Nomor 6: Yang terbakar (Bag.2)

Yang aku tahu setelah itu, kutemukan diriku sedang memanjat sebuah pagar besar yang terbuat dari api berkobar. Zurda menyuruhku untuk menyelimuti telapak tangan dengan sisik Zallaka, dan terus melakukan itu setiap kira kira satu jam lamanya. Sewaktu aku bertanya jam itu apa, ia pun menyodorkanku semacam alat pengukur waktu, sambil berdengus Dasar udik.

Sudahlah, yang pasti, setiap alat ini berbunyi, kau cabut sedikit sisik Zallaka dan lumuri serpihannya di tanganmu. Itu satu satunya cara agar kau tidak terbakar.

Aku terdiam. Goblin dikenal sebagai ras yang pintar, meski licik. Untuk mempercayai mereka berarti kematian, namun aku kira itu hanya untuk berlaku untuk goblin daratan. Di langit ini, untuk menjadi percaya bisa jadi satu satunya jalan untuk keluar.

Aku pun mulai memanjat. Tidak terlihat ujung dari pagar ini, namun aku sudah cukup terbiasa dengan kemegahan lapisan langit. Purna dengan sayap tak berhingga, Drumdaara sebagai kanopi yang menjadi langit itu sendiri, serta ketiga benteng yang menjulang. Kukira pagar ini terasa jauh lebih sederhana. Maka sambil perlahan aku memanjat, ku teringat pembicaraanku dengan Zurda di perjalanan menuju pagar berkobar.

Mengapa kau mengira aku mampu membantumu.

Entah kau memang benar benar lugu, atau bodoh, atau penipu paling ulung di seantero bumi, Zurda menjawab setengah tertawa. Aku merasa terhina, tapi langsung teringat fakta bahwa ia adalah seekor goblin. Ejek mengejek adalah bagian dari budayanya.

Tapi kukira kau bukan penipu, tidak ada seorang manusia pun yang bisa menipu Kallikantzar. Dan karena kau sudah lewati sang kupu kupu, tentu kau tidak bodoh.

Aku hanya mengangguk.

Kau tahu, apa yang berada di pundakmu itu yang membuatku yakin kau bisa membantuku.

Kulit Zallaka?

Hhhh….. mungkin kau memang benar benar bodoh…. Sewaktu kau membunuh sang pemotong tenggorok, apa yang sebenarnya ada di pikiranmu?

Ia… makhluk itu…. terus menerus hancurkan para prajurit petir. Aku hanya ingin menolong.

Hanya ingin Menolong? Kemudian Zurda terbahak keras. Terlalu keras untuk dihiraukan oleh sekerumunan manusia api di sekeliling kita. Namun tetap mereka menari, seolah merekalah api itu sendiri.

Kau tahu, selama bertahun-tahun saudara-saudaraku mengangkat bendera perang, mencoba taklukan makhluk yang kau bunuh demi ‘menolong’ prajurit yang memang ditakdirkan untuk mati itu.

Lalu?

Tidakkah kau melihat taring pasir masih mencabik dengan kemarahan sebelum kau cabut sisiknya? Tentu saja saudara saudaraku hancur! Luluh lantak!

Tapi… sang pemimpin, salah seorang petir yang selalu berdiri di garis depan, ia berkata ia menungguku. Karena itulah aku bangkit, kurasa… mereka… mereka bernyanyi akan kedatanganku.

Mereka tidak seharusnya bisa berbicara apa apa. Mereka petir. Hanya itu. seperti halnya para manusia merah di sekelilingmu yang telah seutuhnya menjadi api.

Tapi mereka benar benar terasa menantiku.

Entah apa yang kau lakukan pada langit hingga ia seolah begitu mencintaimu. Membunuh Zallaka, bertarung bersama Sam Sap… aku kira mukjizat hanyalah kisah anak anak.

Aku terdiam… tertegun seraya sadari betapa panjang perjalananku sebelum ini, lalu kemudian teringat.

Tombak… aku berhasil dapatkan tombak yang kugunakan untuk hancurkan sang monster pasir.

Zurda menghela nafasnya. Bukan karena kecewa namun seperti seolah mengerti.

Drumdaara… nyaris tak pernah ia biarkan kucing kesayangannya berikan tombak itu untuk siapapun… Hey, nak! Mungkin kau memang benar penyelamat langit!, Zurda terkekeh. Tidak setiap hari seorang manusia memiliki kesempatan untuk dapatkan tombak Dawnaki.

Setelah itu, yang kuingat adalah ia menceramahiku tentang akibat kegagalan dalam mengikuti arahan memanjatnya, sehingga aku harus amat hati-hati serta mengikuti setiap detil perintahnya.

