Cerita Starla (alternate)

“Would you love me just for a little while?”

I asked, chanting the melody towards the distant sky.

Shall the goddess of night whisper my plea to his ear?

I know not that he would stop.

Hoping that the sky will tell him that he is a wolf chasing nothing.

I can never be for him.

 

Telah habis waktu. Telah habis seperti biasa, cahaya harus selesai terangi malam.

Pernahkah kau bayangkan, sebuah kerajaan dengan kastil berkilauan putih gemilang, dengan prajurit prajurit tersumpah untuk terus terang, pilar kokoh bertahtakan cahaya dan kedua gerbang yang jika terbelah akan pancarkan silau tak tertanggung – hingga malam malam, bahkan jauh di sebuah desa tak berdaya, bisa terang, bisa riang, dipenuhi tari dan upacara suci?

Pernahkau kau bayangkan kerajaan tersebut terus mencoba berdiri dengan singgasana tanpa permaisuri?

Kemudian para prajurit yang dahulu hidup untuk harga diri diminta menjadi pencuri. Kepergian sang putri tidak lagi mungkin  mereka tanggung seorang diri. Monarki tertinggi sang langit pun akhirnya memohon kurban. Satu di setiap hari ke dua puluh tujuh atau lebih.

Starla tidak perlu membayangkannya.

Starla ada disana. meniti tangga panjang yang ia tahu dahulu benderang, yang sekarang hanya garis garis hitam layu dan busuk.

Begitu indah. Tempat ini dahulu amat indah. Namun puing puing lah yang  Starla lihat, jejak peninggalan serta bukti lemahnya sang bulan. Tempat yang sekarat, pernah suatu waktu berikan perlawanan namun malam terlalu kuat.

Apalah arti keras kepala ketika dunia menggariskan nasib, bertahan hanya menjadi angan, dan bulan harus menerima bahwa wanita yang ia cintai telah pergi.

Kali ini ia memilih Starla. Abdi setia raja menculik jasadnya kemarin. Menuntunnya masuk ke dalam kastil, menuju peristirahatan terakhir, sebuah kursi kerajaan yang nyaman, yang menimang-nimang agar Starla terus tenang, istana ini terlalu cantik untuk janjikan pengorbanan penuh siksa.

Duduklah seorang warga desa disana. Hanya begitu. Sesederhana itu. Untuk beberapa lama hanya ada kehangatan hingga beberapa tetes darah hitam mengalir dari mata. Starla bertanya kenapa? Penasihat raja tertunduk, berbisik pada Starla karena kau bukan dirinya.

Starla sadar. Dirinya tidak akan kembali. Tidak apa. Mungkinkah tanpa Starla maka akan ada gelap yang menghantui, hitam yang menelan bintang, manusia yang berlari tanpa bisa memandang indahnya dunia di kala malam. Malam. Malam akan kembali identik dengan mala jika Starla tak rela. Maka tidak apa apa. Ia rasa ia tidak apa. Satu nyawa untuk seluruh dunia tentu adil. Starla seharusnya bahagia.

Tapi aku akan pergi, Taraksa. Mengapa justru isak tangis yang menjawab. Tak ada daya. Tidak ada suara. Air mata. Meronta meski dalam hati, betapa Starla rela berikan tubuhku demi purnama. Demi desanya yang bergembira, demi nyanyian yang selalu  dikumandangkan dengan senyum. Sungguh terasa. Dinginnya angin gunung yang tak mereka hiraukan karena hangatnya tawa, anak anak bermain bersama para tetua, pemuda desa menunjukkan kemampuan berdansa untuk menarik perhatian gadis gadisnya. Starla pun telah siap untuk pergi.

Hingga sayup sayup terdengar panggilan namanya.

Taraksa…

Kembalilah. Berhenti. Kumohon.

Betapa berat Starla relakan jiwa semakin Taraksa mendekat. Namun ia mendengar Starla. Namun ia mengingat Starla. Air mata hitam terus mengalir, membasahi sekujur tubuh selubungi kulit menuju hita. Kastil yang menyala redup perlahan lahan. Hanya ada tangis setelah itu. Pergilah. Pulanglah. Tak ada lagi yang menunggumu.

Dan langit malam pun mendengar.

Ia berkata betapa ia ikut jatuhkan air mata, berduka setiap rembulan meminta korban baru. Pengganti kekasihnya yang pergi. Pengganti yang tak akan pernah cukup.

Biar kukabulkan pintamu, ucap langit. Sebuah dansa, Sebuah lagu bukan?

Bukan.

Sebuah tarian takkan berarti. Lagu Starla telah ia nyanyikan berkali kali.

 

Pain as a sorrow.

Can we ever see tomorrow?

I see you run, I see you.

I will never again, see you.

As for this one last moment.

Would you come down and tell me, that you have loved me even for a little while?

 

Starla berkata wahai langit, jika tanpa jiwa ku yang tulus, maka sinar pun tak akan pernah datang.

Bulan tak cukup kuat untuk itu. Ialah korban, namun hanya dengan sukarela.

Dan tentu aku rela, langit.

Tapi izinkan ia tembus lapisanmu, deritanya sudah cukup. Berhenti lahap dirinya, karena bahkan seberapa kuat ia memaksa, engkau langit, menyambut dengan taring terlalu tajam, menerpa dengan rahang terlalu lebar.

Biarkan satu pertemuan. Aku ingin menatap wajahnya untuk terakhir kali. Setelah itu aku milkmu.

Dan langit pun membuka rahang, sarungkan taring.

Dan Starla pun tatap wajahnya, dengan penuh air mata namun tentu hanya hitam yang bisa ia pandang.

Setelah itu Starla tenggelam. Pergi dan bekelana menjadi serpihan dandelion. Di setiap pucuknya, rembulan temui sosok sang permaisuri yang selama ini hanya hadir dalam mimpi. Ia rasakan kehadiran wanita yang ia cintai, meski hanya sesaat.

Rembulan bagi sinarnya pada dunia malam itu, namun sesekali dalam setiap waktu, ia berikan sang sabit, titipkan senyum hangat Starla untuk Taraksa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s