Kepergian (Untuk Taraksa)

Jauh di pinggiran desa, Taraksa yang dibuang dari desa berusaha menemui satu satunya manusia yang masih ia kenal.

Prajurit tua berbadan besar, selalu dengan bulu bulu binatang besar menyelimuti tubuhnya. Kisah terbuangnya Baluku sang beruang telah menjadi momok bagi warga desa yang mencoba untuk mengingkari kehendak bulan.

Dalam gelap, Gua tempat ia berdiam pun akhirnya memuntahkan sang ksatria.

 

kamu benar-benar akan pergi?

 

Taraksa tertegun. Batu besar yang sebelumnya hanya diduduki lumut dan dedaunan kering, sekarang bertahtakan seorang raksasa dengan pipa tembakau panjang.

 

Aku harus membawanya kembali

Kamu satu-satunya yang bersedih akan kepergiannya

Justru itu… A…

…dia sudah ada di tempat yang lebih baik! Kerajaan bulan membawanya, bukankah itu harapan semua warga desa kita?

Tapi aku…

Mencintainya? Aku sudah dengar itu berkali-kali. Ia bahkan tidak mengenalmu.

Ia mengajakku ikut menari kemarin, (terdiam) aku menolaknya, entah mengapa justru aku menolaknya. Starla pergi tepat setelah itu.

 

Balu yang begitu terkejut. Sungguh ia rasakan kekecewaan Taraksa. Sesal yang tak henti menghantui. Setiap sudut dunia yang mengigigiti jiwa. Namun Taraksa harus siap akan dunia yang akan datang untuk melumat habis seluruh nyawa.

 

Pengecut, Jawaban yang tidak hanya mengejutkan Taraksa, namun pengucapnya.

Aku ingin buktikan bahwa aku tidak seperti itu.

Kau terlalu takut untuk berdansa, kemudian menentang seluruh kerajaan untuk menebusnya? Taraksa, ada perbedaan tipis antara para pemberani dan mereka yang mati.

Paling tidak, aku tidak mati tua berkarat di tempat terkutuk ini.

Lalu kau salahkan desa atas kepergiannya?

Memang begitulah tempat ini! laknat! menyembah rembulan di tepian danau, lelucon macam apa?!

 

Taraksa pergi, kecewa sambil sadari bahwa tidak ada lagi yang mau membantunya. Ia seorang diri.

 

Taraksa!… kau benar-benar akan pergi?

Kau satu satunya yang kuharap bisa mempercayaiku, ternyata juga ragu.

 

Taraksa semakin mantap berlalu mendengar pertanyaan Balu. Dan sebelum Taraksa sempat melanjutkan langkahnya, Balu ucapkan barisan kalimat yang mungkin akan menjadi satu satunya penyelamat perjalanannya.

 

Yang pertama, Lembah Gulita, tempat ketika bola mata tak berguna. Lalu kau akan memasuki
Cermin Aurora, tempat seluruh ingatan malam hari tersimpan. Di lapis ketiga, berdiri pohon besar di utara, menaungi bumi dari ganasnya tombak sang surya. Stelah itu peperangan menantimu. Lapisan langit keempat, berdiri benteng yang menahan gempuran kaisar antariksa. Lapisan kelima, Kota Merah Menyala, kota kembar yang terbakar, takkan tertembus jika apinya tak kau padamkan. Kemudian, lepas pantai udara, entah ada apa disana. Kepala Desa pun gagal mencapainya.

Itu..

 

Sebuah buku tua bersampulkan kulit tebal Balu bacakan perlahan.

 

Catatan perjalanan Kepala Desa, enam lapisan langit yang harus kau arungi.

Tak seharusnya kau membacanya.

Lihatlah dirimu sendiri, berani berkata apa yang seharusnya

 

Baluku tersenyum setengah tertawa. Nadanya menyindir, tapi Taraksa mengerti dibalik tubuhnya yang telah renta, Balu tetaplah seorang Prajurit. Ia percaya pada arti sebuah perjuangan.

Aku akan pergi, Taraksa menepuk pundak Balu, tapi aku akan segera kembali.

Taraksa pergi meninggalkan Balu. Ia sesap asap dari cangkloknya sebelum berseru

 

Jangan berani kamu kembali seorang diri!

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s