Ketika kau berhasil sampai di sisi lain pagar ini, maka tugasmu akan dimulai.

Maka setelah memakan waktu 13 jam (kuhitung lamanya dari jumlah dentingan alat Zurda yang beberapa kali ia sebut sebagai Stongwoich), sampailah aku di sisi lain pagar. Pemandangan yang persis sama seperti cerita si Goblin.

Adalah para api menari dengan gerakan serupa dan memang sama. Adalah susunan lorong serta gedung menjulang yang tertata persis, seolah aku turun di sisi tempat ku naiki pagar tersebut pertama kali.

Tapi kau tidak boleh tertipu, kembali ku teringat kata kata Zurda.

Zrack!, terdengar bunyi keras serpihan kulit Zallaka yang ia tancapkan sebelum ku pergi ke dalam tanah. Entah kapan ia mencurinya dari punggungku. Goblin memang memiliki tangan yang cekatan.

Karena kau akan turun di sebuah kota yang benar benar serupa. Tidak ada sepotong daun, atau segelintir kerikil yang akan berbeda disana. Hanya kulit ini, satu satunya penanda yang Agnipura tidak mampu hancurkan.

Mendengar kata katanya waktu itu, wajahku tampak tak memahami maksudnya.

Hei!! Ini amat penting! Banyak dari kami mencoba panjat tempat ini. Begitu banyak yang gagal dan terbakar, namun beberapa yang berhasil, akan mengira ia turun di tempat yang sama kemudian hilang.

Hilang?

Pernahkah kau bayangkan? Untuk mendaki sebuah pagar api selama belasan jam, tanpa sisik Zallaka untuk membantu. Tanganmu meleleh, tulangmu mendidih. Kulitmu perlahan menjadi kerak abu yang siap hancur. Dan setelah itu kau temukan  dirimu hanya berputar-putar di satu kota saja.

Ada perasaan ngilu ketika ku mendengar penggambarannya.

Beberapa menjadi gila lalu hilang. Para goblin yang punya cukup mental pun akhirnya mati tertawa dalam arti yang sebenarnya.

Kucari kulit Zallaka di sepanjang pagar, dan tidak kutemukan. Aku cukup yakin bahwa aku turun di tempat yang sama persis berseberangan, karena dari lampu jalanan yang tak terlalu tinggilah aku melompat menuju pagar. Dan aku bisa melihat lampu itu. berdiri tegak dengan proporsi yang benar benar sempurna kesamaannya. Hanya saja kulit Zallaka serta Zurda tidak ada disana.

Ingat, hanya kulit Zallaka ini yang akan menjadi patokanmu. Karena meskipun aku diizinkan untuk tidak terbakar, namun aku harus tetap bergerak. Langit mengutukku sebagai makhluk yang tak diperbolehkan untuk tinggal diam. Maka aku tak bisa menunggumu disini.

Seperti arahan Zurda, aku tidak terlena melihat betapa kota ini terbentuk begitu serupa. Seolah mereka adalah kembar yang terpisahkan pagar raksasa. Yang kulakukan adalah menculik salah satu penduduk, dengan menyelimutinya dalam kulit Zallaka.

Menculik salah satu dari mereka adalah hal mudah. Sebelumnya tidak mungkin bagiku, karena seluruh api di tubuh mereka akan meronta dan membakar siapapun. Berbeda denganmu, yang harus kau lakukan adalah selimuti tubuh salah satu penduduk dengan kulit Zallaka, maka apinya akan padam dalam sekejap, makhluk itu pun akan kehilangan kesadarannya.

Kemudian aku pun kembali panjat pagar yang menjulang. Dan aku pun merasakan kebenaran kata ‘siksa’ dalam arahan Zurda.

Disinilah perjuanganmu akan benar benar dimulai. Tanpa kulit Zallaka di sekitarmu, maka dirimu akan perlahan terbakar. Tenang, meskipun kau manusia, namun kau tidak akan terbakar dalam sekejap, karena sisa sisa ilmu purna maupun kebijaksanaan Drumdaara niscaya masih selimutimu. Namun percayalah, ini merupakan siksaan terberat yang bahkan seorang pahlawan mungkin dapatkan.

Dan benar perkataan Kallikantzar tua itu. Api tidak langsung merobek tulang dan daging, namun perlahan tembus pori poriku, menyiksaku perlahan tapi pasti. Aku terus panjat meski kulit telapak kaki dan tanganku perlahan hilang. Sebagian meleleh, sebagian terbakar, sebagian lainnya menjadi lengket karena panas dan tertempel di jeruji besi pagar besar. Berkali kali aku berteriak kesakitan, nafasku pun semakin tidak beraturan. Semakin lama, semakin tak bisa kurasakan apa apa. Yang terlalu panas terasa sedingin es, mengawali setiap langkah dengan perih serta ngilu, yang tak lagi bisa kubedakan. Hanya ada rasa sakit, itu yang kutahu. Sayangnya tetap ini harus kulakukan. Aku harus percaya bahwa Zurda tidaklah menipuku.

