120 Menit kebebasan

Antara Bundaran Hotel Indonesia dan Ratu Plaza bukanlah jarak yang cukup dekat untuk ditempuh kaki.

Paling tidak untuk saya.

Namun tetap saya menempuhnya, sejauh yang saya bisa, demi entah apa.

Saya berlari, dalam sebuah perasaan yang cukup tenang, setelah beberapa waktu berjalan bersama keluarga dengan cukup menyenangkan. Obrolan sederhana mengenai berbagai benda yang saya harus beli, seberapa jauh sebaiknya saya pergi, dan tentu saja, orang orang dan hal hal yang terjadi di dunia pagi ini.

Hingga lalu saya mencapai patung seorang jendral besar yang selalu dalam posisi hormat, yang pernah disinggung dalam sebuah film komedi dengan seruan ‘apa yang kau sedang hormati jendral? Turunkan tanganmu!’. Saya menatapnya, setelah mungkin puluhan kali saya menatap wajah dingin itu, lalu berkata pada ayah saya, ‘Sepertinya sang jendral sudah menyuruh saya untuk lari’

Maka karena saya tidak hidup di film, dan jika saya berteriak pada patung maka saya akan dikira kurang waras, hal paling tidak biasa yang saya dapat lakukan adalah mengangkat tinggi tinggi tangan saya, kemudian menaruhnya miring di depan dahi.

Saya pergi.

Meski hanya untuk hitungan jam, namun saya pergi.

Meninggalkan keluarga saya yang masih berbincang santai.

Meninggalkan kasur dan selimut hotel yang masih empuk dan hangat.

Meninggalkan pekerjaan yang saya cinta, bersama gadget gadget yang saya biarkan tanpa baterai di dalam tas.

Meninggalkan tempat tinggal, berlari di sebuah jalan yang amat berbeda dengan tempat biasanya saya berolahraga.

Untuk apa?

Saya pun terus bertanya serupa, sambil sadari apa yang sebenarnya saya tinggalkan.

Saya tinggalkan keluarga untuk sesaat, maka saya tinggalkan berbagai ekspektasi.

Saya tinggalkan kasur dan selimut, maka saya tinggalkan kenyamanan sebagai ekstasi.

Saya tinggalkan pekerjaan, maka saya tinggalkan tanggung jawab.

Saya tinggalkan tempat tinggal, maka saya tinggalkan keseharian dan kebiasaaan.

Saya tinggalkan begitu banyak hal meski sesaat, karena cukup adil jika saya mengatakan bahwa dalam berlari, saya bisa temukan sedikit kebebasan.

Bebas. Nama font favorit saya, sekaligus kondisi yang begitu banyak manusia coba raih meski berakhir kegagalan atau ketidaksadaran. Sayangnya banyak pula dari mereka yang tak sadar bahwa mereka akan selalu gagal.

Tidakkah kita selalu berlari dari belenggu yang satu menuju kurung yang lain? Ketika kita gagal berdamai dengan alam, kita hadirkan teknologi yang membawa ketergantungan. Berkat belenggu pertanyaan  akan kematian, lahirlah agama dan aturan aturan yang menjadi dinding pembatas kehidupan. Tidak pernah ada kebebasan yang benar benar sempurna, karena memang seperti itulah dunia ini, dan manusia selalu hidup dalam kekangan orde, urutan, tata tertib, penataan, apapun yang memang pada akhirnya menjauhkan kita dari kekacauan, namun juga dari kebebasan.

Tidakkah ini adil? Patutkah ini dipersalahkan?

Kemudian setelah itu, Sebuah mesin pemutar MP3 Diskonan menjawab dengan lantang dan keras – Mungkin karena memang volume nya saya tinggikan hingga mentok.

‘Cause we’re all to blame
We’ve gone too far,
From pride to shame,

Menggelikan memang, bagaimana sebuah mesin pemutar musik nyaris rusak dapat meneriakkan jawaban pertanyaan akan kebebasan, berupa suara seorang Deryck Whibley, vokalis dari sebuah band rock biasa, dan tentunya sama sekali bukan musik kelas tinggi.

Namun toh bagi saya itulah jawabannya.

Bahwa kita yang sombong, adalah satu satunya yang dapat dipersalahkan.

Realize we spend our lives living in a culture of fear

Manusia, hidup dalam kemanusiaan yang diagungkan, namun juga membawa ketakutan. Ketakutan akan runtuhnya kemanusiaan itu sendiri. Hingga lahirlah persatuan, perdamaian, harmonisasi, dan kata kata indah lainnya.

Tapi bukankah kemanusiaan itu sendiri adalah jeruji tak terlihat?

Kemanusiaan yang adil dan beradab, begitu katanya. Dan mereka tidak berkata apapun tentang bebas yang sempurna, mereka hanya berkata bahwa kita bebas sebagai negara. Bisakah kita bebas berkata bahwa saya ingin bangun tidur untuk diri saya? Tidak, kemanusiaan berkata lain, kita selalu lahir demi orang lain, demi pembangunan suatu instansi atau paling tidak kehidupan yang lebih besar. Bisakah kita bebas berkata bahwa aku ingin mati di jalanan, mempertaruhkan apa yang aku percaya. Tidak, akan selalu ada air mata, beban perasaan, dan yang lebih menyedihkan, gaya hidup yang hilang. Pada suatu titik, kemanusiaan berhasil membuat kita menjadi penjara bagi diri kita sendiri.

Namun toh paling tidak, saya punya satu lari panjang ini.

Meski ketika saya selesai menuliskan racauan ini, badan saya terasa sakit sakit, berkat terhanyutnya saya dalam sensasi sebuah kebebasan.

Maka ketika saya berhasil kembali sampai temui muka sang jendral.

Saya berikan ia hormat sekali lagi,

Yang setia berdiri, menjadi penanda awal dan akhir 120 menit kebebasan saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s