Dear Hugo

I Dreamed a Dream

Kumimpikan sebuah mimpi.

 

Namun juang itulah mimpi. Bendera berkibar atau pelor yang melaju dengan kecepatan konstan; tetap bisa membunuh pemberontak penuh peluh.

Sambil hadir diplomasi. Atau sendok garpu yang dibersihkan oleh pesuruh. Pesuruh yang menjadi pesuruh setelah mereka diberjanjikan seperti itu.

Dan mereka berdoa ‘Tuhan akan pemurah’

Di tanah tempat ‘Tak ada nyanyian gagal dikumandangkan, tak ada anggur gagal dicicipi’

 

Tapi mohon. Tapi perjanjian. Tapi pucuk senapan.

Pada akhirnya hanya berakhir di panggung gemerlapan, tanpa tahu mana yang dahulu benar benar mati, mana yang lahir dari keperluan dramaturgi.

 

Kemudian aku pun sadar bahwa aku memimpikan sebuah mimpi.

Akan panggung yang bertuhan, berontak dan bersumpah.

Akan nyanyian seusai tulisan dan pementasan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s