Calon Arang, Monolog pembuka adegan 4: Senja dan prajurit kelam

Calon Arang: Bukankah setiap dari kita membuka mata dalam peluk orang tua untuk sebuah alasan? Namun wanita itu lahir tanpa siapapun untuk ia tanya, apalagi peluk.

Telah menjadi fitrah manusia, untuk menunggu cahaya dan menutup mata di kala senja menyerbu matahari. Namun di tempat wanita itu lahir, pagi enggan meraba barang sekali, hanya aroma senja yang terus hadir hiasi hari.

Dan ketika semua dewa menutup mata.

Durga tunjuk ia sebagai anaknya yang kafir, bimbingnya dengan sebuah kitab sebagai pengasuh setia, sebagai orangtua, sebagai cahaya di gelap senja.

Maka helai demi helai pohon siwalan berjatuhan dan menua, kemudian tertuliskan lima aksara yang menjadi nujum sang mala.Tuliskanlah ‘Tuhan’. ‘Anugerah’. ‘Jiwa’.

Kemudian kekuatan tanpa akal.

Dan jiwa yang terbelenggu.

Wanita itu, telah mati pada suatu waktu, namun lahir kembali dengan rapalan rapalan sang dewi Durga sendiri.

Ong gni brahma anglebur panca maha bhuta, anglukat sarining merta. mulihakene kite ring betara guru, tumitis kita dadi manusia mahotama. ong rang sah, wrete namah.

 “

Dan siapapun yang menjadi (bagian) bumi, takkan pasti hidupnya, mereka dengan harta atau mati kelaparan hingga dianggap tanpa kasta, adalah sementara; yang kembali pada kubur. Kecuali untuk sang wanita dan beberapa, hidup terpilih sebagai murid tercinta Durga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s