Dalam beberapa jam pertama, Kulit di sekujur tubuhku pun perlahan menghitam, kemudian mengering layaknya lahar lalu retak dan pecah. Beberapa jam berikutnya, kurasakan tubuhku tak lagi terlalu bisa melakukan hal lain selain gerakan memanjat, membuatku kehilangan kemampuan untuk mengukur seberapa tinggi sekarang aku berada. Ketika aku berhasil sampai di pagar tertinggi, seluruh tubuhku nyaris hancur dilalap api. Yang tersisa dariku hanyalah jiwa dan sedikit semangat, serta harapan bahwa cara ini akan benar benar memadamkan api seluruh kota dan biarkanku pergi ke langit terakhir.

Maka setelah itu, di sisa terakhir tenagaku, ku angkat keluar tubuh sang warga api, serta benda pamungkas yang Zurda sebut sebagai kemenangan terbesar para goblin.

Ketika kau sampai di atas sana, maka benda ini yang akan menjadi kunci penghancuran pagar besi. Adalah sepotong tangan api penduduk kota kembar pertama, yang nanti harus kau genggamkan pada tangan manusia kota kembar kedua. Satu genggaman, satu pertemuan, adalah pelambang pasti yang langit terpaksa bayar, sebagai tebusan dari kutukannya. Ketika kedua kota ini berhasil temui satu sama lain, berhasil lewati perbedaan yang selama ini memecah mereka, maka segala kutuk akan langit angkat. Maka Agnipura tak lagi pantas akan namanya.

Maka itulah yang kulakukan. Aku yang terjatuh bersamaan dengan pagar yang runtuh, api yang luruh. Langit merekah merah perlahan tersedot aroma biru yang begitu kuat menyeruakkan hawa dingin dari tiap pori-pori kota, menyapu bersih gang gang dari lahar, jalan jalan dari api, kembalikan perasaan dari tiap mereka yang sebelumnya menari-nari tanpa henti. Dalam jatuh, kulihat manusia-manusia yang pada awalnya tergeletak lemah, kemudian bangkit dan berlarian. Mereka yang terkejut melihat dirinya sendiri, mencoba mengingat betapa panjang waktu mereka jalani tanpa akal. Mereka pun semakin terkejut, ketika temukan diri mereka yang satu lagi, kembaran tubuh maupun tempat bernaung mereka masing masing. Namun dalam sekejap mereka ingat, bahwa segala siksa yang langit hujamkan pada mereka adalah berkat pertikaian mereka sendiri di masa lampau. Maka mereka peluk saudara saudara mereka, maka mereka nyanyikan lagu lagu suka cita.

Dan aku.

Tergeletak lemah hingga langit biru perlahan sembuhkan kulitku.

Aku melihat jajaran awan yang tak pernah hadir sebelumnya. Aku melihat keluarga burung yang sekarang tak lagi terselimuti merah mendidih, bertengger di rongga rongga menhir pemujaan yang mereka sebut sebagai gereja.

Aku melihat sebuah kota yang pernah bahagia, dan mendapatkan kesempatan sekali lagi untuk membangun hal serupa.

Aku melihat Zurda.

Terlihat ia sedang mengunyah seekor ular, yang tak lagi terbakar namun mati.

Kau tahu, aku selalu benci makhluk tanpa kaki ini. ia selalu berkoar dalam kobar, tentang tubuhku yang pendek dan betapa aku takkan pernah bisa menyakitinya.

Zurda ulurkan tangannya padaku, dengan segera aku meraihnya.

Siapa yang tertawa sekarang, HAH?!! Goblin gila itu berbicara pada sisa mayat ular mati yang terkulai di tangannya. Jadi ini alasan mengapa ia begitu ingin kupadamkan kota. Untuk membalaskan dendam tertua yang kota ini mungkin kenal.

Ini, Ia lemparkan potongan kepala ular itu padaku. Kau akan membutuhkannya untuk umpan kerapu langit.

Aku ucapkan terimakasih padanya, namun ia tertawa sambil memukul pelan kepalaku. Ia sedikit melompat untuk bisa lakukan itu.

Tak ada terimakasih kecuali untukmu, bocah bodoh!! Pandanglah dirimu sendiri dengan sedikit lebih tinggi!

Aku tersenyum, berpamitan padanya, lalu membuka gerbang terakhir yang harus kulewati. Menuju lepas pantai udara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s