Hari Pertama

Di Sebuah kota dengan sejarah yang lebih panjang dari kakek nenek saya, dengan koper-koper besar seperempat kosong, saya dan keluarga saya duduk di sebuah pojok yang tak penuh, tapi juga tak lengang.

Sepi, namun terasa penuh karena disamping keluarga kami, juga berkumpul mereka yang datang dari berbagai penjuru dunia, melakukan apa yang kita semua lakukan. Menunggu.

Mereka berkata bahwa hidup adalah tentang menunggu. Bocah bocah SD menunggu hari libur, Para remaja menunggu pesta ulang tahun ke tujuh belasnya atau hari ketika mereka diperbolehkan menyetir mobilnya sendiri, Para kaum muda menunggu hasil kesuksesan atau gaji pertama sedangkan yang tua dengan sabar menunggu ajal. Maka kita pun menunggu. Untuk kami, menunggu alat transportasi publik yang telah berumur 150 tahun ini bergerak membawa kami ke suatu tempat yang sebelumnya belum pernah kami datangi, lihat, atau rasakan.

Sungguh opera yang Ironis, saya kira. Tentang seorang yang menangis di pojok lain kereta bawah tanah, tentang sekeluarga latin yang duduk berbaris, tersenyum meski lelah setelah membopong koper yang sama besar dengan koper-koper keluarga kami. Saya bayangkan mereka berkata “London Nih!”, seperti halnya keluarga saya berkata dengan gembira pada satu sama lain. Opera Realita. Kerap kali sama, namun sesekali berulang dengan kejam bahkan sejauh 18 jam dari rumah.

Ia dengan air mata sesekali melihat ke berbagai arah. Keluarga kami pun memberinya senyum dan ia hanya kembali menunduk mencoba menutupi mata sembabnya. Sang Ibu dengan Koper besar berkali kali mengelus bocah remajanya. Sang bocah tersenyum pada Ayah dan Ibunya, kemudian sesekali menghentakkan kaki tanda kegirangan yang kami juga rasakan, tapi terlalu malu untuk banyak mengekspresikan. Betapa senyum adalah bahasa yang dibiarkan tetap satu. Ketika kami berusaha berkata pada pada mereka yang bersedih untuk ikut nikmati hari ini, ketika mereka merasakan gembira yang baru, meneguk suasana yang belum pernah mereka cicipi sebelumnya, atau sekedar membiarkan rasa yang tak terjelaskan lepas ke dunia.

Maka mungkin yang kuasa tak sepenuhnya kejam, bahkan setelah salah satu amukannya. Bukankah pernah kita dihancurkan, diserakkan ke segala penjuru dunia dalam jutaan bahasa. Dalam kisah runtuhnya menara agung Babel, Mungkin tuhan cemburu, mungkin pula takut. Tapi tuhan tetap berikan pengampunan, atau paling tidak kesempatan bagi makhluk-makhluk tercintanya untuk tetap hidup bersama. Maka senyum ada disana. Tempat manusia dapat mengelak dari takdir, sebuah jurang yang biarkan setiap dari kita berkata ‘bahagialah’ pada sesama, jika kita mau.

Bunyi yang bising, dua pasang roda koper yang licin, menghentakkan saya untuk kembali menakar sekitar. Tidak ada lagi wanita yang menangis di ujung pintu otomatis. Keluarga Latin itu telah berpindah kereta. Hanya kami. Tetap sesekali tertawa lalu tersenyum, mungkin karena kota ini, mungkin karena satu sama lain.

Tempat yang saya tuju bisa jadi berbeda dengan tempat yang bahkan masing-masing keluarga saya tuju. Baginya, Ini adalah sebuah mall raksasa, atau situs situs sejarah yang berharga. Bagi beberapa, ini adalah tempat tinggal seorang yang disayang, atau sebuah kota yang bergerak terlalu cepat dan tak kenal lelah. Bagi saya, ini adalah satu dari sedikit tempat bermukim mereka yang berani menghargai karya seni panggung mereka sendiri, atau paling tidak memberi harga untuk sebuah kehidupan cukup. Yang menanti setelah satu perjalanan pendek terakhir ini adalah sebuah Industri tempat saya hidup (dan berharap tetap hidup dalam), namun belum mampu menghidupi saya.

Saya akan berjalan dalam bangunan tua yang dibuat gemerlap, sebagaimana di dalamnya di pertontonkan kisah tua yang dipoles sedemikian rupa agar menjadi gempita. Tempat kisah dan sejarah menjadi satu, bukan dua hal yang bertentangan dan saling tinju. Akan ada mereka yang bergerak dengan cepat, berusaha dengan giat, bukan untuk sebuah nama, bukan untuk menjadi jutawan namun relawan yang bahagia. Seolah jika mereka mati, mereka mati di jalan yang nyaris pasti.

Kemudian sesaat itu juga, seolah mati duduk di samping saya yang mendadak sendiri. Ia yang telah menjadi semakin kurus, di kota tempat melayangnya nyawa adalah tragedi, tempat nyawa hadir sebagai sebuah kelaziman, bukan sesuatu untuk diperjuangkan. Ia menepuk pundak kami dengan hati-hati, dengan ringan, lambat namun seolah sambil berlari. Ia disana, mati. Mati selalu disana dan bersembunyi. Bahkan dibalik kemeriahan, dibalik peradaban, apa yang tiada selalu menjadi fondasi dari materialisme dunia fana. Dunia yang untuk sementara saya tinggalkan, dunia yang terus berkecamuk dengan angka, pasar, pelanggan, waktu, tenggat, kecepatan, ilmu, istilah, serta segala hal membingungkan yang sungguh tak berarti apa-apa.

Saya muak.

Sungguh menjijikan.

Dan satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah mencoba melupakan yang saya tinggalkan, dan hidup di detik ini, detik ini, detik ini, dan detik ini.

In a world I’ve imagined.

A world with no math but books, no numbers but words.

Nobody runs toward a mark in a moment, nobody chased by doors that was opened in a while, towards another that soon will close.

We’ll live by chance, but we’ll savor it, not desperately keep going for another. Lives won’t be fueled by one consumption to another, but one kisses to hugs, by warm greetings and faithful smiles.

Desperation would be a myth. Some live slow, still some live fast.

But for happiness, not another emptiness.

Kemudian gerbong itu pun berhenti.

Dan dengan tergesa gesa, kami biarkan diri kami dalam dunia yang sama sekali baru, sesekali mencoba untuk hidup dalam pencarian, menuju kesempatan dan kemenangan-kemenangan kecil.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s