Setan dan Fanatisme (via:http://retorika-monolog.blogspot.com/)

EXT.JALAN, MALAM HARI
 
 
 Setan Satu
“Hey, coba lihatlah manusia itu. 
Sepertinya ia tengah memungut sesuatu dari tanah.”
 
Setan Dua
“Ya aku melihatnya.”
 
Setan Satu:
“Apa kau tahu sesuatu yang ia temukan itu?”
 
Setan Dua
“Ya aku tahu. Ia menemukan sebuah kebenaran.”
 
Setan Satu:
 “Sebuah kebenaran? 
Sialan lantas mengapa kau tidak mencegah itu semua terjadi?” 
 
Setan Dua
“Tidak apa. 
Aku akan membiarkan manusia itu mempercayai kebenarannya itu dengan sungguh-sungguh. 
Selanjutnya ia akan percaya bahwa manusia yang berbeda dengan dirinya adalah salah.
Ia akan mengkafirkan mereka. Mengucilkan mereka. Menghujat mereka. 
Menghancurkan rumah ibadah mereka. Membunuh mereka serta memerangi mereka. 
Dan setelah itu, aku hanya perlu membujuknya untuk mengajak manusia lain agar melakukan hal yang sama dengannya.”
 
Setan Satu
“Hahaha… sialan.
Cerdik sekali kau.”
Salah satu dialog favorit saya dalam kategori ‘Dialog Imajiner’ oleh Irvan Aulia.
Kemudian saya bayangkan belasan dari mereka menari nari bersama guru besar dan ahli ahli kitab.
Kemudian saya bayangkan setan mengutuk saya dengan keragu raguan, dengan siksaan ketidak pastian.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s