Humans…

Apakah kau pernah menelan pelangi?, kutanyakan pada remaja yang berkumpul di ujung jalan menuju akademus terbaik kota ini.

Tentu saja, ia menjawab dengan wajah kebingungan namun yakin. Wajahku tentu lebih nanar saat itu, karena akulah Peter sang pengantung pelangi, telah buron selama ribuan tahun namun seluruh remaja di negara ini seolah telah mencicipi apa yang telah kuimpikan untuk lakukan semenjak sekian lama. mengigit kelezatan sepotong mitos.

Duh om, kenapa sih SMA * om sebut pake istilah akademi melulu sih? Baku amat! (bocah remaja menyebutkan angka digit sebuah sekolah yang cukup terkenal di Bandung, namun ada baiknya tidak disebutkan untuk menjaga nama baik) bocah itu merengek. Menjijikan. Sudah kukira, plato tidak seharusnya menginstansikan ilmunya, karena cepat atau lambat murid hanya akan menjadi komoditas untuk mereka yang butuh pengakuan masyarakat atau tumpukan emas.

Kalo om mau pelangi, tuh ada di toko seberang sekolah. Aku pun segera hampiri tempat itu.

Yang kutemukan adalah potongan makanan terlalu manis dengan warna terlalu mencolok, dan merupakan ramuan manjur untuk memupuk penyakit modern bernama diabetes. Anehnya, mereka menyebut itu pelangi. Taste the sweetness of rainbow in your mouth, terpahat secara aneh di setiap bungkus kecilnya, membuat emosiku meledak.

Hei bodoh! Kau tahu aku siapa? Aku peter sang penjaga pelangi! Kemudian dianggap pembangkang karena bermain lotere dan justru mendapatkan hak atas apa yang selama ini kujaga.

Kubanting makanan setengah racun itu.

Penunggu toko itu gemetar. tampaknya ia ketakutan melihat pedang yang kuhunus.

Aku datang dari dunia tanpa sejarah, yang memburuku kecuali kutemukan pelangi baru! Jadi mana? Berikan pelangi sebenarnya! Aku tahu kau sembunyikan benda yang asli di suatu tempat di saku atau balik topi mu! Cepat buka! Tunjukkan aku pelangi yang asli, dengan tujuh warna bukan enam!

Kucabut topi bergaris garis enam warnanya, jumlah tepat sama dengan yang melintang di makanan, tidak ada nila disana.

Tidak ada apa apa. Kemudian ia pun pingsan. Reaksi yang cukup umum untuk manusia yang tersentuh pedang goblin.

Reaksi yang mengecewakan.

Jika benar ia manusia, maka kemungkinan hampir semua makhluk yang kutemui sebelumnya juga manusia. Manusia cenderung berkoloni dengan sesama, mirip tikus atau semut. Dan mereka kelas yang terlalu rendah untuk bisa menempa pelangi. Kugigit makanan tadi, hanya untuk berjaga jaga. Rasanya persis seperti dugaanku, terlalu manis.

Kemudian aku keluar dari toko bertajuk Rainbows & Co. tersebut, menyentuhkan pedang pada beberapa makhluk yang kutemui dan semuanya pingsan. Beberapa bocah akademus berteriak terlalu keras hingga terpaksa kurobek tenggorokannya. Sungguh aku kecewa. Aku terjebak di masa ketika manusia benar benar bodoh dan hanya mengandalkan benda berlambang apel menyala nyala di tangan mereka. Kuinjak benda itu sambil membuka portal ke era lainnya.

Such a waste of time

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s