Taraksa dan apa yang dirasa

Hari terakhir Taraksa.

Cukup menyenangkan.

Namun memang akhir akhir ini banyak sekali kata Taraksa dalam hidup saya, karena memang hampir seluruh teman teman saya menjadi penggiat utama pentas ini.

Saya pun menuliskan tulisan seperti ini, yang terkesan Blog banget karena memang, tidak banyak dari mereka yang bisa atau mau mendengar keluhan tentang Taraksa.

Secara show, saya personally puas. Ada banyak kritik, bahkan cerca dari teman-teman yang justru paling dekat, namun toh mereka hanya kritikus biasa. Those who can’t do teach, they say. But some who can’t even teach, comment.

Keluhan, maka dari itu saya kira, lebih pada proses perjalanan saya yang katanya sih sutradara, namun seringkali merasa kecewa baik pada diri saya sendiri maupun beberapa yang kurang menghormati.

Pertama, saya membuat play ini untuk membantu. Saya tidak akan pernah lupa fakta itu. Karena bahkan dari awal saya diminta, saya tidaklah merasakan ambisi untuk membuat pementasan ini, hanya sekedar membantu. Dalam pembuatan cerita, saya membuat cerita ini pada awalnya sekedar untuk seorang yang saya sayangi. Dan saya kira pada bagian ini tidak ada banyak keresahan, karena kertas kosong yang saya isi kata adalah satu satunya bagian dari dunia Permaisuri Malam yang tidak diobrak abrik. Ketika diangkat ke atas panggung, saya tentunya mengalami tantangan baru, yaitu untuk menyampaikan apa yang saya mau menjadi sebuah bentuk nyata, dan saya kira disini saya gagal. Mengapa saya amat ‘keukeuh’ mati-matian mengubah Permaisuri Malam menjadi Taraksa adalah sebuah ‘hadiah’ bagi teman saya yang saya kira bisa jadi merupakan teman terlama saya, mengalami banyak sekali drama atas maupun luar panggung, dan I must say, Aktor terbaik yang pernah saya direct. setelah perjalanan panjang saya dan dia dalam dunia perteateran, mungkin ini adalah kali terakhir saya dan dia akan bermain bersama.

Di sisi lain, saya kira memang saya gagal menjadi yang baik paling tidak untuk satu teman saya ini. Disitu bisa jadi letak kekecewaan saya pada diri sendiri. Karena seharusnya jika saya tidak gagal, ini adalah hadiah yang manis untuk dia, sebelum ia terpaksa direnggut oleh dunia nyata. hahaha.. terkesan bromance jijay, tapi atleast I am being honest. Meskipun secara show saya yakin ia merasa content, tapi bagi saya, saya tidak menjadi pengarah yang baik untuk dia selama Taraksa ini.

Kekecewaan lain datang dengan tidak saya sangka-sangka. Kira kira pertengahan masa produksi Taraksa, saya sempat menawarkan untuk mengundurkan diri dari posisi Sutradara, karena merasa saya tidak dibutuhkan. Pernyataan ini, waktu itu tidak terlalu dianggap serius, yang saya kira merupakan bukti bahwa memang peran saya tidaklah sebesar itu. Inilah kekecewaan saya pada sekitar, betapa dalam Taraksa ini, entah mengapa, meskipun saya berusaha berkontribusi sebanyak mungkin, saya tetap merasa bahwa peran saya tidaklah seberapa. Banyak hal terjadi diluar kendali saya, seringkali saya dilangkahi, bahkan dimarahi (saya tidak mengerti logika mereka yang seperti ini, karena saya rasa ini amat tidak menghargai), dan pada akhirnya, pada satu titik saya merasa ini bukanlah karya saya sama sekali.

Maka seperti kata kata Taraksa di special show purnama. ‘Andai saja kutinggalkan posisi ini waktu itu’

Karena saya merasa, banyaknya rasa kecewa ini membuat saya kehilangan teman teman lama saya.

 

NAMUN.

saya menulis namun besar besar, karena sisi lain dari kekecewaan inilah yang membuat saya terus berusaha demi Taraksa.

Bahwa saya menemukan banyak paradigma pertemanan, bahkan rasa sayang baru pada pementasan ini.

Penata musik yang juga merupakan pacar saya misalnya, bergabung untuk Taraksa ini semata mata untuk membantu saya. Betapa saya terharu ketika ia mengorbankan banyak job berbayar hingga untuk makan enak saja ia kesulitan, mengorbankan banyak waktu kuliah hingga begitu tertekan di masa masa akhir pementasan.

Di sisi lain, Saya pun menemukan teman teman baru, dari berbagai penjuru akademi keilmuan, yang semuanya, seperti mengutip kata kata salah satu dari mereka, ‘luarbiasa cacat’ (in a positive way, of course). Saya merasa bertemu adik adik baru, dari yang masih sangat kecil namun gayanya udah tua banget, sampai yang sebenarnya tua tapi gayanya kayak bocah. Banyak dari adik-adik saya ini yang susah banget kalo disuru dateng latian, atau minimal telat. Tapi ada beberapa dari mereka yang rajin serajin rajinnya, dateng sebelum saya dateng, pulang setelah saya pulang. Mereka baik yang susah latian sampai yang khusyuk, selalu ceria, selalu tertawa meskipun saya suru lari lari, suru jungkir balik, gerak gerak terus gak berenti sampai jumlah aqua tersedia kalah banyak dengan jumlah keringet mereka.

Selain adik adik, Taraksa membuat saya bertemu dengan rekan rekan yang hingga sekarang, saya masih belum punya kata yang tepat untuk mendeskripsikan awesomeness mereka (C’mon man, me running out of words? They must have to be really something). Mereka adalah orang orang belakang layar yang bekerja tanpa pernah mengeluh, terus membantu meskipun saya tidak bisa kasih kembali apapun, dan yang paling penting, mengungkapkan pendapat membangun tanpa lupa untuk mendengarkan.

Maka di sekitar pentas Taraksa ini, saya kira saya telah banyak mengecewakan dan dikecewakan teman teman lama saya. Tapi saya rasa saya begitu beruntung telah berhasil bertemu teman teman baru yang amat saya sayangi. Merekalah yang saya kira, yang membuat saya terus ‘memaksakan’ Taraksa untuk menjadi pementasan yang tak terlupakan.

 

Terimakasih teman teman.

Semoga dengan tirai yang tertutup untuk kali terakhirnya pada malam ini, saya bisa terus menjadi sosok yang kalian anggap baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s