Setelah kejatuhannya, sang pemuda penembus langit duduk terdiam, tidak jauh dari sebuah gua yang kosong dari beruang namun sesosok yang lebih mengerikan.

Ia tidak memanggil makhluk itu, tidak seperti kali pertama ia ingin temuinya. pemuda itu duduk tanpa nafas yang memburu atau amarah menggebu, ia dan sepotong seruling kayu hanya gumamkan nada yang tak terburu buru.

Namun Baluku tahu, Taraksa datang untuknya.

Mereka terdiam untuk waktu yang cukup lama.

 

Lagipula, apa yang kau takutkan?

Berhenti membaca pikiranku.

Kau tahu aku tidak pernah memiliki kemampuan itu.

Aku pergi untuknya. Menentang segala dengan harapan ketika aku kembali memijak bumi, maka dunia tak akan se asing dahulu lagi.

Kau takut akan dibenci?

Sekarang aku adalah seekor reptil yang enggan mendongakkan kepala. Kafir yang tidak mau berdoa.

Dahulu kau bukanlah siapa siapa.

Lebih baik begitu.

 

Balu menghisap pipa panjangnya. Taraksa termenung. Ia mainkan satu dua nada yang lalu terlepas, berlarian bersama angin lalu hilang ditelan hari yang mulai pekat.

 

Kukira, aku takut akan sepi.

Sepi itu menakutkan ketika kau selalu hidup di keramaian.

Sepi itu menakutkan karena aku masih manusia.

Balu tergelak, tawanya yang berat sama sekali tidak berbau hinaan. Ia justru terdengar menertawakan dirinya sendiri.

Kau kira aku bukan manusia?

Kukira kau adalah seekor beruang penunggu cuaca hangat yang tak kunjung datang.

Anggapanmu akan diriku terlalu hebat. Aku hanyalah seorang anak yang lahir tanpa ibu. Aku adalah anak ayahku. Pria yang diasingkan warga yang kau cinta.

Namun kau tidak membenci mereka.

Kebencian itu tidak diturunkan dalam darah, tapi dalam ajaran. Dan ayahku tidak mengajarkanku sedikitpun tentang keburukan para warga. Mereka adalah makhluk yang berbeda dari aku dan ayah, itu saja.

Termasuk aku?

Kau adalah makhluk yang sama sekali berbeda dari aku, ayah, atau warga desa.

Aku hanya taraksa.

Hanya ‘taraksa’? apakah kau bahkan tahu arti namamu.

Sebuah harapan dititipkan oleh ibuku untukku, entah siapa dirinya aku pun tak tahu. Tapi yang pasti, seekor serigala adalah makhluk yang terus memuja rembulan, menghormati langit dan bernyanyi untuknya. Dan nama Taraksa adalah satu satunya peninggalan ibu. Harapannya tentu tidak terkabul.

Ayahku pernah bercerita. Tentang seekor Amarak (serigala besar pemimpin kawanan lebih dari 100 ekor) yang mati matian melindungi prajurit terakhirnya. Serigala besar itu akhirnya takluk, namun tepat sebelum Balka menusukkan tombaknya, sang serigala melolong, tidak dengan kesedihan namun penuh kemarahan. Seperti seolah ia begitu marah, seolah ia pergi mengutuk sang cahaya putih karena merenggut nyawanya. Maka semenjak itu ayahku selalu berkata padaku, bahwa musuh musuh kita tidaklah bernyanyi untuk kerajaan putih namun bertanya. Dalam tanya nya, para serigala seringkali marah karena merasa terkhianati dengan bungkam sang bulan, dan tentu saja bulan tak menjawab, mereka mendengar namun merasa kuasa diri mereka bukanlah untuk mengulurkan ilmu langit pada makhluk makhluk bertaring, bahwa sinar putih yang menerangi perburuan malam sudah lebih dari cukup. Para serigala yang serakah, warga rembulan yang terlalu sombong, hingga timbullah rasa benci antar mereka.

Peperangan serigala dan bulan. Baru kali ini kudengar.

Tidak. mereka tidak berperang. Kitalah yang hunuskan tombak sambil mengendap. Dan kau tahu, setelah itu rembulan pun tarik satu satunya berkahnya bagi serigala. Pada bulan purnama lah, yang paling terang di tahun 23, Balka akhiri nafas Amarak betina terakhir.

 

Setelah itu taraksa beranjak. Ia ucapkan salam pamit dengan hadapkan punggung tangan ke matanya sendiri. Salam pamit para warga desa. Sebelum ia pergi, ia pun bertanya.

 

Jadi kau berusaha mengatakan, bahwa taraksa benar sebagai namaku?

Yang berusaha kukatakan, bahwa ibumu adalah salah satu prajurit terbaik kami.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s