalanan berjam-jam? Mereka yang menunggu pun tidak pernah protes. Beberapa munkin bertanya dengan tenang, ‘berapa lama lagi kita akan menunggu?’ dan masinis berkumis (hampir semua dari mereka berkumis) akan menjawab ‘kira-kira 10 menit’, terkecuali Sorda. Ia yang konon telah menjadi masinis semenjak kereta ini pertama kali beroperasi akan menunggu 15 menit, tidak kurang, mungkin lebih.

Dan itu tidak apa.

Sebagai catatan, perbincangan yang nanti akan terjadi tidak harus terjadi di waktu yang bersamaan. Lagipula, setiap dari mereka punya cukup kesempatan untuk mengenal satu sama lain lewat cerita, perkenalan, atau tegur sapa. Bukankah mereka adalah bagian dari ‘wajah yang itu-itu saja’, para penumpang rutin yang berjumlah maksimal 8?. Namun memang kali ini, adalah satu musim pulang yang secara kebetulan mengajak mereka semua kembali di saat yang bersamaan. Maka perbincangan yang akan terjadi, hanya akan terjadi di satu perjalanan ini, meski tidak mungkin memastikan di jam ke berapa mereka benar-benar saling menceritakan satu pengalaman, memperbincangkan satu perasaan.

Bisakah kamu melihat salah satu dari mereka hanya terdiam, memikirkan suatu hal yang sebentar lagi akan ia utarakan. Namun untuk beberapa jam pertama ia hanya akan memandang keluar jendela besar yang tak janjikan apapun. Hanya hitam, dengan dirinya yang sungguh berani memberi warna biru dan hijau, langit Hestia yang selalu menyentuh padang rumput tempat ibunya dan sapi-sapi kesayangannya yang sekarang berkali-kali lipat lebih besar dari dirinya. Namun tetaplah untuk beberapa lama, ia bahkan tidak berani untuk menanyakan sebuah nama dari wanita yang juga memandang hitam di depannya, mewarnainya entah dengan oranye, abu-abu, atau mungkin putih menyala tanpa bercak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s